Iklan

Iklan

,

Iklan

Kitab Al-Maut fil Fikril Islami (PDF Drive) - Sifat Umum Tentang Kematian

Duta Islam #05
15 Des 2023, 21:06 WIB Ter-Updated 2023-12-22T07:29:18Z
kitab al-maut fil fikril islami
Kitab Al-Maut fil Fikril Islami PDF.


Dutaislam.com - Kitab ini bermula dari terbitnya buku Al-Maut fil Fikril Gharbi (Mati dalam Pandangan Barat) yang ditulis oleh Jack Sharon dan terbit tahun 1963. Tinjauan buku itu disebut Syaikh Abdul Hayyi Al-Farmawi tidak sesuai dengan Islam. Al-Farmawi mengkritik pemahaman di buku itu yang menyatakan bahwa mati adalah fana' (hilang) dan ketiadaan murni yang abadi. Tidak ada kehidupan setelah mati. Ini tidak benar menurut Islam.  


Selain itu, umat Islam sendiri cenderung menghindari pembahasan tentang kematian karena naluri rasa takut mereka. Kematian menjadi tema yang asing di kalangan umat Islam. Akhirnya, mereka bodoh memahami hakikat kematian, dan lebih suka membahas kematian dari perspektif hidup daripada perspektif kematian itu sendiri. 


Baca: Flashdisk Kitab Kuning PDF 32 GB


Akal para filosof barat melahirkan cara berpikir yang mengingkari keabadian (khulud) setelah kematian. Di antara umat Islam juga ada yang terpengaruh pikiran orang barat hingga memperdebatkan perselihan tidak penting tentang: apakah kebangkitan setelah kematian manusia jasad hanya ruh saja. Tentu saja, pandangan ini mirip dengan pandangan orang-orang tak beriman di zaman dahulu, seperti sudah didokumentasikan oleh Al-Qur'an di Surat Al-An'am: 29 dan Surat Hud: 7. 


Menurut pandangan Islam, maut adalah berpindahnya manusia dari alam dunia ke alam barzakh (perantara) untuk menunggu ke alam akhirat, pindah dari alam fana' ke alam baqo', atau pindah dari alam tanam ke alam panen. Dalam Islam, kata Al-Farmawi, mati adalah tahapan paling akhir manusia menjalankan hidupnya di dunia, bukan akhir hayat. Islam tidak mengenal akhir daripada hidup. Setelah dari dunia ini, manusia hidup di alam barzakh hingga kiamat. Kubur, kata Rasulullah Saw, adalah roudhoh (taman) surga, atau jurang dari neraka (إنما القبر من رياض الجنة او حفرة من حفر النار)


Dalam Al-Qur'an, maut disebut sebagai musibah (فأصابتكم مصيبة الموت). Mengapa disebut demikian? Jawabnya, karena kebanyakam manusia memiliki tabiat takut atas mati, dan semakin tua, hati manusia tambah ingin menjadi muda dan mencintai panjangnya umur serta harta dunia. Rasulullah Saw menyebut sikap rakus harta dunia dan takut mati sebagai penyakit wahn. 


Lebih lanjut, dalam Kitab Al-Maut fil Fikril Islami ini, Al-Farmawi membincang pula tentang sifat kematian dalam pandangan Islam. Kata dia, kematian memiliki sifat-sifat sebagai berikut:


  1. Mutlak, tidak pandang bulu. Bahkan, para Nabi saja disebut Allah sebagai mayit saat mereka masih hidup. 
  2. Bersifat personal. Meskipun mutlak akan dialami oleh banyak orang, sifat kematian masing-masing makhluk tidak dialami secara komunal. Kondisi manusia dalam mati, berbeda-beda. Ada yang mengalaminya dengan rasa takut takut, berharap-cemas, dan ada yang terlihat tenang karena kepercayaan hatinya terhadap takdir Allah atas kematian yang pasti dan mutlak. Demikian menurut keterangan Imam Qusyairi yang dikutip penulis. 
  3. Berada diantara yakin dan ragu. Tidak ada yang tahu waktu, tempat, dan bagaimana kematian akan datang. 
  4. Mati termasuk hal ghaib yang hanya diketahui oleh Allah Swt secara pasti.
  5. Dengan kelembutan Allah (latif-Nya), banyak manusia yang ringan digiring menuju tempat kematian walaupun selama hidupnya tidak pernah terbersit akan mati di tempat tersebut. 
  6. Dengan keyakinan atas bodohnya diri, dan hanya Allah lah yang mengetahui datangnya ajal, manusia akan merasa mudah dan tidak takut menghadapi kematian. Bagaimana bisa lari, malaikat maut selalu datang menemui manusia sehari tiga kali untuk melakukan pengecekan apakah rezeki sudah tuntas atau belum. Demikian menurut Hasan Al-Bahsri. Yang sadar akan hal ini, mereka setiap hari akan bersiap dengan mati, kapapun akan terjadi. 


Hukum mempelajari kematian adalah wajib bagi setiap umat Islam beriman. Dengan mempelajarinya, dia akan mengatahui cara menghormati diri sendiri dan menyiapkan hidup setelah datangnya maut. 


Dengan mengingat kematian, umat Islam memiliki kesadaran berjuang, memperbaiki dirinya untuk menyiapkan hidup setelah mati. Dia kemudian mudah menempa ikhlash dalam amal, jujur, konsisten dalam bermuamalah, membantu perjuangan agama Islam, bangsa dan negara. Jika Anda tertarik membaca buku Al-Farmawi ini, silakan download PDF nya melalui link Drive di bawah ini:



Terimakasih. Semoga bermanfaat. [dutaislam.com/ab


Iklan