Dosa PA 212 Kepada Agama dan Negara
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Dosa PA 212 Kepada Agama dan Negara

Duta Islam #03
Senin, 21 Oktober 2019
Loading...

PA 212. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Persaudaraan Alumni (PA) 212 lahir dari rahim gerakan aksi berjilid-jilid yang puncaknya adalah aksi 212 di Monas Jakarta 2016 lalu. Saat itu mereka menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok karena dianggap menistakan agama.

Posisi Ahok yang sedang menduduki jabatan politik dan bersamaan momentum jelang Pilkada DKI Jakarta memperkuat indikasi bahwa aksi atas nama agama itu sarat dengan politik. Ahok telah divonis bersalah jauh sebelum pegadilan memutuskan bersalah. Sejak itulah agama menjadi komuditas baru untuk menghancurkan atau mengangkat seseorang dalam politik.

Fenomena ini terus santer hingga Pilpres 2019. Agama yang seharusnya menjadi pegangan bagaimana berpolitik yang baik dan etis telah diturunkan derajatnya bahkan kepemiliknya telah diklaim oleh sekelompok orang. Konsekuensinya, siapapun yang tidak sepakat dengan kelompok tersebut berarti salah dan tak segan dituduh menentang agama.

PA 212 menjadi lakon utama dalam kontestasi politik dengan jubah agama ini. Rangkaian Ijtima Ulama 212 yang digelar berkali-kali sepanjang proses Pilpres 2019 menjadi bukti nyata akan hal ini. Mereka yang mengatasnamakan ulama dan tokoh umat  selalu memonopoli kebenaran agama. Mereka mengklaim diri sebagai kelompok yang berbuat kebajikan dengan tanpa sadar bahwa mereka telah berbuat dosa karena dusta dan kebohongan.

Kebohongan mereka menjadi semakin nyata ketika mereka masih kukuh menolak Jokowi-Ma'ruf setelah hasil ijtima ulama yang menganggap Jokowi curang Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM) tidak bisa dibuktikan di Mahkamah Konstitusi (MK). Penolakan yang tanpa dasar itu masih diteruskan hingga Jokowi-Ma'ruf dilantik dan resmi menjadi Preside RI priode 2019-2024. Mereka beralasan Jokowi dzalim dan mereka masih berpedang pada hasil Ijtima Ulama bahwa Jokowi-Ma'ruf telah melakukan kecurangan.

"PA 212 berpegang pada hasil Ijtima ulama 4 salah satu poin utamanya menolak kekuasaan yang dihasilkan dari kecurangan dan kezaliman serta menjaga jarak dengan kekuasaan tersebut." Demikian kata Ketua PA 212 Slamet Ma'arif, Ahad (20/10/2019) dikutip dari CNNIndonesia.com.

Sebagai kelompok yang juga bebas mengemukakan pendapat dalam negara demokrasi, penolakan mereka terhadap pemeritahan Jokowi sah-sah saja. Tapi sikap mereka yang menentang keputusan konstutusi ini menjadi bukti bahwa mereka keras kepala. Dari sikap mereka publik menjadi tahu bahwa mereka adalah kelompok manusia berkepala batu yang terus menyemburkan debu namun susah digebyur banyu.

Jangan kaget bila PA 212 menentang pemerintah atas nama agama karena memang itulah fitnah mereka. Mereka memang lahir dari dosa dan akan terus berbuat dosa dengan memperdagangkan agama untuk politik. Sikap mereka yang menolak presiden yang sah secara kontitusi adalah dosa lain terhadap konstitusi. Semoga mereka segera tobat. [dutaislam.com/pin]




close
Banner iklan disini