Dutaislam.com mendoakan sukses HUT RI ke-72 pada Kamis Wage, 17 Agustus 2017. NKRI Harga Hidup Dunia Akhirat!

Paling Baru

Terbaru

editorial

hujjah

opini

Hoax

hadits

al-qur'an

sejarah

litera

carita

ijazah

Terbaru

  • Ada yang Ileng Sejarah atau Sekadar Kelingan Teks Proklamasi Saat HUT RI ke-72

    Admin: Duta Islam → Jumat, 18 Agustus 2017
    Foto: Romo Budi Susanto (paling kiri) saat mengisi materi Sejarah Teks Proklamasi pada Pekan Studi Nasionalisme oleh Lembaga Studi Realino, di Kampus Sanata Dharma,Yogyakarta, Kamis (17/08/2017) malam.
    DutaIslam.Com - Di Yogyakarta, dan mungkin daerah lainnya, saat HUR RI ke-72 pada tahun 2017 kemarin, suasana berubah lengang karena libur nasional. Driver ojek online pun merasakan turunnya omset pada Kamis (17/08/2017) kemarin.

    Temuan tim peserta Pekan Studi Nasionalisme (PSN) 2017 yang diadakan oleh Lembaga Studi Realino pada 16-20 Agustus 2017 menyimpulkan, hampir tidak ada obrolan penting seputar kemerdekaan di kalangan masyarakat awam, termasuk para driver ojek online. Bagi mereka, hal yang menggelisahkan di HUT RI adalah sepinya penumpang yang hingga siang pasang aplikasi hanya dapat satu penumpang.

    Kata Romo Budi Susanto, pimpinan Realino, kesederhanaan tentang peringatan hari kemerdekaan itu sesederhana orang yang membaca sejarah kelahiran teks proklamasi kemerdekaan. Entah mengapa, Budi menyebut kalau kini banyak orang yang bingung membaca pentingnya perayaan HUT RI.

    "Banyak yang tanya: apa sih urusannya soal kemerdekaan," ujarnya kepada 30-an peserta PSN Realino 2017, di aula Lembaga Studi Realino, kompleks Kampus Sanata Dharma, Yogyakarta, Kamis (17/08/2017) malam.

    Para driver itu tidak merasa ada sesuatu yang berharga dalam HUT RI karena menurut Budi, mereka ini hanya bermemori, bukan ber-memoar. "Memoar itu dibaca untuk ileng (ingat kembali), dan selanjutnya mau apa. Ini berbeda dengan memori, yang dalam bahasa Jawa hanya kelingan (ingat saja)," jelas antropolog Sanata Dharma tersebut.

    "Eling itu jeli, kalau kelingan hanya teringat, sederhana," imbuhnya. Dia pun mengulas sejarah kesederhanaan penulisan teks proklamasi yang ditulis tangan dengan tetap menyertakan corat-coret tinta di kertasnya.

    Baginya, hampir tidak ada kata yang istimewa dalam teks proklamasi itu kecuali kalimat "dengan tjara seksama". Simak teks lengkapnya:

    PROKLAMASI

    Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
    Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
    dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

    Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

    Atas nama bangsa Indonesia.
    Soekarno/Hatta.   

    Foto: teks asli naskah proklamasi tulisan Ir. Soekarno
    Anda lihat, dalam foto teks asli di atas, ada tulisan yang dicoret. Kata Budi Susanto, itu menyiratkan situasi darurat. Sebelum berbunyi "pemindahan kekuasaan" dan "diselenggarakan", teks awal pengganti kedua kata itu adalah "perebutan kekuasaan" dan "diusahakan (lalu diganti lagi) diupayakan".

    "Naskah lahir dari sesuatu yang genting," jelas Romo Budi, panggilan kehormatannya. Penyertaan nama Soekarno-Hatta tanpa menyebut langsung nama negara pun, lanjutnya, juga bagian dari strategi politik sang proklamator untuk menghindari penangkapan tokoh politik lian jika ada negara lain yang tidak menerimakan deklarasi kemerdekaan atas teks Proklamasi.

