Cara Bijak Menyikapi Mimpi Baik dan Buruk - Termasuk Mimpi Bertemu Nabi
Cari Berita

Advertisement

Cara Bijak Menyikapi Mimpi Baik dan Buruk - Termasuk Mimpi Bertemu Nabi

Duta Islam #01
Selasa, 24 Desember 2019

cara mengatasi mimpi buruk agar tidak menjadi kenyataan
Cara bijak menyikapi mimpi baik dan buruk. Foto: istimewa.
Oleh Ahmad Sangidu

Dutaislam.com - Sering kita jumpai, orang mengartikan mimpi dan cita-cita ke dalam pengertian yang sama. Padahal keduanya sangat berbeda, layaknya mata uang dua sisi.

Mimpi adalah sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur. Mimpi berarti sekadar angan-angan. Berbeda dengan cita-cita, yang merupakan keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran.

Cita-cita merupakan suatu tujuan yang sempurna yang akan dicapai. Namun demikian, dengan mimpi kita menetapkan sebuah cita-cita. Sebaliknya, dengan cita-cita kita bisa mendapati mimpi.

Dalam hal ini, mimpi bisa datang setiap saat kita sedang tidur. Mimpi datang di antaranya disebabkan oleh pikiran kita saat berada dalam kondisi yang sedang tidak menentu, seperti: galau, gundah, kacau, bahagia, kecewa, bimbang dan sebagainya.

Misalkan sebelumnya kita sedang galau karena esok hari akan mengikuti sebuah lomba, tidak menutup kemungkinan saat kita tidur pulas akan mendapati mimpi sudah menang atau malah kalah dalam lomba tersebut. Hal ini sangat lazim terjadi.

Mimpi terbagi menjadi dua: baik dan buruk. Ketika mendapatkan mimpi baik, maka mimpi akan berupa kabar gembira. Akan tetapi dapat juga berupa peringatan. Sedangkan mimpi buruk biasanya sesuatu yang tidak baik dan sama sekali tidak menyenangkan, namun juga itu bisa menjadi sebuah kabar gembira. Tergantung pada situasi dan kondisi yang sedang dialami.

Contoh: besok pagi akan berangkat ziarah bersama rombongan sekampung. Tiba-tiba malam harinya ketika tidur bermimpi rumahnya kena maling dan semua harta ludes. Ini bisa berarti mimpi buruk tapi berupa kabar gembira, bahwa besok harus dipastikan semua pintu dan jendela tertutup dan terkunci.

Sejatinya, mimpi baik itu berasal dari Allah, sedangkan mimpi buruk dari setan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis berikut:


عَنْ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنْ اللَّهِ وَالرُّؤْيَا السَّوْءُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَمَنْ رَأَى رُؤْيَا فَكَرِهَ مِنْهَا شَيْئًا فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ لَا تَضُرُّهُ وَلَا يُخْبِرْ بِهَا أَحَدًا فَإِنْ رَأَى رُؤْيَا حَسَنَةً فَلْيُبْشِرْ وَلَا يُخْبِرْ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

Artinya:
"Dari Abu Qatadah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Mimpi yang baik datang dari Allah dan mimpi yang buruk datang dari setan, barang siapa yang bermimpi buruk maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syetan niscaya tidak akan membahayakannya. Dan jangan menceritakan mimpi itu kepada siapapun. Dan jika dia bermimpi baik maka bergembiralah dan jangan menceritakannya kecuali kepada orang yang dikasihi".

Hadis ini sangat sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 79 yang berbunyi:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Artinya:
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi". (QS. An-Nisa': 79).

Baca: Mimpi Buruk Masa Kecil dan Doa Menjelang Tidur Kiai Anwar Batang

Melihat dua dalil naqli di atas jelas sekali, mimpi merupakan suatu nikmat dari Allah dan bisa kita dapati baik atau buruk. Tatkala itu baik sudah pasti itu nikmat dari Allah. Tetapi bilamana itu mimpi buruk itu bisa jadi dari setan, atau bisa jadi itu timbul dari diri sendiri.

Sebab diri sendiri dalam keadaan yang tidak menentu, terlebih pada suasana hati yang gusar atau dilema akan sesuatu. Pastinya, mimpi tidak jauh dari keadaan kita yang sedang dialami.

Ada suatu mimpi yang tidak bisa seenaknya kita tafsiri sendiri, melainkan butuh orang saleh atau ulama untuk kejelasannya, yaitu mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw.

Pada suatu hadist disebutkan bahwa mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. merupakan kebenaran hakiki. Sebab, tidak ada satupun yang bisa menyerupai Nabi Muhammad Saw. Perhatikan hadist di bawah ini:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي وَمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Artinya:
"Dari Abu Hurairah ia berkata, "Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berikanlah nama dengan namaku dan jangan dengan julukanku. Karena barangsiapa melihatku dalam mimpinya sungguh dia benar-benar telah melihatku, karena setan tidak sanggup menyerupai bentukku. Dan barangsiapa berdusta terhadapku, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya dalam neraka".

Sabda Nabi Muhammad Saw memang pasti benar. Namun mengingat ini adalah mimpi, berarti ini merupakan angan-angan. Mungkin saja terjadi karena kita sangat cinta dan rindu kehadiran Nabi Muhammad Saw, lalu melakukan berbagai amalan untuk menunjukkan semua itu kepada beliau. Sampai dijawabnya oleh Nabi Muhammad Saw lewat mimpi. Lalu mengapa harus konsultasi kepada ulama atau orang alim? Sebab untuk memastikan.

Memang setan tidak mampu menyerupai Nabi Muhammad Saw. Tetapi setan bisa-bisa saja mengaku Nabi Muhammad Saw. Manusia biasa seperti kita saja bisa mengaku Nabi Muhammad Saw, mengapa setan tidak bisa.

Sebagai penutup, mimpi apa saja yang diperoleh harus kita sikapi dengan bijak. Kita harus mampu memetik hikmah dari mimpi yang telah kita peroleh. Mimpi baik atau buruk sekalipun itu pasti mengandung hikmah.

Jangan sampai kita salah paham, terlebih mengikuti paham yang salah. Semoga kita senantiasa dibeikan petunjuka oleh Allah Swt. [dutaislam.com/ab]


Baca: Mimpi Kelahiran NU dari Madura, Ini Pesan PBNU kepada Kader NU di Madura

Jual Kitab Kuning Pethuk
close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB