Situs Tirto.id Berdosa Kepada Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo
Cari Berita

Advertisement

Situs Tirto.id Berdosa Kepada Pahlawan Nasional Tirto Adhi Soerjo

Duta Islam #01
Selasa, 19 Maret 2019

biografi pahlawan nasional tirto adhi soerja
Coret Tirto.id sekarang juga dari media rujukan!
DutaIslam.Com - Klaim-klaim situs Tirto.id mengikuti jejak jurnalisme yang jernih (clear), mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif, faktual, didukung banyak data kuantitatif dan kualitatif, ternyata hanya isapan jempol.

Selain dari makna jernih, nama Tirto.id juga diambil dari sosok bernama Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), Bapak Pers yang ditetapkan pada 1973, yang juga pahlawan nasional sejak ditetapkan tahun 2006 oleh pemerintah.

Sayang, para pendiri Tirto.id tidak ittiba' (mengikuti jejak jernih) tokoh yang digunakan sebagai nama domain websitenya. Utamanya setelah mereka diketahui sangat kelewatan memposting gambar grafis "menghapus NU" serta memelintir pernyataan KH. Ma'ruf Amin.

Dosa Tirto.id, atas kejadian di atas jelas melukai nama besar Tirto Adhi Soerjo, yang menurut sastrawan senior Pramoedya Ananta Toer, dijuluki sebagai “Sang Pemula” atas jasanya mengawali upaya pencerahan berupa kesadaran kebangsaan lewat jurnalisme di Indonesia, di terbitan Soenda Berita, Medan Prijaji, Putri Hindia, dan pembentukan Sarekat Dagang Islam.

Apa lacur beda Tirto Adhi Soerjo dengan Tirto.id? Jika Tirto dulu yang cerdas dan kritis memanfaatkan surat kabar sebagai sebagai alat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda, kini, Tirto.id jauh panggang meniru almarhum Tirto. Situs yang mengklaim memanfaatkan nama almarhum Tirto kini justru mencabik-cabik persatuan bangsa dengan "menghapus NU" di memenya. Innalillah wa inna ilhi raji'un.

Baca: Kelewatan Terhadap NU, Duta Islam Blokir Iklan Adsense Tirto.id

Tirto.id tidak clear menjaga iklim di dunia maya sebagai media yang, katanya, mencerahkan (enlighten), berwawasan (insightful), memiliki konteks (contextual), mendalam (indepth), investigatif dan faktual.

Para Pendiri Situs Tirto.id

Duta Islam akhirnya menelusuri siapa pendiri Situs Tirto.id. Ada tiga nama yang disebut sebagai muassis (pendiri) situs tersebut. Pertama, Sapto Anggoro, kedua, Teguh Budi Santoso, dan ketiga, Nur Samsi. Berikut kami lampirkan identitasnya, diambil dari situs Tirto.id langsung:

Teguh Budi Santoso (TBS)
Memulai karier kewartawanan sejak 1999, TBS, demikian ia di sapa, kenyang dengan pengalaman editorial hampir di seluruh bidang reportase. Mulai dari entertain, politik peristiwa, olahraga, ekonomi hingga informasi teknologi. Di penghujung karirnya di detik.com, ia dipercaya mengurusi content development. Sejak akhir 2015, TBS bersama dengan Sapto Anggoro dan Nur Samsi mendirikan Tirto.id dan menjabat sebagai Chief Content Officer.

Nur Samsi
Merupakan lulusan dari Politeknik Komputer IPB dan memulai karier di detik.com. Untuk mengejar dan mendapatkan lebih banyak pengalaman, ia kemudian bekerja di berbagai perusahaan multinasional dalam pengembangan perangkat lunak telekomunikasi. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya bekerja dalam proyek asing, sampai kemudian dia kembali untuk membesarkan Binokular. Sejak akhir 2015, bersama dengan Sapto Anggoro dan Teguh Budi Santoso mendirikan Tirto.id dan menjabat sebagai Chief Technology Officer.

Sapto Anggoro
Memulai kariernya sebagai reporter di Surabaya Post, Jawa Timur. Dari sana ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta menjadi Jurnalis di Harian Republika. Melanjutkan karier di detik.com. Ia kemudian menjadi reporter pertama dan Wakil Pemimpin Redaksi tak lama setelahnya. Namun demikian, SAP -biasa ia dipanggil- bukan sekadar Jurnalis. Keahlian bisnis-nya semakin terasah saat menjadi GM Sales dan kemudian menjadi Direktur Operational (2011). Dari sana ia memiliki banyak jaringan dan populer dalam bisnis maupun kegiatan organisasi. Tidak heran, dengan track record-nya ia menjadi Sekjen APJII dari 2012 sampai 2015. Ia pernah menjadi Dewan Eksekutif PANDI. Ia juga menjadi COO Merdeka.com hingga akhir 2015. Sejak akhir 2015, bersama dengan Teguh Budi Santoso dan Nur Samsi mendirikan Tirto.id.

Dosa-dosa para pendiri Tirto.id di atas sudah sampai ke mana jika kepada NU saja, yang selama ini menjaga NKRI saja, seolah berharap dihapus. Silakan nilai sendiri cara kerja jurnalisme mereka. Mendalam dan mencerahkan kah? Atau dobol mukiyo? Sekian editorial kali ini. [dutaislam.com/ab]

close
Banner iklan disini