    Romo Budi menjelaskan pula bahwa alasan tahun peristiwa tidak ditulis 45 atau 1945 di teks Proklamasi karena hal itu bagian dari strategi diplomasi Soekarno kepada dunia internasional. Tahun itu sengaja ditulis Soekarno menggunakan angka tahun 05 untuk mengikuti tahun Jepang, penjajah terakhir yang masih bercokol. "Naskah ini adalah naskah melawan hukum internasional," beber Budi.

    Upacara perayaan HUT RI akhirnya bisa dibaca secara sederhana sebagai ritual bangsa yang harus diulang-ulang untuk ileng, bukan sekadar kelingan tentang sejarah perjuangan dan pengorbanan bangsa.

    Dalam narasi kesederhanaan teks Proklamasi ini, driver ojek online berpikir sederhana mengingat dia hanya kelingan. Semoga saja berlanjut ke memoar ileng sehingga tetap menyejarah walau omsetnya berubah saat liburan HUT RI demi mengingat jejak penting sejarah bangsa: Proklamasi. [dutaislam.com/ab]

  • Liciknya Strategi Wahabi Berdakwah di Medsos

    Admin: Duta Islam →

    Oleh Zain As-Syuja'i

    DutaIslam.Com - Saya sangat prihatin dengan perkembangan dakwah di media sosial. Pada akhir-akhir ini, banyak dari kalangan aswaja yang dengan begitu mudahnya terprovokasi dan dikibuli oleh kelompok wahabi.

    Mereka dengan santainya tak lagi mewaspadai gerakan wahabi. Bahkan ketika kita mencoba menyampaikan kelicikan dan kekejaman wahabi, mereka menimpali dengan kata "sesama Islam kau musuhi, dengan kafir kau kasihi", begitulah timpalan mereka berbunyi.

    Saya akui memang manuver wahabi dalam mengatur strategi sangat cerdas dan brilian. Wahabi kompak satu visi dan misi karena ada yang mendanai. Sedangkan kita masih nafsi-nafsi karena memang biaya kuota harus keluar dari kantong sendiri.

    Wahabi merubah strategi sejak mereka memimpin berjilid-jilid aksi. Dari sebelumnya yang tidak sepaham dikafir-kafirkan, dibid'ah-bid'ahkan dan disyirik-syirikkan, menjadi serempak mengatakan yang tak sepaham asal Islam adalah saudara, sesama Islam harus bersatu melawan kemungkaran yang merajalela, sebagaimana yang disampaikan oleh beberapa ustadz wahabi di berbagai media.

    Itulah strategi wahabi yang banyak tidak kita sadari.

    Dan yang lebih memprihatinkan lagi bagi kita, disamping kita sudah telat melawan doktrin dan kelicikan wahabi di media, sampai detik ini yang saya ketahui belum ada wadah untuk menyatukan para generasi muda yang berjuang melawan doktrin wahabi di media sosial yang didukung fasilitas dan akomodasi.

    Malah herannya lagi, keikhlasan para generasi muda yang berjuang melawan wahabi di medsos terkadang dimanfaatkan oleh orang yang mempunyai kepentingan pribadi. Innalillah. [dutaislam.com/ab]

  • Infiltrasi Islam Garis Keras ke Muhammadiyah

    Admin: Duta Islam →

    Oleh KH. Abdurrahman Wahid 

    DutaIslam.Com - Ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras meng­ang­gap setiap Mus­lim lain yang berbeda dari me­re­ka se­ba­gai kurang Islami, atau bahkan kafir dan murtad, maka me­re­ka melakukan infiltrasi ke masjid-masjid, lembaga-lembaga pen­di­dik­an, instansi-instansi peme­rin­tah maupun swasta, dan ormas-ormas Islam mo­de­rat, terutama Mu­ham­madi­yah dan NU, un­tuk mengubahnya men­ja­di keras dan kaku juga. 

    Me­re­ka mengklaim memperjuangkan dan membela Islam, padahal yang dibela dan diperjuangkan adalah pe­ma­ham­an yang sempit dalam bingkai ideo­lo­gis dan platform politik me­re­ka, bukan Islam itu sen­di­ri. Me­re­ka berusaha keras mengua­sai Muham­madi­yah dan NU karena ke­duanya me­ru­pa­kan ormas Islam yang kuat dan terba­nyak pengikutnya. 

