Dutaislam.com mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa full Ramadhan 1438 H. Semoga berkah dan lancar semua!

Paling Baru

Terbaru

editorial

hujjah

opini

Hoax

hadits

al-qur'an

sejarah

litera

carita

ijazah

Terbaru

  • Membongkar Manuver Busuk Saudi Arabia Mengubah Indonesia Jadi Sarang Wahabi Radikal

    Admin: Duta Islam → Rabu, 14 Juni 2017
    Sumber foto: SINDOnews
    Oleh Stephen Kinzer

    DutaIslam.Com - Beberapa bulan yang lalu, gubernur kota terbesar di Indonesia, Jakarta, sepertinya akan terpilih kembali dengan mulus meski dia adalah seorang Kristiani di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

    Namun tiba-tiba segalanya berubah menjadi runyam. Berdalih ucapan yang dibuat oleh gubernur tentang Al-Quran, massa yang merupakan orang-orang muslim yang dipenuhi emosi turun ke jalan untuk mengutuk sang gubernur. Dalam waktu yang singkat, dia kalah dalam pemilihan, ditangkap polisi, dituduh melakukan penghinaan, dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

    Peristiwa ini sangat mengkhawatirkan karena Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, telah lama menjadi salah satu negara dengan karakteristik paling toleran. Islam Indonesia, seperti halnya tercermin dalam beragam sistem kepercayaan yang ada di kepulauan (Indonesia) yang luas itu, bersifat sinkretis, lembut, dan berpikiran terbuka.

    Lengsernya Gubernur DKI Jakarta yang mengagetkan itu mencerminkan hal yang paradoks, yakni intoleransi, kebencian sektarian, dan penghinaan terhadap demokrasi. Fundamentalisme sedang menemukan momentumnya untuk tumbuh subur di Indonesia. Hal ini tentunya tidak terjadi secara alami.

    Arab Saudi telah berusaha keras selama puluhan tahun untuk menjadikan Indonesia jauh dari pendulum Islam moderat untuk menuju pendulum Wahabisme yang keras, yaitu agama negara di Arab Saudi. Kampanye Saudi untuk mengantarkan indonesia kepada titik itu dilakukan dengan sabar, beragam cara ditempuh dan (tentu) berhamburan dengan uang. Ini menjadi cerminan negara yang lain bahwa Saudi telah berhasil melaksanakan manuver politiknya di negara-negara Muslim di Asia dan Afrika.

    Presiden-presiden Amerika secara turun temurun telah membuat kita merasa yakin dan mantap bahwa Arab Saudi adalah teman kita (Amerika, red) dan yang selalu berharap baik atas kondisi kita. Padahal kita tahu bahwa Osama bin Laden dan sebagian besar pembajak kejadian 9/11 adalah orang-orang Saudi, dan bahwa, seperti halnya yang ditulis oleh Sekretaris Negara Hillary Clinton dalam sebuah telegram diplomatik sekitar delapan tahun yang lalu, "para pendonor dana di Arab Saudi merupakan sumber pendanaan paling signifikan bagi terbentuknya kelompok-kelompok teroris Sunni di seluruh dunia".⁠⁠⁠⁠

    Peristiwa-peristiwa terkini di Indonesia memberikan titik terang mengenai proyek Saudi yang ternyata lebih berbahaya daripada sekedar mendanai para teroris. Arab Saudi menggunakan kekayaannya, yang sebagian besar juga berasal dari Amerika Serikat, untuk mengubah seluruh negara-negara di dunia ini menjadi sarang sarang Islam radikal. Dengan menolak untuk memprotes atau bahkan secara resmi mengakui proyek yang luas jangkauannya ini, kita membiayai sendiri para pembunuh - dan teror global ini.

    Pusat kampanye Arab Saudi untuk mengubah orang-orang Indonesia menjadi Islam Wahabi adalah universitas yang memberikan bebas biaya kuliah di Jakarta yang dikenal dengan singkatan LIPIA. Seluruh bahasa pengantar menggunakan bahasa Arab, yang diberikan oleh para penceramah dari Arab Saudi dan negara-negara terdekat.

    Perbedaan Gender dipisahkan; cara berpakaian yang sangat tegas diberlakukan. Musik, televisi, serta "tertawa keras", dilarang. Para mahasiswa belajar dengan cara yang sangat konservatif dari ajaran Islam; mendukung amputasi tangan untuk pencuri, rajam untuk pezina, dan hukuman mati bagi kaum gay serta para penghujat (agama).

    Banyak mahasiswa yang datang dari berbagai pondok yang jumlahnya lebih dari 100 pondok yang didanai Arab Saudi di Indonesia, atau paling tidak mereka pernah mendatangi satu dari 150 masjid yang dibangun oleh Saudi di Indonesia. Hal yang paling menjanjikan adalah pemberian beasiswa untuk belajar di Arab Saudi, yang setelah lulus mereka sepenuhnya siap untuk menimbulkan malapetaka sosial, politik, dan agama di tanah air mereka. Beberapa dari mereka mempromosikan kelompok teror seperti Hamas Indonesia dan Front Pembela Islam, yang belum pernah ada sebelum orang-orang Saudi tiba.

    Karena menggebu ingin memanfaatkan kesempatan, Raja Salman dari Arab Saudi melakukan kunjungan sembilan hari ke Indonesia pada bulan Maret, disertai rombongan yang berjumlah 1.500 orang. Saudi setuju untuk mengizinkan lebih dari 200.000 orang Indonesia melakukan ziarah ke Mekkah setiap tahun -jumlah yang lebih banyak dibandingkan dari negara-negara lain-, dan Saudi meminta izin untuk membuka cabang-cabang baru universitas LIPIA mereka.

    Beberapa orang Indonesia berusaha untuk menyerang melawan serangan Saudi terhadap nilai-nilai ajaran tradisional, namun sulit kiranya untuk menolak izin pendirian universitas/sekolah agama baru ketika Indonesia tidak dapat memberikan alternatif model pendidikan sekuler yang layak.

    Di Indonesia, sebagaimana halnya di negara-negara lain yang didalamnya orang-orang Saudi aktif mempromosikan Wahabisme -termasuk di Pakistan, Afghanistan, dan Bosnia- kelemahan dan korupsi pemerintahan pusat menciptakan kaum pengangguran yang  tidak terelakkan dan mudah tergoda oleh iming-iming janji makanan gratis dan sebuah tempat bagi para tentara Tuhan (syahid).

    Tumbuh suburnya fundamentalisme yang sedang dalam proses mengubah Indonesia, mengajarkan beberapa hal. Pertama adalah hal yang sudah sangat lazim kita ketahui, tentang tabiat pemerintah Saudi. Saudi adalah kerajaan monarki absolut yang didukung oleh salah satu sekte keagamaan paling reaksioner di dunia.

    Hal ini memberi angin segar bagi para pemuka agama untuk mempromosikan merek anti-Barat, anti-Kristen, anti-Semit, tentang militansi agama di luar negeri. Sebagai gantinya, para pemuka agama tersebut menahan diri untuk tidak mengkritik monarki Saudi atau ribuan pangeran yang bergaya hidup mewah.

    Orang-orang Saudi yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga yang berkuasa untuk memberikan dukungan penting kepada kelompok-kelompok seperti Al Qaeda, Taliban, dan ISIS. Fakta ini harus berada di garda depan pikiran kita setiap kali kita mempertimbangkan kebijakan kita terhadap Timur Tengah - termasuk saat kita memutuskan apakah akan berpihak pada orang Saudi dalam perselisihan baru mereka dengan negara tetangga Qatar.

    Keberhasilan Arab Saudi dalam mengatur kembali Indonesia menunjukkan betapa pentingnya pertempuran global atas ide-ide besar. Banyak para pelaku kebijakan di Washington yang mempertimbangkan bahwa pengeluaran (budget) untuk proyek budaya dan "soft power" lainnya sebagai bentuk pemborosan. Saudi tidak berpikir demikian. Mereka mengucurkan uang dan sumber daya untuk mempromosikan pandangan dunia (worldview) mereka. Kita semestinya harus melakukan hal yang sama.

    Pelajaran ketiga yang Indonesia ajarkan saat ini adalah tentang kerentanan demokrasi. Pada tahun 1998, kediktatoran militer Indonesia yang represif memberi jalan pada suatu sistem baru, berdasarkan pemilu bebas, yang menjanjikan hak sipil dan politik untuk semua orang. Para penceramah radikal yang sebelumnya telah dipenjara karena telah menumbuhkan kebencian keagamaan, merasa diri mereka bebas menyebarkan racun mereka.

    Demokrasi memungkinkan mereka menempa massa secara besar-besaran yang menuntut kematian bagi orang murtad dan pembangkang. Partai politik mereka berkampanye dalam pemilu yang demokratis sebagai hak untuk berkuasa dan menghancurkan demokrasi. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan bagi mereka yang meyakini bahwa satu sistem politik adalah yang terbaik dan paling cocok untuk semua negara dalam segala situasinya.

    Kampanye Saudi untuk usaha radikalisasi Islam global juga membuktikan bahwa sekian peristiwa yang membuat bumi terguncang sering terjadi secara perlahan dan tidak frontal. Media pers, yang dengan penuh perhatian memfokuskan diri untuk menyuguhkan berita hari ini, sering kali menghilangkan sisi cerita yang lebih dalam dan lebih penting.

    Para sejarawan jurnalistik terkadang menunjuk ke arah utara "migrasi besar" Afrika-Amerika setelah Perang Dunia II sebagai cerita penting yang oleh beberapa jurnalis diperhatikan dikarenaan peristiwa ini merupakan sebuah proses yang lamban dibandingkan dengan berita acara satu hari.

    Hal yang sama berlaku dalam kampanye panjang Arab Saudi untuk mengajak 1,8 miliar muslim di dunia kembali ke abad ke-7. Kita hampir tidak menyadarinya, tapi setiap hari, dari Mumbai ke Manchester, kita bisa merasakan efeknya. [dutaislam.com/ab]

    Stephen Kinzer, anggota senior Watson Institute for International and Public Affairs di Brown University, diterjemahkan oleh Luthfi Rahman (tim Dutaislam.com) dari situs Bostonglobe.com.

  • Sembilan Mafsadat (Kerusakan) Sekolah Lima Hari (FDS)

    Admin: Duta Islam →

    Oleh H.A. Helmy Faishal Zaini

    DutaIslam.Com - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menerapkan kebijakan kegiatan belajar mengajar lima hari harus dikaji ulang. Berbagai penolakan dan resistensi masyarakat yang terus menguat adalah early warning bagi masa depan sistem pendidikan nasional kita. Setelah mencermati secara seksama poin-poin kebijakan ini, kami melihat ada lebih banyak potensi kerugian (mafsadat) dibanding kebaikan (maslahat)-nya.

    Kami mencatat sedikitnya ada 9 (sembilan) potensi kerugian yang bisa diastikan terjadi jika penerapan proses belajar mengajar lima hari ini terus dipaksakan.

    Pertama, terkait beban belajar yang akan makin memberatkan siswa. Hasil jajak pendapat dengan sejumlah pakar psikologi di Jawa Tengah beberapa waktu lalu menyimpulkan, bahwa anak usia SD setelah jam 13.00 daya serap ilmunya cenderung menurun. Ini artinya jika kegiatan belajar mengajar ditambah sampai jam 16.00 maka keterserapan pendidikan pada anak usia dini tidak akan maksimal.

    Kedua, terkait aspek mental spiritual. Fakta dunia pendidikan dasar kita selain SD dan MI juga terdapat pendidikan pesantren dan Madrasah Diniyah (Madin) yang berfungsi memberikan penguatan pelajaran di bidang agama, terutama terkait praktik muamalah dan ubudiyyah sehari-hari.

    Keberadaan lembaga pendidikan pesantren dan Madin ini telah banyak memberikan kontribusi pada pembentukan kepribadian dan watak mental spiritual anak. Di banyak tempat, Madin biasanya dilaksanakan sore hari. Jika sekolah diberlakukan sampai sore hari maka praktis mereka tak bisa mengikutinya. Sebagai gambaran, di Jawa Tengah saja saat ini terdapat 10.127 Madin dan TPQ, dimana 90 persen siswanya adalah anak usia SD dan SMP.

    Ketiga, terkait aspek akademik. Aturan belajar mengajar lima hari tentu harus diikuti oleh pembenahan kurikulum sekolah. Sementara mengubah kurikulum lama yang sudah secara sistematik diterapkan di sekolah tentu tidak semudah membalikkan tangan. Sebab skema kurikulum juga berkait erat dengan tingkat kemampuan rata-rata siswa dalam menyerap materi pelajaran di sekolah.

    Keempat, terkait aspek kompetensi non akademik. Konsep lima hari sekolah, akan memutus kreatifitas anak dalam penguatan ilmu non akademik. Semisal, anak yang memiliki keunggulan bidang seni, budaya, olahraga, tentu harus ikut kegiatan les sore hari. Saat kebijakan ini diterapkan tentu akan memakan habis waktu mereka untuk penguatan ilmu non akademik.

    Kelima, terkait hak atas dunia sosial anak. Penambahan jam belajar mengajar selain mengambil jam belajar di luar sekolah, pada saat yang sama juga merampas jam bermain anak. Kesempatan mereka untuk membangun dunia sosial dengan sesama umurnya dengan demikian akan hilang. Bukankah ini bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi anak untuk mengembangkan psikomotorik dan afektif mereka sebagai calon generasi bangsa?

    Keenam, terkait aspek ekonomi. Penambahan jam belajar sekolah praktiknya juga berhubungan dengan penambahan uang saku anak di sekolah. Dan ini tentu saja menambah beban finansial orang tua. Kalau jam makan siang tidak bisa dilakukan dirumah alias harus membeli di sekolah, budget uang saku bisa-bisa tiga kali lipat dari biasanya.

    Ketujuh, terkait aspek keamananan. Ketika siswa harus pulang sore hari tentu juga harus dipikirkan ulang jaminan terhadap keselamatan dan keamanan jiwanya. Siswa yang jarak perjalanan dari rumah ke sekolahnya membutuhkan waktu 1 jam misalnya, kalau jam pulang sekolah pukul 16.00 akan sulit pulang tepat waktu karena harus bertaruh dengan kepadatan arus di jalan raya. Di mayoritas kota besar, jam 16.00-17.00 adalah jam-jam macet karena bersamaan dengan jam karyawan pulang kerja. Dari sisi keamanan akan sangat rawan kalau anak setiap hari harus pulang sekolah kelewat petang.

    Kedelapan, dari aspek sarana prasarana penunjang. Seperti diketahui untuk sekolah di daerah-daerah tertentu masih sulit terakses sarana transportasi umum. Ini menjadi masalah lanjutan kalau jam pulang sekolah berubah. Masalah lain terkait keterbatasan ruang kelas. Di Lombok Barat misalnya, kami kerap mendapat keluhan dari beberapa Kepala Sekolah karena ruang-ruang kelas di sekolah mereka sudah lama dibagi penggunaannya. Pagi digunakan sekolah formal dan sore Madrasah Diniyah. Jadi mereka tidak mungkin melaksanakan sekolah sampai sore hari.

    Kesembilan, aspek ketahanan keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga tak mampu, biasanya usai pulang sekolah selalu membantu orangtua, ada yang menjadi buruh tani, berdagang, nelayan, dan sebagainya. Jika anak-anak ini harus bersekolah hingga sore hari maka dua hal sekaligus membebani orang tua. Pertama, bertambahnya kebutuhan uang saku sekolah, kedua berkurangnya penghasilan lantaran berkurangnya tenaga dalam mencari nafkah.

    Dengan berbagai pertimbangan tersebut di atas, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Muhadjir Effendi, kami dengan hormat meminta agar dikaji ulang dan dibatalkan. Ketegasan dan kearifan sikap pemerintah penting dan harus segera ditunjukkan untuk menghentikan kegaduhan dan menjaga kondusifitas penyelenggaraan pendidikan nasional kita. Kami siap duduk bersama untuk memberikan masukan dan menemukan solusi terbaik bagi kebijakan kontroversial ini. [dutaislam.com/ab]

    H.A. Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

  • Doa Niat Puasa Wajib, Romadhona atau Romadhoni?

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Sering kali kita mendengar niat puasa itu dilantunkan dalam bentuk pujian sebelum shalat. Namun kita sering dibingungkan sebab beberapa komunitas masyarakat khususnya warga NU membacanya dengan beberapa versi. Berikut niat puasa dalam bahasa Arab yang paling umum digunakan:

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَداَءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضاَنِ هَذِهِ سَنَةِ فََرْضاً ِللهِ تَعاَلىَ

    Artinya: Saya niat puasa esok pagi menunaikan fardu puasa bulan Ramadhan tahun ini, Fardu karena Allah Swt. 

    Baca: Bacaan Niat Puasa Sebulan dalam Lima Bahasa

    Ada yang membacanya Romadlona, ada yang membacanya Romadloni. Lantas manakah yang benar?

    Lafal "Romadlon" dalam kajian ilmu Nahwu merupakan bentuk kategori isim ghair munsharif karena mempunyai akhiran huruf alif dan nun. Dalam ilmu Nahwu, isim ghair munsharif mempunyai pembahasan dan hukum yang berbeda dengan isim-isim yang lain.

    Selain tidak bisa menerima tanwin, tanda baca untuk isim ini ketika berkedudukan ‘jer/khafadl’ itu dibaca fathah. Sebagaimana yang diterangkan dalam satu bait alfiyah karangan Ibn Malik:

    و جر بالفتحة مالا ينصرف مالم يضف او يك بعد ال ردف

    Artinya: setiap isim yang tidak munsharif dijerkan dengan harakat fathah, selama tidak mudlof (diidlofahkan) atau tidak jatuh sesudah al.

    Jika melihat kedudukan lafad ‘Romadlon’ dalam lafal niat di atas, maka ia berkedudukan sebagai mudlof ilahi dari lafad Syahr. Tetapi ia juga menjadi mudlof pada lafad Hadzihis Sanati.

    Secara kaidah Nahwu, seharusnya lafad "Romadlon" dibaca menggunakan harakat kasrah (harakat asli jer) menjadi Romadloni bukan Romadlona. Sehingga untuk kasus ini, jernya isim ghair munsharif (lafal Romadlon) yang menggunakan fathah tidak berlaku lagi karena lafad Romadlon menjadi mudlof terhadap lafad hadzihis sanati.

    Dalam kitab-kitab fiqh juga diterangkan cara membacanya dengan harakat kasrah (Romadloni, di antaranya dalam kitab I’anatut Tholibin, Juz 2 hlm. 253). Ketika menerangkan lafal niat puasa Ramadlan, ada penjelasan sebagai berikut:

    …(قوله: بالجر لإضافته لما بعده) أي يقرأ رمضان بالجر بالكسرة، لكونه مضافا إلى ما بعده، وهو اسم الإشارة.

    Artinya: … (ucapan penulis: dengan jer, karena idlofahnya lafad Romadlon terhadap lafad setelahnya) maksudnya lafad Romadlon dibaca jer dengan kasrah, karena kedudukannya sebagai mudlof terhadap lafad setelahnya yaitu isim isyarah.

    Akan tetapi bisa saja lafad Romadlon dibaca menggunakan fathah dengan memberhentikan kedudukannya sebagai mudlof ilahi dari lafad syahr. Dengan syarat, lafal sesudah hadzihis sanah dibaca nashab dengan harakat fathah karena berkedudukan menjadi dharaf zaman (menunjukkan waktu).

    Dengan begitu, maka cara membacanya adalah ‘An ada’i fardli syahri Ramadlona hadzihis Sanata. Namun, yang demikian jarang digunakan oleh kitab-kitab fiqh sebab mayoritas kitab memudlofkan lafal Romadlon pada lafal hadzihis sanati untuk menunjukkan kekhususannya. [dutaislam.com/ahna]

    Source: Imam Turmudzi

  • Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri dan Keluarga Serta Juga Suami

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Karena zakat merupakan ibadah wajib untuk semua umat Islam, sebagaimana kesepakatan empat imam madzhab, maka niat zakat fitrah (baik untuk suami, istri atau anak) diperlukan dalam bentuk lafal atau teks lisan untuk menunjukkannya.

    Begitu pula ketika mengeluarkan akat mal atau zakat penghasilan, ada niat yang perlu diucapkan. Beikut ini adalah niat zakat fitrah dalam bahasa Arab yang disajikan Dutaislam.com kepada umat Islam di Indonesia, sesuai pemahaman ahlus sunnah wal jamaah.

    Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺍَﻥْ ﺍُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻧَﻔْﺴِﻰْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Istri:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Anak Laki-laki:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﻭَﻟَﺪِﻱْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ﺑِﻨْﺘِﻲْ ... ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻨِّﻰْ ﻭَﻋَﻦْ ﺟَﻤِﻴْﻊِ ﻣَﺎ ﻳَﻠْﺰَﻣُﻨِﻰْ ﻧَﻔَﻘَﺎﺗُﻬُﻢْ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Niat Zakat Fitrah untuk Orang yang Diwakilkan:

    ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃُﺧْﺮِﺝَ ﺯَﻛَﺎﺓَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ ..…) ) ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

    Bacaan Doa Ketika Menerima Zakat:

    ﺁﺟَﺮَﻙ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﻋْﻄَﻴْﺖَ، ﻭَﺑَﺎﺭَﻙَ ﻓِﻴْﻤَﺎ ﺍَﺑْﻘَﻴْﺖَ ﻭَﺟَﻌَﻠَﻪُ ﻟَﻚَ ﻃَﻬُﻮْﺭًﺍ

    Soal siapa yang wajib membayar zakat, berikut ini keterangannya menurut Imam Madzhab Empat:

    1. Imam Hanafi: Kepala keluarga (ayah)
    2. Imam Maliki: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    3. Imam Syafi'i: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    4. Imam Hanbali: Dirinya sendiri dan juga membayar untuk orang yang menjadi tanggung jawabnya
    Kapan zakat fitrah wajib dibayar?

    1. Imam Hanafi: Dari sebelum Ramadlan hingga sebelum Shalat Idul Fitri (1 Syawal)
    2. Imam Maliki: Dari 2 hari sebelum hari raya hingga sebelum Shalat Ied
    3. Imam Syafi'i: Dari 1 Ramadlan hingga sebelum Shalat Idul Fitri (1 Syawal). Afdlalnya sebelum Shalat Id didirikan.
    4. Imam Hanbali: Dari 2 hari sebelum hari raya hingga sebelum Shalat Idul Fitri.
    Dibayar dengan makanan pokok atau uang tunai?

    1. Imam Hanafi: Boleh dengan uang tunai atau makanan pokok
    2. Imam Maliki: Makruh dibayar dengan uang tunai
    3. Imam Syafi'i: harus dengan makanan pokok, Tidak boleh dengan uang tunai (al-Bulqini membolehkan)
    4. Imam Hanbali: tidak boleh dengan uang tunai.
    Jika dirasa bermanfaat, silakan share rincian anturan zakat fitrah sesuai uraian madhzab ahlus sunnah wal jamaah di atas, Jazakumullah bagi yang mau menyebarkannya. Terimakasih. [dutaislam.com/ab]

  • Bolehkah Membayar Zakat Fitrah Dengan Uang? Berapa?

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Syahir Mumtaz Alawy

    DutaIslam.Com - Bolehkah membayar zakat fitrah dengan uang? Kalau boleh, zakat fitrah dengan uang berapa? Pertanyaan itu sering muncul menjelang akhir Ramadhan. Hukum membayar zakat fitrah dengan uang itu bermula dari hadits di bawah ini.

    فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - زَكَاةَ الْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ الْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

    Artinya: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau satu sha' gandum, atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang besar dari kalangan orang Islam. Dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang pergi menunaikan shalat ". (HR. Bukhari dan Muslim)

    Pengertian tentang zakat fitrah menurut hadist di atas adalah ketentuan wajib bagi setiap muslim untuk membayar zakat; tidak memandang jenis kelamin dan usia. Perhitungan-nya, besar zakat fitrah yang dibayarkan adalah 1 sha' makanan pokok.

    Satu sha' menurut mazhab Maliki setara dengan empat mudm dimana satu mud sama dengan sebanyak isi telapak tangan sedang jika mengisi keduanya dan lalu membentangkannya (lihat Subulus Salam, hlm. 111) atau sama dengan 675 Gram. Satu Sha 'sama dengan 2.700 gram (2,7 kg). (lihat Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Beirut, Dar al-Fikr, Tt, Juz II, hlm. 910).

    Menurut mazhab Syafi'i, satu sha' sama dengan 693 1/3 dirham (lihat Al-Syarqawi, Op cit, Juz I, hlm. 371. Lihat juga Al-Husaini, Kifayat al-Akhyar, Dar al-Fikr, Juz I, hlm. 295; Wahbah Al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, Dar al-Fikr, Juz II, hlm. 141) yang setara dengan 4 mud (lihat Lisaanul Arab 3/400), atau 2.751 gram (2,75 kg). (lihat Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiq al Islami Wa Adilatuhu, Dar al-Fikr, Juz II hlm. 911).

    Takaran atau ukuran di atas sependapat dengan kalangan mazhab Hambali yang menyatakan bahwa satu sha' sama dengan 2.751 gram (2,75 kg).

    Sementara itu, Imam Hanafi memiliki berpendapat berbeda. Menurutnya, satu sha' adalah 8 rithl ukuran Irak. Satu rithl Irak sama dengan 130 dirham atau sama dengan 3.800 gram (3,8 kg) (lihat Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhailli Juz II, hlm. 909).

    Madzhab Hanafi memperbolehkan membayar zakat fitrah dengan harga atau uang yang senilai dengan bahan makanan pokok yang dibayarkan. Sedangkan madzhab Syafi'i, Maliki dan Hambali tidak memperbolehkan.

    Ketiga imam madzhab tersebut hanya mewajibkan menunaikan zakat fitrah dengan makanan pokok seperti kurma dan gandum atau bahan pokok lain yang biasa dikonsumsi sehari-hari oleh penduduk suatu negeri, contohnya beras untuk di penduduk Indonesia.

    Jadi, kalau zakat dengan uang, maka ukurannya harus ikut Imam Hanafi, yakni 3,8 kg, karena yang membolehkan mengganti zakat dengan uang hanya Imam Hanafi saja. Kalau zakat dengan uang dan ukurannya menggunakan standar madhzab Imam Syafi'i, maka amil harus membelikannya dengan beras sesuai harga. [dutaislam.com/ab]

  • Full Day School, Strategi Membunuh Pesantren yang Menyemai Radikalisme

    Admin: Duta Islam →

    Oleh M Abdullah Badri

    DutaIslam.Com - Setelah melalui jalan buntu pada tahun lalu, kini, melalui aturan yang tertuang dalam PP No 19 Tahun 2005, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy kembali membuat polemik dan memutuskan kegiatan belajar-mengajar di semua tingkatan sekolah hanya akan berlangsung selama lima hari, Senin sampai Jumat. Sistem sekolah lima hari dalam sepekan itu mulai berlaku pada tahun ajaran 2017-2018. Disebut dengan Full Day School (FDS).

    Kebijakan baru itu secara otomatis meliburkan hari Sabtu. Keputusan berlaku bagi para siswa yang bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), dan/atau sekolah yang sederajat. Waktu kerja guru dan kepala sekolah mencapai 40 jam per pekan dengan waktu istirahat sekitar 30 menit per hari, atau waktu kerja aktif 37,5 jam per pekan.

    Hari Sabtu diliburkan karena sistem kegiatan belajar-mengajar saat ini berlaku hingga minimal delapan jam sehari. Sementara itu, standar kerja aparat sipil negara, termasuk guru, ialah 40 jam per pekan. Dasar inilah yang dijadikan menteri dari Muhammadiyah itu bersikukuh menerapkan Full Day School di sekolah-sekolah. (sumber: Cnnindonesia.com)

    Reaksi pun bermunculan. Jika pada tahun 2016 lalu saat Muhajir baru diangkat menteri langsung dibully karena mewacanakan kebijakan tersebut, kini, ramai-ramai muncul penolakan terutama dari kalangan Nahdliyyin yang sangat dirugikan jika FDS harus dipaksa berlaku.

    Sebanyak 12.780 (dua belas ribu tujuh ratus delapan puluh) sekolah dan madrasah di seluruh Indonesia yang ada di bawah naungan LP Ma'arif NU terancam jadi korban kebijakan yang disebut Kiai Sulthon Fathoni dari PBNU sebagai tidak aspiratif, menang-menangan, sekehendaknya sendiri. (Sumber: Detikcom).

    Komunitas pesantren, partai politik (PPP), Ansor, LP Ma'arif dan bahkan PBNU sudah mengkritik keras kebijakan tersebut. Tidak ada kalangan pengelola pesantren kanan Islam radikal yang ikut memprotes. Padahal, MUI sudah mengeluarkan surat penolakan kebijakan Menteri Muhajir. Kali ini, tidak ada gelora mengawal fatwa MUI sebagaimana aksi demo-demo kalangan Islam radikal dulu.

    Jika Muhajir tidak menghentikan FDS, pesantren sebagai komunitas pendidikan non formal jelas akan dirugikan. Madin hanyalah efek samping. Tujuan utama adalah pembunuhan terhadap pesantren salaf. Kenapa bisa begitu? Mendikbud sendiri mengeluarkan pernyataan bahwa dalam FDS, ia akan menggandeng guru-guru Madin untuk turut mengajar (ekstra kulikuler) di sekolah yang menerapkan FDS.

    Sepertinya, ini menjadi win-win solution. Tapi awas, seleksi oleh siapa dan sistemnya bagaimana? Lalu independesinya pasti terikat dengan kebijakan kepegawaian, yang pada akhirnya menghambat promosi langsung gerakan Ayo Mondok yang selama ini berhasil menyedot masyarakat untuk ramai-ramai memondokkan putra putrinya ke pesantren.

    Guru madin ini adalah salah satu ujung tombak promosi pesantren salaf di Indonesia yang notabene menjadi domain NU. Efeknya, semakin larisnya pesantren modern yang banyak diaplikasikan oleh pesantren kanan dan Muhammadiyah. Karena pada akhirnya mereka sadar, kekuatan utama NU adalah pondok pesantren salaf NU. Sebuah strategi sistematis untuk membunuh pesantren NU dan lalu menghidupkan lembaga pendidikan yang serius mengembangkan Islam radikal Indonesia. (tiga paragraf terakhir ini saya kutip dari dari Kang Syauqi)

    Ingat juga, Muhajir mengeluarkan tangan saktinya tersebut di tengah kasus yang makin memanas soal Amin Rais beberapa pekan terakhir. Gara-gara kebijakan FDS yang dimunculkan Muhajir, kini. isu AR tidak tenggelam diingat publik soal 600 jutanya itu. Apakah Muhajir yang mewakili Muhammadiyah di kabinet Jokowi didesak untuk menyelamatkan "sengkuni" dengan "politik balas budi" dan "balas dendam"?

    Kita ingat, dari sejak Orba, Mendikbud selalu dipegang kader Muhammadiyah hingga lembaga pendidikan pesantren selalu terdesak dan dipinggirkan sampai sekarang. Namun, sejak Muhammad Nuh menjabat Mendikbud, lembaga pendidikan berbasis komunitas (pesantren) tumbuh subur seiring didirikannya 900-an SMK selama 5 tahun memegang kebijakan pendidikan.

    FDS, bagi saya, hanya akan menghidupkan lembaga pendidikan yang tidak serius melakukan deradikalisi milik kalangan Islam kanan. Tumbuh suburlah sel-sel pendukung khilafah. Sore hari yang dijadikan interaksi etika dan moral, diganti dengan kurikulum ekstra yang menyibukkan peserta didik.

    Kebutuhan ngaji agama cenderung tidak ada. Kalaupun ada, mereka tidak melalui guru yang mumpuni, yang tiap hari mewakafkan dirinya sebagaimana di pesantren, madin dan juga komunitas pengajian dan majelis ilmu. Sibuk, alternatif ngaji ya ke Youtube, Google dan juga Medsos.

    Jadi, jangan salahkan jika angka radikalisme kelak tambah tinggi dengan kebijakan sak kerepe dewe Om Mendikbud Muhajir. Selamat tinggal pesantren! Silakan berjuang sendiri. Menteri tidak memihak kepadamu. Dia sedang perlahan ingin membunuhmu. [dutaislam.com/ab]

    M Abdullah Badri, guru ngaji kampung

  • [Surat Sakti Kepada Mendikbud] Harga Mati Menolak Full Day School

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Kiai Zahro Wardi

    DutaIslam.Com - To the point dan bil iktifa' wal ikhtishor Pak Menteri! Tolong rencana Full Day School dan hari sekolah 5 kali dalam seminggu diurungkan. Ini harga mati!

    Sadarilah, kebijakan Anda ini akan meniadakan ratusan ribu -sekali lagi- ratusan ribu lembaga Pendidikan TPQ/TPA dan Madin (Madrasah Diniyah) di seluruh Indonesia. Akan mbubrahi tatanan pendidikan Pondok pesantren yang santrinya ndobel dengan sekolah umum. Ingat, lembaga-lembaga ini sudah ada jauh sebelum Anda lahir bahkan sebelum RI merdeka.

    Sadarlah, kebijakan Anda ini akan menyulut api permusuhan, atau paling tidak akan memantik kecurigaan antar ormas. Ini bahaya. Semua tahu, ratusan ribu lembaga yang akan gulung tikar itu mayoritas milik NU. Dan Anda ini orang Muhamadiyah.

    Dari sisi kemaslahatan kebijakan, apa yang salah dengan lembaga-lembaga TPQ dan Madin yang ingin Anda hilangkan? Tatanan Ponpes yang akan bubrah? Soal karakter Bangsa? Ayo silahkan di survei.. Dari jutaan narapidana, baik kasus korupsi, kriminal maupun yang lain, hanya berapa persen yang tamatan Ponpes dan Madin? Saya yakin seyakin-yakinnya, 99% bahkan lebih, adalah tamatan pendidikan umum murni. Bukan dari Madin/Pesantren.

    Kalau sisi keberhasilan mencetak pelaku-pelaku ekonomi yang tangguh, ayo disurvei, saya jamin 100% jebolan Madin dan Ponpes tidak ada yang jadi pengangguran apalagi GePeng (Gelandang dan Pengemis). Pendidikan Madin dan PonPes itu menanamkan kemandirian dan tanggung jawab hidup.

    Prinsipnya adalah wajib cari rejeki, yang penting halal. Tidak pilah pilih pekerjaan. Sebaliknya, silahkan tanya, jutaan para Gepeng itu pendidikanya apa? Pasti dia akan menjawab tamatan pendidikan umum tertentu. Bahkan, berapa juta Sarjana di Indonesia yang masih jadi pengangguran?

    Sebenarnya, siapa yang Anda ajak rembukan dan olah fikir sehingga muncul gagasan seperti itu? Di saat mulai ada Pemerintah Daerah (Gubernur) berusaha mati-matian mempertahankan TPQ dan Madin dengan progam Bos (Bantuan Operasional Sekolah), TPQ dan madin, bahkan puluhan Bupati dan Wali Kota sudah membuat Perda tentang kewajiban bagi setiap siswa sekolah umum untuk bersekolah juga di TPQ dan Madin, mengapa Anda justru sebaliknya? Ada apa dibalik semua itu Pak Menteri?

    Bapak Muhajir Efendi yang terhormat, saya yakin Anda tahu bagaimana kondisi TPQ, Madin dan Pondok Pesantren salaf di daerah-daerah. Mayoritas tidak punya gedung, masih numpang di serambi masjid, mushala dan emperan/rumah warga.

    Untuk beli papan tulis, bangku dan kapur, masih urunan dari wali santri. Kadang urunanya ditarik lewat hasil pertanian wali santri saat panen. Belum lagi ustadz dan ustadzahnya ikhlas dan telaten mengajar tanpa gaji. Ia relakan mengurangi waktu kerja demi anak didiknya.

    Di saat Umar Bakre Pendidikan raga dimanjakan dengan gaji ke 13, gaji ke 14, sertifikasi dan berbagai tunjangan lain, si Umar Bakre Pendidikan Jiwa tidak pernah meminta itu, apalagi ada gerakan demo. Seharusnya, kebijakan untuk memikirkan hal-hal semacam itu yang lebih maslahah. Sejak kapan bait "Bangunlah Jiwanya" dalam lagu Indonesia Raya hilang? Masih ada kan?

    Alokasi pendidikan 20% dari APBN itu tidak sedikit. Sekalipun TPQ, Madin dan Ponpes tidak masuk dalam sasaran alokasi itu, ia tidak pernah menuntut. Jadi sangat ironis bila Pendidikan berbasis akhlaq dan ukhrawi (yang notabene lebih penting dari pendidikan umum), ada yang mengganggu.

    Kini banyak tokoh negeri ini yang menolak rencana itu. Bahkan PBNU dan MUI sudah resmi mengeluarkan penolakanya. Dan pasti akan ada gerakan-gerakan masif lain bila kebijakan itu dilanjutkan.

    Kami tidak ingin nanti ada bahasa, "kebijakan ini masih uji coba" atau "kebijakan ini tidak mengikat", "boleh dilasanakan oleh sekolah-sekolah umun, boleh tidak". Satu yang kita minta, rencana itu wajib dibatalkan. Jangan ada tipu-tipu lagi. [dutaislam.com/ab]

    Kiai Zahro Wardi, Pengasuh PP Darussalam Sumberingin Trenggalek,
    alumnus Lirboyo Kediri