Mengapa Orang Muhammadiyah Diam Terhadap Provokasi Amien Rais?
Cari Berita

Advertisement

Mengapa Orang Muhammadiyah Diam Terhadap Provokasi Amien Rais?

Duta Islam #02
Minggu, 26 Mei 2019

Amien Rais (Foto: istimewa)
Oleh Wahyudi Akmaliah

DutaIslam.Com - Tiba-tiba saya dikeluarkan dari satu grup intelektual Muhammadiyah terkait respon saya mengenai pesan pendek dari anaknya yang disebarkan melalui WhatsApp group, di mana ia siap melawan kezaliman dan siap mati sahid. Bagi saya, jika ingin mati Sahid silahkan, tapi jangan korbankan perekonomian di tanah Abang. Banyak orang bergantung hidup di sana termasuk saya.

Pertanyaannya, di tengah provokasi Amien Rais mengapa tidak ada suara dari Muhammadiyah untuk mengingatkan sekaligus juga menegurnya? Di mana seruan Amar Maruf Nahi Mungkar di tempatkan sebagai garis spirit? Ada banyak intelektual dan orang pintar dari Muhammadiyah, tetapi mereka seakan bungkam. Meskipun Amien Rais tidak lagi duduk dalam pimpinan persyarikatan suaranya di arus bawah masih didengarkan. Di sini, sikap provokasinya justru menodai gerakan Muhammadiyah itu sendiri.

Baca: Andi Arif Ingatkan Prabowo Hati-hati dengan Amien Rais

Saya pribadi dari awal selalu menahan diri untuk tidak mengkritiknya secara terbuka. Dua kesempatan untuk bicara di media televisi dalam waktu prime time saya tolak ketika diminta untuk membicarakan dirinya karena wawancara saya di Tirto kala itu sedang viral. Bagi saya, ia masih guru yang masih dihormati. Namun, makin ke sini, saya tidak bisa menahan diri. Tindakan dan ucapannya justru memantik provokasi lebih luas bukan malah menenangkan.

Ada ragam alasan sebenarnya mengapa kemudian banyak yang bungkam kepada Amien Rais; persoalan keengganan, ketergantungan resource, hingga masa depan karirnya sendiri dalam organisasi besar itu. Sementara, harus diakui ia juga memberikan kontribusi besar juga kepada lingkaran orang-orang sekitarnya. Namun, saat ini sikap diam itu tidak bisa lagi diterima. Tindakannya, biar bagaimanapun membawa citra buruk untuk Muhammadiyah yang tidak berpolitik mengambil titik tengah, yaitu netral. [dutaislam.com/gg]

SourceWahyudi Akmaliah

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah