Falsafah Tradisi Selikuran Muslim Jawa
Cari Berita

Advertisement

Falsafah Tradisi Selikuran Muslim Jawa

Duta Islam #04
Senin, 01 Juli 2019

Penjelasan falsafah tradisi selikuran (sumber: kompas.com)
Ketika mendekati penghujung bulan Ramadhan, masyarakat muslim di Jawa mempunyai tradisi yang menarik. Tradisi ini biasa disebut dengan malam selikuran.

DutaIslam.Com - Kata selikuran beraal dari bahasa Jawa yaitu selikur (sebutan bilangan 21). Kata selikuran merupakan akronim yang bermakna “Sing Linuwih le Tafakur” (yang lebih bersemangat bertafakurnya). Pada malam-malam akhir Ramadhan, masyarakat muslim Jawa mempunyai prinsip agar lebih giat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Tradis selikuran menjelang akhir Ramadhan ini sebagai bentu kesemangatan masyarakat muslim Jawa meraih kemulian malam lailatul qodar. Di mana, malam lailatul qodar sebagaimana dijelaskan di dalam al-Quran bernilai lebih baik daripada seribu bulan.

Baca: Memahami Ujian dan Cinta

Semua umat Islam akan berharap merasakan puncak kenikmatan beribadah di malam lailatul qodar. Oleh karena itu, masyarakat muslim Jawa setiap akhir Ramadhan melakukan malam selikuran. Tradisi selikuran di Jawa telah dilestarikan hingga sekarang.

Lantas dengan apa mereka mengekspresikan tradisi selikuran? Tradisi selikuran masyarakat muslim Jawa dengan memperbanyak sedekah, i’ktikaf di masjid, tadarus al-Quran, dan lain-lain. Semua amalan tersebut dilakukan dengan khusu' dan jiwa yang bersih nan suci. Hal itu agar memeroleh kemuliaan yang ada dalam lailatul qodar.

Di dalam tradisi selikuran, kita menyaksikan perpaduan budaya dan agama saling menguatkan. Agama dan budaya tidak saling mensubordinasi satu sama lainnya. Akan tetapi berjalan beriringan. Tentunya, fenomena ini sangat istimewa.

Tradisi selikuran sebagau potret menyatunya ajaran agama dengan budaya tidak lepas dari sejarah dakwa walisongo dahulu. Para walisongo berdakwah dengan menggunakan pendekatan budaya, yaitu menggunakan budaya Jawa untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Alhasil, terciptanya tradisi selikuran ini.

Baca: Amalan lailatul Qadar Ramadhan

Tradisi selikuran sebagaimana tersurat di dalam Bauwarna Adat Tata Cara Jawa karya Bratasiswara, bagian dari upacara adat peringatan nuzulul quran dalam maleman Sriwedari Surakarta yang digelar setiap tanggal dua puluh satu Ramadan. Ritual upacara adat ini terinspirasi dari keterangan yang ada di dalam serat Ambya. Di sebutkan di dalam kitab tersebut, Nabi Muhammad SAW setiap tanggal gasal, beliau turun dari Jabal Nur. Kegiatan nabi ini dimulai ketika memasuki hari ke 21 Ramadhan.

Semangat tradisi selikuran berlandaskan pada hadis Rasulullah SAW. Rasulullah setiap sepuluh hari di bulan Ramadhan akan meningkatkan ibadahnya. Siti Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah sangat menganjurkan umat Islam untuk giat beribadah agar memperoleh kemulian lailatu qodar.

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tradisi selikuran yang merupakan bentuk sinkretisme nilai-nilai Islam melalui budaya Jawa dilestarikan oleh kerajaan Islam pada waktu itu dan masih bertahan sapai saat ini. Meskipun seiring berjalannya waktu, ekspresi malam selikuran sangat beragam.

Ekpresi melakukan malam selikuran di samping dengan shalat malam, ada pula masyarakat desa yang melaksanakan ritual kenduri di rumah setiap keluarga. Di mana pada malam ganjil (malam  21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadan), mereka menyajikan hidangan nasi beserta lauk pauknya untuk dimakan bersama. Mereka biasa menyebutnya rasulan. Praktek selikuran ini adalah ekspresi masyarakat muslim Jawa bersedekah.

Baca: 3 Fadhilah Tadarus AL-Quran di Bulan Ramadhan

Di lain daerah, tradisi selikuran ada yang melakukannya dengan
menyediakan konsumsi bagi acara likuran dengan cara gotong royong sistem giliran. Masyarakat menyebutnya tradisi jaburan. Mungkin masih ada banyak lagi beragam ekspresi keagamaan di dalam tradisi selikuran. Semua yang dilakukan masyarakat hanya untuk memperbanyak serta meningkatkan ibadah kepada Allah.

Allah SWT telah menjanjikan orang yang dapat meraih lailatu qodar, ia akan mendapatkan kemulian dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Keberhasilan meraih lailatul qodar akan menjadi pengalam spiritual yang sangar luar biasa. Suasana batinnya penuh dengan keselamatan dan kebahagiaan serta keihlasan. Sangat indah bukan? [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini