Saat Kiai Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) Diteriaki "Kiai Sesat"
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Saat Kiai Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) Diteriaki "Kiai Sesat"

Duta Islam #02
Selasa, 01 Oktober 2019
Loading...

Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Di awal-awal KH Ahmad Dahlan melancarkan gerakannya banyak sekali tantangan dihadapi. Mulai dari dituduh sebagai kiai palsu, kiai kafir, kiai sesat, Kristen Putih sampai caci maki. Bukan hanya dari mereka yang tua-tua tetapi juga anak-anak. Mungkin, anak-anak itu cuma disuruh.

Pada suatu hari sekitar jam 9 jam 10 pagi, ketika KH Ahmad Dahlan sedang menelaah (membaca) salah satu kitab di beranda rumahnya, ada serombongan anak-anak yang mendatangi rumahnya sambil berteriak-teriak (mungkin ada yang menyuruh).

“Kiai sesat, kiai sesat, kiai sesat. Kiai palsu, kiai palsu, kiai palsu …”

Mendengar suara riuh itu Kiai Dahlan keluar sambil tersenyum. Anak-anak itu masih berteriak-teriak, “Kiai palsu, kiai palsu, kiai palsu. Kiai sesat, kiai sesat, kiai sesat”, dan seterusnya.

Kiai Dahlan tetap berdiri di depan rumahnya memperhatikan anak-anak itu sambil tersenyum. Bahkan kemudian Kiai Dahlan ikut bertepuk tangan mengikuti irama teriakan anak-anak itu juga sambil menirukan apa yang diteriakkan anak-anak itu, “Kiai palsu-kiai palsu, kiai palsu. Kiai sesat, kiai sesat, kiai sesat.”

Mungkin karena mereka (anak-anak) itu lelah berteriak atau karena heran, karena Kiai Dahlan tidak marah, maka mereka lalu berhenti berteriak dan ‘mlongo dan ndomblong” (terbengong-bengong).

Ketika berhenti Kiai Dahlan bertanya, ‘Lho kok berhenti? Ayo terus! kata Kiai Dahlan.

Karena anak-anak itu diam, kemudian dgn senyum kebapakan dan penuh wibawa kiai mendekati anak-anak menyalami anak-anak itu satu persatu sambil ditanya namanya siapa? Ayahnya siapa? Rumahnya di mana? dan seterusnya.

Kemudian, Kiai Dahlan duduk di undak-undakan (tangga rumah) sambil mengajak anak-anak duduk di sekitarnya. “Mari, duduk di sini”, kata Kiai Dahlan.

Karena keramahan sekaligus kewibawaan Kiai Dahlan, anak-anak itu pelan-pelan satu per satu duduk di sekitar kiai. Kiai Dahlan tidak mempersoalkan teriakan, tetapi menanyakan di mana rumahnya, putranya siapa, pekerjaan orang tuanya apa?

Juga ditanyakan pula ada yang sekolah apa tidak? Dulu, tidak setiap anak bisa sekolah. Kalau habis maghrib apa ada yang ikut mengaji. Kalau ngaji, ngajinya di mana, siapa yang mengajar mengaji? Dan seterusnya.

Setelah mendapat jawaban anak-anak itu, kiai bertanya. “Apa kamu semua mau bermain bersama saya? Apa kamu semua mau saya dongengi?”

Tawaran yang simpatik itu dijawab oleh mereka serempak, “Mau kiai, mau kiai”.

Kata kiai, “Baik, kalau mau, sekarang masuk ke rumah”

Kemudian Kiai Dahlan minta Nyai membeberkan tikar dan membuatkan minuman. Setelah itu Kiai Dahlan mendongeng suatu kisah yang diambilkan dari tarih Islam. Karena cara mendongengnya menarik, kadang-kadang disertai dialog yang komunikatif, tokoh-tokoh yang didongengkan itu seakan-akan hidup. Anak-anak terpukau keasyikan.

Ketika mendengar azan dhuhur, kiai berhenti dan berkata. “Itu sudah terdengar azan sekarang kita berhenti, shalat dulu. Sekarang kamu berwudhu, ada yang belum bisa berwudhu? Terus shalat bersama saya di langgar itu. Ada yang belum bisa shalat? Nanti habis shalat kita ke sini lagi”.

Ketika anak-anak keluar untuk berwudhu, Kiai Dahlan membisiki Nyai Dahlan, “Tolong sediakan makan siang ala kadarnya untuk anak-anak itu. Kita kedatangan murid-murid baru,” kata kiai.

Selesai shalat anak-anak diajak makan. Selesai makan, Kiai Dahlan berkata, “Nah, sekarang pulang dulu, kapan-kapan boleh main ke sini,” ucap Kiai Dahlan.

Tentu saja setelah itu tidak ada lagi cacian dan makian terhadap KHA Dahlan. Yang ada adalah, sekelompok anak-anak yang dengan gembira dan ceria belajar baca Al Qur’an, belajar agama kepada Kiai Dahlan.

Rupanya, Kiai Dahlan memanfaatkan cacian itu sebagai momentum untuk mendapatkan murid baru. [dutaislam.com/gg]

Judul asli "Kisah KH. Ahmad Dahlan Mendapatkan Murid Baru" Sumber: muhammadiyah.or.id dari Sukriyanto AR, Kisah-kisah Inspiratif Para Pimpinan Muhammadiyah, hlm. 69-71.

Loading...