3 Jenis Darah Kewanitaan Menurut Ulama Fikih
Cari Berita

Advertisement

3 Jenis Darah Kewanitaan Menurut Ulama Fikih

Duta Islam #04
Minggu, 23 Juni 2019

Penjelasan 3 jenis darah kewanitaan (sumber: istimewa)
Persoalan haid dipandang sebagian orang merupakan permasalahan yang rumit. Pasalnya, darah haid mempunyai jenis warna yang berbeda. Perbedaan warna tersebut dapat menentukan suatu darah dinamakan haid atau tidak.

DutaIslam.Com - Ditambah lagi darah yang keluar dari seorang perempuan ada beberapa macam. Setidaknya ada tiga macam darah yang melekat pada perempuan. Ketiga darah itu secara hukum fikih mempunyai hukum yang berbeda pula.

Memahami ketiga jenis darah tersebut merupakan suatu hal penting di masyarakat. Sebab, persoalan darah bagi perempuan berkaitan dengan sah dan tidaknya suatu ibadah. Misalnya, berkaitan dengan pelaksanaan shalat, haji, puasa, membaca al-Quran, dan sebagainya.

Baca: Permulaan Perempuan Haid

Maka, tidak heran jika di masyarakat persoalan darah yang keluar dari organ kewanitaan sering ditanyakan. Penulis juga kerapkali ditanya tentang persoalan darah dari masyarakat. Hal itu seringkali ditanyakan karena berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Islam secara implisit telah membincang persoalan darah di dalam hadis atau al-Quran. Para ulama berdasarkan pada hadis dan al-Quran menjelaskan secara terperinci macam-macam darah yang keluar dari organ kewanitaan.

Di dalam kitab matan taqrib dijelaskan, bahwa jenis darah yang keluar daro organ kewanitaan terbagi menjadi tiga macam:

ويخرج من الفرج ثلاثة دماء دم الحيض والنفاس والاستحاضة

“Darah yang keluar dari kelamin wanita ada tiga: darah haid, darah nifas, dan darah istihadhah.”

Baca: Darah Haid yang Terputus Tak Teratur, Antara Haid dan Istihadlah

Darah haid dan nifas merupakan darah yang normal keluar dari seorang perempuan. Ketika seorang perempuan mencapai umur tertentu atau dalam kondisi tertentu darah tersebut pada masanya akan keluar. Secara medis, keluarnya darah ini merupakan kondisi yang fisiologis bagi tubuh.

Darah haid sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Kifayah al-Akhyar, merupakan darah yang keluar dari kelamin perempuan dalam keadaan sehat. Di mana darah tersebut keluar bukan disebabkan faktor wiladah.

فالحيض هو الدم الخارج من فرج المرأة على سبيل الصحة من غيرالولادة

Darah haid berkaitan dengan kerja hormon di dalam tubuh manusia. Sehingga, siklus darah haid bagi seorang perempuan akan rutin keluarnya. Dalam pandangan fikih, darah haid mempunyai batas minimal dan maksimal.

Imam Syafi'i setelah melakukan riset lapangan merumuskan batas minimal haid adalah satu hari satu malam. Batas keumuman haid berkisar antara 6-7 hari. Kemudian batas maksimal haid adalah lima belas hari.

Baca: Begini Dampak Nikah Muda Jika Belum Siap Mental

Hasil penelitian ini selanjutnya menjadi rujukan ulama madzhab syafi'i dalam menelaah darah haid. Penjelasan terkait hasil riset Imam Syafi'i tersebut dapat ditemukan di berbagai kitab fikih bermadzhab syafi'i.

Sedangkan menurut medis, masa akhir seseorang tidak lagi haid ketika ketika seorang perempuan telah mencapai masa menopause yang mana fase produksi sel telur (ovum) oleh organ ovarium telah berhenti.

Jenis darah yang kedua yang keluar dari organ kewanitaan adalah darah nifas. Di dalam kitab Kifayah al-Akhyar disebutkan, darah nifas merupakandarah yang keluar dari organ kewanitaan perempuan setelah proses melahirkan.

وَالنّفاس هُوَ الدَّم الْخَارِج عقب الْولادَة

Masa keluarnya darah nifas paling sedikita alah satu keluaran. Sedangkan masa keumuman keluarnya darah haid yaitu empat puluh hari. Kemudian masa paling lama keluarnya darah nifas adalah 60 hari.

Baca: 4 Alasan Menikah Muda Itu Sangat Menyenangkan

Selanjutnya jenis darah yang ketiga yang keluar dari organ perempuan dinamakan darh istihadhah. Darah ini seringkali disebut sebagai darah penyakit. Di dalam matan taqrib dijelaskan, bahwa darah istihadhah keluar pada masa selain keluarnya darah haid dan nifas.

والاستحاضة هو الدم الخارج في غير أيام الحيض والنفاس

“Darah istihadlah ini adalah darah yang keluar di luar masa rutin haid, serta bukan disebabkan setelah melahirkan.”

Seorang perempuan dapat mengalami darah istihadhah bisa terjadi sewaktu-waktu. Darah ini sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Kifayah al-Akhyar disebabakan adanya penyakit. Perempuan yang mengalami keluarnya darag istihadhan tetap berkewajiban melaksanakan shalat dan lain-lain.

Berberda dengan perempuan yang sedang haid atau nifas, mereka tidak malah diharamkan melakukan shalat, membaca al-Quran dan lain sebagainya. Demikian penjelasan terkait jenis darah yang keluar dari organ kewanitaan. Semoga dapat bermanfaat bagi perempuan untuk memahami lebih dalam lagi. [dutaislam.com/in]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah