Jalan Hidup Paska HTI
Cari Berita

Advertisement

Jalan Hidup Paska HTI

Duta Islam #07
Sabtu, 27 Juli 2019

Jalan hidup dan kebenaran
Jalan hidup dan kebenaran. Foto: istimewa 
Oleh: Moh Yasir Alimi

DutaIslam.Com - Untuk adik-adik HTI, bagaimana menyikapi keputusan pemerintah itu secara dewasa dan positif? Renungkanlah ini. "Dulu saya berfikir untuk mengubah dunia, dan tidak ada hasil apa-apa. Kemudian bercita-cita merubah diri saya, dan saya berhasil mengubah dunia".

Kalimat Syaikh Jalaluddin Rumi ini menyampaikan pelajaran yang sangat berharga. Keinginan untuk mendirikan khilafah tidak akan pernah menghasilkan apapun. Rumusan diatas adalah teori psikologi yang sangat mendasar.

Mana mungkin Allah SWT menyuruh sesuatu yang tidak menghasilkan apapun juga?
Lebih baik mendirikan khilafah itu dalam diri sendiri. Laksanakan semua sunnah Nabi secara maksimal pada diri sendiri.

Baca: I'tikad Ahlussunah Wal Jama’ah di Indonesia Adalah NU Bukan HTI

Kata sahabat saya: "Lebih baik melakukan tindakan kecil namun bermanfaat bagi sesama, daripada memperjuangkan impian besar yang belum tentu bermanfaat bagi sesama".
Energi untuk khilafah bisa dialihkan diantaranya untuk meraih ridha Allah dengan cara berikut ini:

(1) Berbakti kepada bapak ibu. Pengabdian kita pada mereka pasti sangat kurang. Ingat beliau berdua saja sangat jarang, apalagi mendoakan atau melayani beliau berdua. Para wali-wali Allah, mereka orang yang kesalehannya tidak diragukan, mereka orang yang terbaik kasih sayangnya pada ayah ibu. Ada wali yang suka menggendong ibunya, ada yang menunggu ibunya tertidur sambil memegang gelas minuman yang dipesan sebelum tidurnya.

Daripada menyibukkkan jiwa dengan khilafah yang oleh ulama jumhur dibilang tidak diajarkan Nabi, lebih baik menyibukkan jiwa dengan ayah ibu kita.
Berani jamin, mereka yang berbakti pada orang tuanya pasti akan jadi orang hebat.
Kalau mau melakukan apa-apa, ijin dulu minta ridha orang tua. Tanya kepada beliau berdua, sudah bolehkah "bertaaruf" dengan orang lain? Pulang ke rumah, peluk erat-erat beliau. Itu sangat membahagiakan mereka.

(2) kita sedikit syukurnya. Banyak keluh kesahnya. Berjuang untuk bisa banyak syukurnya, banyak amal shalehnya.

(3). Kita banyak hasad iri dengkinya. Gunakan waktu untuk hilangkan hasad iri dengki. Itu lebih bermanfaat.

(4). Lihat kesalahan pribadi lebih dahulu, jangan sibuk melihat kesalahan orang lain. Ini perjuangan yang sangat berat, lebih baik energi digunakan untuk mengusahakan ini, daripada memikirkan khilafah yang pasti tidak akan menghasilkan apa-apa.

(5). Shalat kita tidak khusuk. Berjuanglah untuk mewujudkan shalat khusuk daripada capek untuk usaha yang mubazir.

(6). Kita malas, pelit dan maunya menang sendiri. Berjuanglah menjadi orang yang bersemangat, santun dan bermanfaaat bagi sesama.

(7). Kita belum mengenal Allah SWT. Lebih baik mengingat Allah dan Dia akan mengingatmu. Mengingat khilafah perbuatan sia sia.

(8). Kita belum mengenal Rasulullah. Berjuanglah untuk bisa merasakan cinta padanya. Ini perkara sulit, belajarlah kepada guru dan mursyid yang mumpuni. Bukan pada orang yang baru belajar agama.

(9). Lakukan hal kecil namun bermanfaat untuk mencari ridha Allah. Jebakan manusia akhir zaman adalah sibuk dengan cita-cita yang besar, melupakan hal yang kecil. Solusinya lakukan hal hal kecil bermanfaat dengan cinta yang besar.

(10). Fokus, fokus dan fokus pada cita-cita, untuk mewujudkan suatu kebermanfaatan dan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Jalan Hidup dan Kebenaran


Pastikan tujuan utama hidup adalah Allah, bukan khilafah. Kata guru saya Maulana Syaikh Hisyam Kabbani: "Allah sudah sangat rindu kita sampai pada-Nya, kita datang pada-Nya".
Tanpa ini kalian tidak akan pernah berbahagia. Tidak akan pernah bisa shalat khusuk tidak akan pernah kenal Allah, tidak akan pernah kenal dengan diri sendiri.

Dulu pun aku merasakannya. Selalu menginginkan pemberlakuan syariat Islam tapi diri sendiri jauh dari sifat-sifat Rasul. Melihat orang lain salah terus.

Adanya pelarangan HTI adalah waktunya kalian melihat diri sendiri, dan mengingat Allah. Bukan khilafah. Menginginkan khalifah itu sama dengan mengingginkan segala sesuatu sesuai keinginan kita. Anak istri orang tua tetangga, teman, orang satu RT orang satu kampung, satu bangsa sesuai keinginan kita. Seperti menginginkan segala sesuatu yg terjadi pada kita sesuai keinginan kita.
Suatu hal yg sangat mustahil bisa terwujud.

Esensi Islam adalah berserah diri. Berhentilah mengatur-atur. Rela dan ikhlaslah dengan ketetapan Allah SWT. Kalian tidak mengetahui kesibukan dengan khalifah itu, skenario untuk menyibukkan kalian dengan pekerjaan yang tidak akan mungkin tercapai agar kalian tidak sempat melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri kalian sendiri dan orang lain.

Saatnya belajar agama kepada para ulama, kiai dan syaikh yg sangat mendalami ilmu dan kebijaksanaannya. Sanat mereka sambung menyambung kepada Rasulullah SAW.
Mereka memelihara cahaya agama dalam hati mereka dengan adab, disiplin, semangat dan istqamah yang tinggi.

Baca: Karomah Dakwah Lembut Habib Munzir Al-Musawa

Mereka berhasil menaklukkan ego meraka. Mereka sudah lama mendirikan "khilafah" dalam diri mereka. Mereka terlimpahi cahaya dan rahmat Allah. Mereka akan membantumu bisa merasakan bahagia, bisa merasakan shalat khusuk, lebih sayang kepada orang tua, mereka juga akan mmbantumu mewujudkan cita-citamu jadi hamba Allah yang sukses dunia akhirat. Semoga Allah merahmati kita semua. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini