Ini Manfaat Puasa Untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Ini Manfaat Puasa Untuk Kesehatan Jasmani dan Rohani

Duta Islam #01
Kamis, 02 Mei 2019
Loading...

Puasa untuk kesehatan jasmani dan rohani. Foto: istimewa
Oleh Muhammad Syahid

Dutaislam.com - Puasa adalah menahan dan mengendalikan diri dari memenuhi potensi-potensi dasar kehidupan manusia, terutama kebutuhan makan minum dan aktivitas seksual di siang hari, sehingga bukan hanya menahan lapar dan haus saja, tetapi memperoleh manfaat tersendiri bagi kesehatan jasmani maupun rohani.

Puasa termasuk syariat Islam yang harus tegak di atas keikhlasan. Karena itu puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya, tiada yang mengetahuinya kecuali hanya Allah Swt. Sehingga puasa mempunyai pahala yang sangat besar dan ganjaran yang sangat melimpah, karena ia merupakan pendekatan, kepada Allah Swt. dalam mencari ridha-Nya.

Selain dari kewajiban kepada Allah Swt. dan mengharap pahala, sebenarnya Allah Swt. memerintah sesuatu kepada hambanya dikarenakan memiliki manfaat sebab tidak ada yang Allah Swt. ciptakan dan perintahkan kepada hambanya yang sia-sia, khususnya yang berkiatan dengan puasa. Jadi di sini penulis akan menjelaskan tentang manfaat puasa-puasa.

Manfaat puasa ditinjau dari bidang kesehatan dapat dijelaskan bahwa pada saat berpuasa, tubuh manusia akan mendapatkan energi dari simpanan zat gula dalam bentuk glikogen yang tersimpan di hati dan otot. Stok zat gula ini akan dimanfaatkan pada hari-hari awal puasa.

Setelah itu tubuh akan memanfaatkan simpanan zat lemak, akan tetapi zat lemak ini tidak dipergunakan untuk membentuk sel-sel esensial sama sekali berapapun lamanya waktu puasa. Kemudian tubuh mengumpulkan semua zat yang dihasilkan oleh proses di atas dan memanfaatkannya untuk menghasilkan energi bagi tubuh dan untuk menjaga fungsi kerja organ tubuh dan jaringan lainnya saat berpuasa.

Baca: Agar Puasa Tetap Sehat, Ini 5 langkah yang Harus Kamu Lakukan

Setelah memanfaatkan simpanan glikogen dan lemak, tubuh akan mengoksidasi zat-zat protein dan mengubahnya menjadi gula untuk tetap mempertahankan suplai energi yang dibutuhkan. Ini berarti tubuh menghancurkan jaringan protein yang dimiliki oleh otot sehingga akan menimbulkan rasa sakit pada bagian otot yang proteinnya dihancurkan.

Para ilmuwan menyebut proses pencairan atau penghancuran simpanan lemak dan protein tubuh ini dengan nama "Autolyze". Berlebihan dalam menahan masuknya makanan ke dalam tubuh akan mengakibatkan munculnya gangguan pada kelancaran sistem nutrisi saraf di otak tengah, sehingga akan menimbulkan pengaruh pada kelenjar endokrin dan perilaku serta mental.3

Dari sini baru kita sadari betapa pentingnya aturan puasa di dalam Islam yang dibatasi hanya dalam jangka waktu antara fajar sampai maghrib, tanpa adanya pengharaman terhadap jenis makanan apapun saat berbuka puasa asal tidak berlebihan.

Dari pemaparan fakta di atas, kita bisa mengetahui bahwa masa standar berpuasa yang berkisar antara 12-14 jam, yaitu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Karena pada waktu sepanjang inilah semua mekanisme penyerapan dan metabolisme tubuh terstimulasi dengan seimbang. Sehingga proses penguraian glikogen, oksidasi dan penguraian lemak, serta proses penguraian protein dan pembentukan glukosa baru dari zat protein tersebut semuanya terstimulasi. Waktu sepanjang ini juga tidak mengakibatkan munculnya kelainan yang mengganggu fungsi organ-organ tubuh. Dan pada masa ini pula, otak, sel darah merah, organ saraf.

Baca: Puasa Bukan Untuk Menggeser Jadwal Makan

Puasa sama sekali tidak akan menyebabkan gangguan fisik dan juga efek berbahaya bagi mental. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa saat berpuasa yang terhenti adalah proses pencernaan, bukan proses penyaluran nutrisi.

Sel-sel tubuh tetap berfungsi seperti biasa dan mendapatkan keperluannya dari zat-zat simpanan ini setelah diproses terlebih dahulu yang kemudian dicerna lagi di dalam sel. Maka berubahlah glikogen menjadi glukosa, lemak dan protein menjadi asam lemak dan asam amino. Ini semua merupakan suatu proses yang disebabkan adanya rangkaian rumit dari enzim dan interaksi biokimia.

Beberapa kelompok dokter menegaskan bahwa puasa mampu membantu, mengobati dan meringankan penderitaan akibat penyakit-penyakit sistem pencernaan secara efektif. Seperti: penyakit colon (radang usus besar) dan pembengkakan empedu.

Karena puasa dapat membantu seluruh sistem tubuh beristirahat setelah mengalami kecapekan berlebihan, yang dijalaninya setiap hari. Sebagaimana puasa juga membantu usus besar menjadi stabil karena ketenangan batin yang diperoleh seseorang yang berpuasa. Maka menghilanglah tanda-tanda penyakit usus besar, seperti sakit pada perut, pembengkakan, gangguan pada usus, serta sembelit (susah buang air besar).

Di samping itu, beberapa studi dan percobaan yang dilakukan para peneliti muslim, mengisyaratkan bahwa puasa sangat berguna untuk menyembuhkan radang lambung. Karena puasa berperan menormalkan kadar asam dalam lambung yang diyakini sebagai sebab utama terjadinya asam lambung, juga mengatur pengeluaran zat-zat asam yang mencerna di dalamnya.

Jadi, menurut hemat penulis keteraturan makan yang dimiliki oleh orang yang berpusa inilah yang bisa mencegah terjadinya maag dan bahkan bisa mengembalikan fungsi lambung yang sebelumnya tidak normal.

Baca: Hal-Hal yang Membatalkan Puasa Ramadhan

Puasa sangat efektif membantu para penderita obesitas menurunkan berat badan yang lebih, melalui cara bertahap tanpa kesulitan. Karena kuantitas makanan yang dimakan seseorang menjadi sedikit ketika ia menjalani puasa. Sehingga berkuranglah jumlah lemak yang mengendap di dalam tubuh.

Dari tinjauan ilmiah, Ramadan menjadi awal yang paling balik untuk proses terapi kegemukan yang berlebihan. Seperti diketahui, kebutuhan kalori pada tiap orang mencapai 2.000-2.700 kalori setiap harinya.

Jika seseorang yang menderita berat badan yang berlebihan dapat mengurangi kandungan kalori tersebut hingga mencapai 1.200 kalori setiap harinya, maka ia dapat mengurangi berat badannya sebanyak 5 kg selama menjalankan puasa pada bulan yang diberkati tersebut. Jika itu terjadi, tentu akan menjadi permulaan yang paling baik untuk melanjutkan program dietnya setelah bulan Ramadan.

Selain kesehatan fisik puasa juga dapat meningkatkan kesehatan mental seperti sifat egois, sifat egois adalah orang yang perasaannya terhadap diri sendiri sangat tinggi. Sehingga ia selalu kagum terhadap dirinya, sangat mencintai dirinya, suka memiliki dan menguasai segala sesuatu, baik yang kecil maupun yang besar, serta ingin menguasai orang lain, sangat rakus dan sangat pelit.

Maka puasa dapat memperbaiki perilaku kepribadian seperti itu terhadap orang lain dan mengubahnya sama sekali. Hingga kita menduga bahwa kita berada di hadapan kepribadian orang lain, bukan kepribadian yang biasa kita kenal dan kita ketahui. Karena puasa menjadikan seseorang berada dalam kondisi suka berkorban, memberi dan mengutamakan orang lain atas dirinya. Juga mendahulukan hal-hal yang membuat orang lain gembira.

Baca: Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan

Menahan diri yang diwajibkan kepada orang yang berpuasa baik dari biologis, mental, dan perilaku, yaitu yang dimulai dari menahan makan, minum, berkata kotor, hingga menahan emosi dari cercaan orang lain, semua itu dapat menjadikan diri seseorang sangat terlatih dalam mengatasi pengaruh yang masuk ke dalam tubuh dan emosi yang sangat berhubungan dengan jaringan dalam otak.

Saat seseorang bisa menahan pengaruh luar yang hendak masuk ke titik emosionalnya, berarti ia mampu untuk mencapai level sensory deprivation (level dimana seseorang bisa mereduksi stimulasi yang berasal dari salah satu atau beberapa indranya).

Jadi, menurut hemat penulis bahwa dengan mengerjakan puasa dapat menahan nafsu menghilangkan kesombongan, serta dapat membantu manusia dalam merubah pola pikir dan prilakunya. Maka disinilah letak hikmah puasa yang dapat mempersiapkan jiwa dan ruh kita untuk menerima curahan rahmat dari Allah dan merasakan nikmatnya keimanan.

Selain itu juga dari aspek sosial terdapat manfaat bahwa dengan berpuasa senantiasa membiasakan pengamalnya untuk tetap disiplin, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, serta menimbulkan pearasaan kasih sayang dalam diri muslim serta mengarahkan untuk selalu berbuat kebajikan. [dutaislam.com/ab]
Loading...