Bersarung dan Berkopiah, Tapi Mempersatukan Bangsa Itulah NU
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Bersarung dan Berkopiah, Tapi Mempersatukan Bangsa Itulah NU

Duta Islam #07
Senin, 21 Oktober 2019
Loading...

tradisi unik pesantren
Bersarung dan berkopiah, tapi mempersatukan bangsa. Foto: istimewa 

DutaIslam.Com - Ketika menyebut nama NU apalagi di lapangan maka salah satu yang terbayang ialah santri atau jamaah putra bersarung dan berkopiah. Kebanyakan terdapat di pedesaan. Dengan kesederhanaan dan kesahajaan. Sehingga kesan NU sebagai kelas "ndeso" memang harus diakui benar adanya.

Mengapa warga mayoritas NU seakan terjebak dalam situasi yang "ndeso" ini?

Jawabannya ialah: karena NU dalam sejarahnya sangat konsisten melawan penjajah Belanda.

Perlawanan paling efektif ialah melalui perlawanan kultural. Sudah dilakukan oleh warga NU semenjak jauh sebelum Mahatma Gandhi menggaungkan ahimsa, swadesi, dan satyagraha.

Warga NU memilih menyingkir dari kehidupan gaya Eropa yang diperkenalkan penjajah. Menolak cara berbusana modern dan sistem pendidikannya.

Sehingga tidak heran jika pesantren jaman dulu terletak di pinggiran, pedesaan atau pegunungan. Menjauhi hiruk pikuk duniawi.

Baca: Kajian Tentang Celana Cingkrang, Sunnahkah?

Saking jengkelnya Belanda sudah tidak terhitung lagi berapa Pesantren yang dibumihanguskan dan para kyai dibunuh. Ketika Indonesia merdeka hingga reformasi tiba, para santri tetap istiqomah dengan eksistensinya. Dan santri tidak pernah malu disebut "ndeso".

Namun, seringkali banyak yang tidak menyadari, dibalik gaya yang lokal banget inilah, mutiara-mutiara disimpan dengan eloknya. Ketika masa reformasi tiba... Ketika bangsa diambang jurang disintegrasi, ternyata yang menyelamatkan persatuan dan kesatuan Republik Indonesia ialah seorang santri...!!!

Dialah KH Abdurrahman Wahid. Yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur. Santri yang katanya ndeso ini mengangkat martabat bangsa Indonesia hingga tetap utuh dari Sabang sampai Merauke hingga saat ini.


Tradisi Unik Pesantren


Ketika di kemudian hari, gerakan radikal menemukan momennya. Ketika ekonomi syariah harus digalakkan. Ketika sudah mulai ada tuduhan bahwa negeri ini sudah dikuasai oleh kelompok komunis. Maka, tampillah santri NU merekatkan semuanya. Dialah KH Makruf Amin. Dipasangkan dengan Ir. H Joko Widodo siap mengemban amanah sebagai nahkoda bangsa Indonesia.

Silakan saja mengatakan NU maupun santri sebagai komunitas ndeso, sebab itu merupakan konsekuensi kami menyelamatkan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah dan memperjuangkan bangsa dan negara.

Namun, jika ada dari kalian yang mengatakan NU dan santri itu bodoh, maka berfikirlah ulang. Sudah terbukti NU menjadi ormas terbesar di dunia dan santri NU sudah jadi Presiden dan Wakil Presiden.

Sedangkan yang kalian anggap pintar dan modern itu paling juga cuma jadi timses gagal. Bahkan bisa jadi kamunya itu sendiri, jadi RT saja nggak. NU dan santri dengan style local tetap menjadi kader terbaik negeri ini dengan kesegalaannya. Sehingga bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju di dunia. [dutaislam.com/ka/ed]

close
Banner iklan disini