    Selain itu, ke­lom­pok-ke­lompok ini meng­ang­gap Mu­ham­madi­yah dan NU se­ba­gai penghalang utama pencapaian agenda politik me­re­ka, karena ke­duanya su­dah lama memperjuangkan substansi nilai-nilai Islam, bukan for­ma­li­sasi Islam dalam bentuk ne­ga­ra maupun pe­ne­rap­an syariat se­ba­gai hukum positif.

    Infiltrasi ke­lom­pok garis keras ini telah menyebabkan ke­ga­duhan dalam tubuh ormas-ormas Islam besar tersebut. Dalam konteks inilah kami ingat pada pertarungan tanpa henti dalam di­ri manusia (insân shaghîr), yakni pertarungan antara jiwa-jiwa yang te­nang (al-nafs al-muthmainnah) melawan hawa nafsu (al-nafs al-lawwâmah), atau pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa. Sementara yang pertama berusaha mewujudkan kedamaian dan ketenangan, maka yang ke­dua selalu membuat ke­ga­duh­an, keributan, dan kekacauan.

    Ge­rak­an garis keras trans­na­sio­nal dan kaki tangannya di In­done­sia se­be­nar­nya telah lama melakukan infiltrasi ke Mu­ham­madiyah. Dalam Muktamar Mu­ham­madi­yah pada bulan Juli 2005 di Malang, para agen ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras, termasuk kader-ka­der PKS dan Hizbut Tahrir In­do­ne­sia (HTI), mendominasi ba­nyak forum dan berhasil memilih be­be­ra­pa simpatisan ge­rak­an garis keras men­ja­di ke­tua PP. Mu­ham­madi­yah. Namun demikian, baru setelah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan mudik ke desa Sendang Ayu, Lampung, masalah infiltrasi ini men­ja­di kontroversi besar dan terbuka sampai tingkat in­ter­na­sio­nal.

    Masjid Mu­ham­madi­yah di desa kecil Sendang Ayu —yang dulunya damai dan te­nang— men­ja­di ribut karena dimasuki PKS yang membawa isu-isu politik ke dalam masjid, gemar meng­ka­fir­kan
    orang lain, dan menghujat ke­lom­pok lain, termasuk Mu­ham­madiyah sen­di­ri. Prof. Munir kemudian memberi penjelasan kepada ma­sya­ra­kat tentang cara Mu­ham­madi­yah meng­a­ta­si per­be­da­an pendapat, dan karena itu ma­sya­ra­kat tidak lagi membiarkan orang PKS memberi khotbah di masjid me­re­ka. 

    Dia lalu menuliskan keprihatinannya dalam Suara Mu­ham­madi­yah. Artikel ini menyulut diskusi serius tentang infiltrasi garis keras di ling­kung­an Mu­hammadi­yah yang su­dah terjadi di ba­nyak tempat, de­ngan cara-cara yang halus maupun kasar hingga pemaksaan.

    Artikel Prof. Munir mengilhami Farid Setiawan, Ketua Umum Dewan Pim­pin­an Daerah Ikatan Mahasiswa Mu­ham­madi­yah (DPD IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membicarakan infiltrasi garis keras ke dalam Mu­ham­madi­yah secara le­bih luas dalam dua artikel di Suara Mu­ham­madi­yah. Dalam yang pertama, “Ahmad Dahlan Menangis (Tanggapan terhadap Tulisan Abdul Munir Mulkhan),” Farid mendesak agar Mu­ham­madi­yah segera mengamputasi virus kanker yang, menurut dia, su­dah masuk kate­go­ri stadium empat. Karena jika diam saja, “tidak tertutup kemung­kin­an ke depan Mu­ham­madi­yah ha­nya memiliki usia se­suai de­ngan umur para pim­pin­annya sekarang. 

    Dan juga tidak tertutup ke­mung­kin­an jika Alm. KH. Ahmad Dahlan dapat bangkit dari liang kuburnya akan terseok dan menangis meratapi kondisi yang telah menimpa ka­der dan ang­go­ta Mu­ham­madi­yah” yang sedang direbut oleh ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras.

    Dalam artikelnya yang ke­dua, “Tiga Upaya Mu‘allimin dan Mu‘allimat,” Farid meng­ung­kapkan bah­wa “produk pola kaderisasi yang dilakukan ‘virus tarbiyah’ membentuk di­ri serta jiwa para ka­dernya men­ja­di seorang yang berpe­ma­ham­an Islam yang ekstrem dan radikal. Dan pola ka­derisasi tersebut su­dah menyebar ke ber­ba­gai penjuru Mu­ham­madi­yah. Hal ini menyebabkan kekecewaan yang cukup tinggi di ka­lang­an warga dan Pim­pin­an Mu­ham­madi­yah. Putra-putri me­re­ka yang diharapkan men­ja­di kader penggerak Mu­ham­madi­yah malah bisa berbalik memusuhi Muham­madi­yah.”

    Menyadari betapa jauh dan dalam infiltrasi virus tarbiyah ini, Farid mengusulkan tiga langkah un­tuk menye­la­mat­kan Mu­hammadi­yah. Pertama adalah membubarkan sekolah-sekolah ka­der Muham­madi­yah, karena virus tarbiyah merusaknya sedemikian rupa; ke­dua, merombak sistem, kurikulum dan juga seluruh peng­u­rus, guru, sampai de­ngan musyrif dan musyrifah yang terlibat dalam gerak­an ideo­lo­gi non-Mu­ham­madi­yah dan ke­pen­ting­an politik lain; ketiga, memberdayakan seluruh or­gani­sa­si otonom (ortom) di lingkung­an Mu­ham­madi­yah.

    Artikel Munir dan Farid menimbulkan kontroversi dan polemik keras antara pim­pin­an Muhammadiyah yang setuju dan tidak. Salah satu keprihatinan utama me­re­ka yang setuju adalah bah­wa ins­ti­tu­si, fasilitas, ang­go­ta dan sumber-sumber daya Mu­hammadi­yah telah di­gu­na­kan ke­lom­pok-ke­lom­pok garis keras un­tuk selain ke­pen­ting­an dan tujuan Mu­ham­madi­yah. 

    Di teng­ah panasnya polemik me­nge­nai ge­rak­an virus tarbiyah, salah seorang Ketua PP. Mu­ham­madi­yah, Dr. Haedar Nashir, mengklarifikasi isu-isu dimaksud dalam sebuah buku tipis yang berjudul Manifestasi Ge­rak­an Tarbiyah: Bagaimana Sikap Mu­ham­madi­yah?

    Kurang dari tiga bulan setelah buku tersebut terbit, Pengurus Pusat (PP) Mu­ham­madi­yah mengeluarkan Surat Keputusan Pimpin­an Pusat (SKPP) Mu­ham­madi­yah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 un­tuk “menye­la­mat­kan Mu­ham­madi­yah dari ber­ba­gai tindakan yang merugikan Per­sya­ri­kat­an” dan membebaskannya “dari pe­ngaruh, misi, infiltrasi, dan ke­pen­ting­an par­tai politik yang selama ini mengusung misi dakwah atau par­tai politik bersayap dakwah” karena telah memperalat ormas itu un­tuk tujuan politik me­re­ka yang ber­ten­tang­an de­ngan visi-misi luhur Mu­ham­madi­yah se­ba­gai or­gani­sa­si Islam mo­de­rat:

    “...Mu­ham­madi­yah pun berhak un­tuk dihormati oleh siapa pun serta memiliki hak serta keabsahan un­tuk bebas dari segala campur tangan, pe­ngaruh, dan ke­pen­ting­an pihak manapun yang dapat 
    mengganggu ke­u­tuh­an serta kelangsungan ge­rakannya” (Konsideran poin 4).

    “Segenap ang­go­ta Mu­ham­madi­yah perlu menyadari, memahami, dan bersikap kritis bah­wa seluruh par­tai politik di nege­ri ini, termasuk par­tai politik yang mengklaim di­ri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah se­per­ti Par­tai Ke­adil­an Se­jah­te­ra (PKS) adalah benar-benar par­tai politik. Setiap par­tai politik berorientasi meraih kekuasaan politik. Karena itu, dalam menghadapi par­tai politik manapun kita harus tetap berpijak pada Khittah Mu­hammadi­yah dan harus membebaskan di­ri dari, serta tidak menghimpitkan di­ri de­ngan misi, ke­pen­tingan, kegiatan, dan tujuan par­tai politik tersebut” (Keputusan poin 3).

    Keputusan ini dapat dipahami, karena pada kenyataannya PKS tidak ha­nya “menimbulkan masalah dan konflik de­ngan sesama dan dalam tubuh umat Islam yang lain, termasuk dalam Mu­ham­madi­yah,” tapi menurut para ahli politik juga me­ru­pa­kan an­cam­an yang le­bih besar di­ban­ding­kan Jemaah Is­la­mi­yah (JI) terhadap Pan­ca­si­la, UUD 1945, dan NKRI. 

    Menurut seorang ahli politik dan garis keras In­do­ne­sia, Sadanand Dhume, “Ha­nya ada pemikiran kecil yang membedakan PKS dari JI. Seperti JI, manifesto pendi­rian PKS adalah un­tuk memperjuangkan Khi­la­fah Is­la­mi­yah. Seperti JI, PKS menyimpan rahasia se­ba­gai prinsip pengorganisasiannya, yang dilaksanakan de­ngan sistem sel yang ke­duanya pinjam dari Ikh­wa­nul Mus­li­min.... Bedanya, JI bersifat revo­lu­sio­ner sementara PKS bersifat evo­lu­sio­ner. 

    De­ngan bom-bom bunuh di­ri­nya, JI menempatkan di­ri melawan pe­me­rin­tah, tapi JI tidak mung­kin menang. Sebaliknya, PKS meng­gu­na­kan posisinya di parlemen dan ja­ring­an ka­dernya yang te­rus menjalar un­tuk memperjuangkan tujuan yang sama selangkah demi selangkah dan suara demi suara.... Akhirnya, bang­sa In­do­ne­sia sen­di­ri yang akan memutuskan apakah masa depannya akan sama de­ngan ne­ga­ra-ne­ga­ra Asia Tenggara yang lain, atau ikut ge­rak­an yang berorientasi ke masa lalu de­ngan busana jubah fun­da­men­tal­isme kea­ga­ma­an. PKS te­rus berjalan. Seberapa jauh ia berhasil akan menentukan masa depan In­do­ne­sia.”

    Namun, se­ba­gai­ma­na ditunjukkan oleh studi yang dipaparkan dalam buku ini, se­ka­li­pun SKPP tersebut telah diterbitkan pada bulan Desember 2006, hingga kini belum bisa diimplementasikan secara efektif. Ge­rak­an-ge­rak­an Islam trans­na­sio­nal (Wahabi, Ikhwa­nul Mus­li­min, dan Hizbut Tahrir) dan kaki tangannya di Indonsia su­dah melakukan infiltrasi jauh ke dalam Mu­ham­madi­yah dan mematrikan hu­bung­an de­ngan para ekstremis yang su­dah lama ada di dalamnya. 

    Keduanya te­rus aktif merekrut para ang­go­ta dan pemimpin Mu­ham­madi­yah lain un­tuk ikut alir­an ekstrem, se­per­ti yang terjadi saat Cabang Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Bantul masuk PKS secara serentak (en masse). Sementara Farid Setiawan prihatin bah­wa mung­kin Mu­ham­madi­yah ha­nya akan mempunyai usia sesuai de­ngan umur para peng­u­rusnya, ge­rak­an garis keras justru terus berusaha merebut Mu­ham­madi­yah un­tuk menggunakannya seba­gai kaki tangan me­re­ka berikutnya de­ngan umur yang panjang. Banyak tokoh mo­de­rat Mu­ham­madi­yah prihatin bah­wa garis keras bisa mendominasi Muktamar Mu­ham­madi­yah 2010, karena aktivis garis keras semakin kuat dan ba­nyak.

    Persis karena infiltrasi yang semakin kuat inilah, tokoh-tokoh mo­de­rat Mu­ham­madi­yah meng­ang­gap situasi semakin berbahaya, baik bagi Mu­ham­madi­yah sen­di­ri maupun bang­sa In­do­ne­sia. Kita harus bersikap jujur dan terbuka serta berterus terang dalam menghadapi semua masalah yang ada, agar apa pun yang kita lakukan bisa men­ja­di pela­jar­an bagi semua umat Islam dan mampu mendewasakan me­re­ka dalam ber­aga­ma dan berbang­sa.

    Salah satu temuan yang sa­ngat mengejutkan para peneliti lapangan adalah fenomena rangkap ang­go­ta atau dual membership, terutama antara Mu­ham­madi­yah dan garis keras, bahkan tim peneliti lapangan memperkirakan bah­wa sampai 75% pemimpin garis keras yang diwawancarai punya ikatan de­ngan Mu­ham­madiyah. [dutaislam.com/gg]

    Dikutip dari buku Ilusi Negara Islam.

  • Dulu Ada Rera yang "Habisi" Generasi Jenderal NU, Kini Ada FDS yang Bakal "Kibuli" Madin NU

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Dulu ada kebijakan RERA (reorganisasi dan rasionalisasi) yang menyebabkan tentara NU harus keluar dari kedinasan karena diwajibkan memiliki ijazah sekolah formal. Secarik kertas yang tentu saja tidak mereka miliki karena rata-rata mereka tidak sekolah.

    Padahal selama revolusi kemerdekaan, para anggota laskar itu selalu di baris depan pertempuran. Tidak ada yang meragukan reputasi Laskar Hisbullah dan laskar-laskar santri yang lain.

    Di tetangga Parakan, Temanggung, malah masih berdiri Ponpes Parak Bambu Runcing. Di pesantren ini dulu para pejuang membawa bambu runcing untuk "disuwuk" kiai sebelum maju ke medan laga.

    Karena kebijakan RERA itu, prajurit NU yang rata-rata tamatan pesantren tak bisa melanjutkan pengabdian di militer. RERA adalah kebijakan yang bertanggung jawab atas tiadanya atau langkanya jenderal NU di militer Indonesia saat ini.

    Kini muncul kebijakan FDS. Apakah akan menjadi lonceng kematian madin/ponpes? Apakah nasib kedua lembaga itu akan serupa dengan para pejuang anggota laskar di atas? Bisa jadi. Mari tolak Five Days School selamanya. [dutaislam.com/ab]

  • Agar Target NU Bubar dan Gagal Total, Kata Kiai Said: Wajib Hukumnya Kiai Punya Akun

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Bagaimana siasat agar target NU bisa bubar dan gagal total? Pertanyaan itu dilemparkan ke grup WhatApp Keluarga Sarkub beberapa hari lalu. Banyak tanggapan yang keluar, ada pesimis, tapi banyak pula yang memberikan jawaban alternatif.

    Baca: NU Ditarget Hancur dari Indonesia Paling Cepat Tahun 2020

    Hendra, salah satu sarkubers di grup menyatakan kondisi pra-medsos (1990 an s.d awal 2000), para wahabi dan anti NU bisa dikatakan sedikit berhasil melakukan brain washing di kampus-kampus strategis di Indonesia, seperti di ITB, STAN, UI dan lainnya, "mereka sepertinya melakukan strategi yang lebih masih dengan adanya medsos dan tim cybernya," ujar Hendra, Rabu (16/08/2017).

    Massifnya gerakan wahabi di medsos memang ingin menargetkan hancurnya NU di Indonesia. "Info yang beredar di dumay soal target penghancuran NU memang banyak arahnya," kata Arif Fatahillah menanggapi pendapat Hendra.

    Diskusi pung berlanjut pada usulan menyerang kesukaan para penggerak wahabi. "Jika dikerasin, maka akan semakin beringas dan lari. Semut yang kecilpun jika diinjak akan menggigit, apalagi manusia," tulis Ulul Ilmi, sarkubers lainnya. "Warga NU jangan punya pemikiran menekan mereka akan membuat mereka takut dan menurut," imbuh Ulul.

    Lalu, apa langkah agar gerakan mereka kocar-kacir? Pakailah cara yang pernah digunakan para Walisongo yang berhasil mengajak orang-orang Hindu memenuhi kesukaan mereka berkumpul dengan tahlilan, yang esensinya sangat terkandung dalam amaliyah muslimin.

    Sayangnya, eksplorasi kesukaan orang-orang wahabi itu apa, diskusi tidak belanjut karena orang wahabi dianggap banyak suka perang, tebar kebencian dan hoax. Mauquf, diskusi berganti topik. Namun Arif Fatahillah mengutarakan apa yang pernah dikatakan KH Said Aqil Siraj soal pergeseran wajib langkah dakwah para ulama dan kiai NU.

    "Prof. Said Aqil juga mengatakan kita semua wajib turun bergaul dengan mereka-mereka yang tidak suka NU untuk menjelaskan tentang NU. Bahkan beliau bilang wajib hukumnya kiai punya akun Fcaebook, Twitter, Instagram dan lainnya," demikian kata Kiai Said dikutip Arif di sela obrolannya dengan Gus Ishom di Karawang dalam sebuah acara.

    Kewajiban itu penting dilaksanakan mengingat penyebaran dakwah wahabi lebih banyak di medsos daripada di pesantren karena memang suka yang instan; berpengikut gemuk tanpa lelah di lapangan. [dutaislam.com/ab]

  • Mbah Hamid Bertemu Nabi di Maulid

    Admin: Duta Islam →

    DutaIslam.Com - Suatu hari Kiai Hamid bin Abdullah bin Umar Pasuruan mengadakan peringatan maulid Nabi mengundang para masayikh, di antaranya Kiai As'ad Syamsul Arifin, kebetulan Kiai As'ad duduk disebelah kanan Kiai Hamid sedangkan sebelah kiri adalah Kiai Ahmad Shiddiq.

    Ketika mahallul qiyam semua pada berdiri, cuma Kiai Hamid tidak berdiri, semua tamu yang jumlahnya ribuan terheran dengan sikap Kiai Hamid. Setelah selesai acara, semua pada pulang, tinggallah 2 Kiai sepuh dan para masayikh, lalu Kiai As'ad menegur beliau: "Gimana njenengan niki yai, baca sholawat kok nggak mau berdiri?"

    Kiai Hamid menangis tersedu-sedu sambil menjawab:
    "Saya tidak punya daya untuk berdiri sebab Kanjeng Nabi berdiri tepat di depan saya. Saya merasa kehabisan akhlak, jangankan ilmu, ibadah dan mujahadah saya, dari pakaianpun saya malu bertemu Kanjeng Nabi". [dutaislam.com/ed]

    Dikisahkan oleh Kiai As'ad dalam suatu majelis beliau.

  • Inilah Makna Merdeka Bagi Tukang Sapu di Sanata Dharma

    Admin: Duta Islam →
    Foto: Eko, tukang sapu di kampus Sanata Dharma (17/08/2017)
    DutaIslam.Com - Saat para civitas academis Universitas Sanata Dharma (Sadar) Yogyakarta melangsungkan upacara HUR RI ke 72, Kamis (17/08/2017), tukang sapu di kompleks kantin di Jl. STM Mrican, Gejayan, Sleman, itu masih sraak-sreek meneruskan pekerjaaannya membersihkan halaman dengan sapu berkuran panjang.

    Ratusan peserta upacara yang pagi itu sudah bersiap di lapangan kampus yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari tempat dia kerja, tak dihiraukan. Baginya, peringatan hari kemerdekaan menyelesaikan pekerjaan.

    Eko (30), nama pengabdi kampus tersebut, mengaku terakhir kali ikut upacara resi HUT RI saat dia masih duduk di bangku sekolah. "Kadang di basketan, atau lapangan," tutur Eko kepada Dutaislam.com, Kamis (17/08/2017).

    Kepada Ninik, salah satu peserta Pekan Studi Nasionalisme (PSN) Lembaga Studi Realino Jogja, Eko menerjemahkan makna kemerdekaan dengan tetap setia kepada pemerintah. "Memperingati hari pahlawan, mengenang jasa pahlawan," demikian Eko memaknai HUT RI saat dia tetap bekerja.

    Ia juga mengatakan, selama masih bisa bekerja, dia menyebut masih merdeka, "bisa nyapu saja berarti merdeka mas," jelasnya sambil bercanda. Apa makna merdeka menurut Anda? Silakan komen di bawah postingan ini. [dutaislam.com/ab]