Asbabun Nuzul Surat al-Baqarah Ayat 222, Wanita Haid dalam Tradisi Yahudi
Cari Berita

Advertisement

Asbabun Nuzul Surat al-Baqarah Ayat 222, Wanita Haid dalam Tradisi Yahudi

Duta Islam #04
Senin, 01 Juli 2019

Penjelasan asbabun nuzul Surat al-Baqarah ayat 222 (sumber: istimewa)
Asbabun nuzul Surat al-Baqarah ayat 222 berkaitan dengan permasalah haid. Di dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa haid merupakan adza atau kotoran.

DutaIslam.Com - Surat al-Baqarah ayat 222 menjelaskan bahwa implikasi dari seorang wanita yang sedang haid berkaitan dengan hubungannya denga suami. Di mana wanita yang sedang haid tidak diperkenankan untuk berhubungan badan.

Surat al-Baqarah ayat 222 turun bermula dari kisah kaum Yahudi. Di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Imam Ahmad bin Hanbal menceritakan asbabun nuzul Surat al-baqarah ayat 222 dari riwayat Anas.

Baca: Penjelasan Haid dan Hikmahnya Bagi Perempuan

Diceritakan di dalam hadis tersebut, sudah menjadi tradisi di kalangan bangsa Yahudi jika seorang perempuan haid, maka sang suami tidak akan memakan masakan istrinya yang haid dan bahkan dilarang kumpul bersamanya.

Melihat tradisi kalangan Yahudi seperti itu, salah satu sahabat bertanya kepada Rasulullah. Rasul sempat terdiam sejenak mendengar pertanyaan tadi, hingga turunlah Surat al-Baqarah ayat 222 sebagai jawaban atas pertanyaan sahabat tersebut.

Kemudian setelah turun ayat itu, nabi pun berkata: "Lakukanlah segala sesuatu (kepada isteri yang sedang haid) kecuali bersetubuh". Pernyataan nabi ini membuat orang-orang Yahudi kaget dan shok.

Pasalnya, perihal haid oleh orang Yahudi dianggap tabu, akan tetapi Rasulullah justru mengatakan bahwa haid adalah alamiyah dan menyikapinya berberda dari tradisi Yahudi selama ini.

Baca: Permulaan Perempuan Haid

Tentunya, pernyataan Rasulullah tersebut mendapat reaksi yang jelek dari orang Yahudi. Mereka mengatakan bahwa apa yang dikatakan Muhammad adalah bentuk penyimpangan dari tradisi besar mereka.

Reaksi orang Yahudi tadi didengar Usaid bin Hudair dan Ubbad bin Bisyr, kemudian mereka melaporkan kepada Rasulullah SAW. Lalu, wajah beliau berubah ketika mendengar cerita Usaid bin Hudair dan Ubbad bin Bisyr, sehingga mereke berdua menduga kalau Rasulullah marah kepada mereka.

Mereka berdua langsung keluar (sebelumnya) beliau menerima air susu hadiah dari mereka berdua. Lalu Rasulullah mengutus orang untuk mengejar mereka dan memberi mereka minum susu, sehingga mereka berdua tahu bahwa rasulullah tidak marah kepada mereka.

Baca: 3 Jenis Darah Kewanitaan Menurut Ulama Fikih

Darah haid sebagaimana dijelaskan hadis nabi yang diriwayatkan Imam Bukhori merupakan spesialis untuk perempuan.

Diceritakan, Sayyidah Aisyah saat melakukan perjalanan untuk melakukan ibadah haji bersama Nabi Muhammad SAW, beliau keluar darah haid ketika sampai di Sarif. Beliau merasa sedih dan menangis mendapati diirnya haid.

Melihat Sayyidah Aisyah menangis, Rasulullah pun bertanya, mengapa Engkau menangis? Aku menjawab: sepertinya aku tidak bisa berhaji tahun ini. Lalu Rasulullah bertanya lagi, Apakah Engkau sedang haid? Saya menjawab, Ya. Kemudian beliau bersabda:

فان ذلك شئ كتبو اهلل على بنات ادم

"Itu (dara haid) adalah sesuatu yang telah allah tetapkan untuk anak-anak perempuan Adam".

Baca: Darah Haid yang Terputus Tak Teratur, Antara Haid dan Istihadlah

Secara bahasa haid bermakna al-sayalan atau mengalirnya sesuatu. Kata haid di dalam kitab Munjid mempunyai padanan yang berasal dari kata ata ḥaḍa-ḥaiḍan yang diartikan dengan keluarnya darah dalam waktu dan jenis tertentu.

Dalam al-Qur'an lafad haid disebutkan empat kali dalam dua ayat; sekali dalam bentuk fi'il muḍari present and future (yaḥiḍ) dan tiga kali dalam bentuk isim maṣdar (al-maḥiḍ). Sedangkan secara istilah fikih, haid adalah darah yang keluar dari ujung rahim perempuan melalu farji dalam kondisi sehat dan bukan karena faktor melahirkan. [dutaislam.com/in]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah