Tempat Berteduh Saat Hujan Hujatan Adalah NU
Cari Berita

Advertisement

Tempat Berteduh Saat Hujan Hujatan Adalah NU

Duta Islam #07
Rabu, 26 Juni 2019

Menjadi tempat curhat yang baik
NU menjadi tempat curhat yang baik. Foto: istimewa
Mengeluh dan meratapi nasib yang diderita sama artinya dengan merasa tidak puas akan pemberian Allah SWT.

DutaIslam.Com - Kita mengadu kesulitan apapun hidup kita kepada sesama manusia atau di maknai dengan tidak rela dengan apa yang sudah Allah hendaki.  Uraian ini sejalan dengan apa yang pernah dikatakan oleh Imam Al-Junaid sebagaimana termaktub dalam kitab Riyadhu Akhlaqis Shalihin, karangan Syekh Ahmad bin Muhammad Abdillah, halaman 32,  sebagai berikut:

مَنْ أَصْبَحَ وَهُوَ يَشْكُو ضَيْقَ الْمَعَاشِ فَكَاَنَّمَا يَشْكُو رَبَّهُ وَمَنْ أَصْبَحَ لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِيْنًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخَطًا عَلىَ اللهِ 

Artinya:
Barangsiapa suka mengadukan kesulitannya kepada sesama manusia, maka seolah-olah ia mengadukan Tuhannya (kepada mamusia tersebut). Dan barangsiapa merasa sedih dengan kondisi duniawinya, maka dia menjadi orang yang membenci Allah.”

Ratapan apa yang biasa di rasakan oleh manusia dalam ketidak puasan dengan kondisi yang ada itu adalah hal manusiawi, tetapi sebenarnya jauh lebih baik dan religius apabila keluhan-keluhan itu secara langsung disampaikan kepada Allah SWT melalui doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya.

Baca: Mengapa Gus Dur dan Kiai Said Dibunuh Karakternya?

Lantas tidak bolehkah seseorang melakukan curhatan kepada sesama manusia terlebih adalah seseorang yang mempunyai sanad keilmuan yang sudah di akui, atau seperti seorang kawan kepada kawan lainnya, atau seorang istri kepada suami atau sebaliknya?

Tentu saja itu boleh sepanjang curhat itu tidak bermakna “ngrasani" atau menggunjing Allah SWT dan masih dalam konteks di perbolehkan. Curhat kepada sesama manusia boleh dilakukan selama masih dalam koridor diskusi atau meminta nasihat untuk mendapatkan cara-cara terbaik untuk keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi sebab memang ada kewajiban untuk saling tolong menolong dan nasihat menasihati diantara sesama manusia.

Setiap muslim memiliki hak untuk mendapatkan nasihat tentang alternatif solusi dari kesulitan-keulitan yang ada. Seperti halnya tidak langsung berserah diri kepada Allah, namun ada upaya unuk mencari nasihat dan solusi terlebih dahulu.

Dulu Ahmad Dhani kena kasus penistaan agama. Dia diancam dibunuh, bahkan dikirimi bom buku segala. Berbagai video konspirasi juga menempatkan dia sebagai musuh Islam karena disangka agen Freemasonry. Dia tersudut. Kemana mencari perlindungan? Ke Gus Dur, waktu itu.

Sebagaimana para sufi besar di masa lampau yang menerima siapapun yang butuh curhat, perlindungan, dan pembelaan tanpa membeda-bedakan, Itu semua dilakukan oleh Gus Dur menerima Dhani, sebagaimana dia menerima Inul dan Dorce yang kebingungan mencari tempat berteduh saat hujan hujatan mengarah kepada mereka. Gus Dur menerima mereka sebagaimana seorang bapak berlaku kepada anak-anaknya. Beliau orang besar tapi masih menyempatkan diri mengurusi perkara yang bagi orang lain remeh temeh.

Menjadi Tempat Curhat yang Baik


Kini Kiai Ma'ruf Amin melakukan tindakan yang sama. Sukmawati kepepet, dia butuh perlindungan. Butuh sosok yang dianggap bisa melegitimasi penerimaan permohonan maafnya kepada umat Islam. Kiai Ma'ruf pun menjadi bemper. Tidak apa-apa, itu adalah resiko yang dihadapi beliau sebagai seorang penyeimbang, dan saya yakin beliau memahami posisinya.

Hujatan ke beliau datang dari beberapa aktivis yang dulu menyanjung dan membela beliau secara verbal dalam kasus Ahok. Ini pelajaran berharga, kawan: dalam politik, sekuler maupun politik yang dibalut dengan agama, ada diktum tak tertulis: yang menyanjungmu dengan manis suatu ketika akan melaknatmu dengan penuh semangat. Yang hari ini membungkuk mencium tanganmu dengan takdzim, di lain hari akan menusukmu dari belakang sambil tersenyum. Dan, ingatlah ini, kawan, yang paling semangat mengajakmu ke medan laga biasanya dialah yang paling awal terbirit birit dari medan perang.

Adapun tidak hanya itu  saja, lewat para ulama dan kyai Nahdlatul Ulama. NU menjadi benteng atau gerbang seorang yang akhir-akhir ini sedang menjadi trending topik masuknya bebrapa orang ke agama Islam melalui gerbang Nahdlatul Ulama.

Seperti yang di lakukan oleh Akbar yang dulunya besar di Katolik tidak menyangka dibimbing langsung Kiai Said Aqil Siradj masuk ke agama Islam.

"Dalam dunia saat ini banyak masalah, seperti perubahan iklim, itu Islam punya pandangan yang progresif untuk bagaimana mengatasi perubahan iklim yaitu dengan aktifisme lingkungan serta langkah-lagkah untuk dilakukan dengan menggabungkan prinsip agama seperti green zakat," sambungnya.

Baca: Pemuda Ini Ceritakan Gejolak Batin Mengapa Masuk Islam dan Lewat NU

Lantas Nahdlatul Ulama dengan membawa Islam Nusantara sebagai Islam yang berkebudayaan, Islam yang damai tanpa mencaci maki agama atau perbedaan yang lain menjadi daya tarik untuk lebih mengerti dan memahami agama Islam. [dutaislam/ka]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah