Berperan Jadi Pemerintah, Felix Bikin Tafsir Serampangan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Berperan Jadi Pemerintah, Felix Bikin Tafsir Serampangan

Duta Islam #03
Sabtu, 12 Oktober 2019
Loading...

Felix Siauw. Foto: dutaislam.com. 
DutaIslam.Com - Tokoh HTI Felix Siauw semakin hari semakin menjadi-jadi. Memang dia sudah jarang berbicara khilafah, tapi serangan dengan narasi terhadap pemerintah sangat berbahaya. Bisa jadi racun bagi pemahaman masyarakat.

Bagi Felix pemerintah tidak ada kebaikan sama sekali. Tidak ada benarnya sama sekali. Semua yang dilakukan pemerintah salah. Narasi-narasi yang dibikin Felix melalui tulisanya bukan lagi kritik logis mencerdaskan. Tapi semacam doktrin yang semua orang harus percaya. Tak butuh dalil, tak butuh bukti. Tak jelas kemana arahnya. "Yang penting pengikut saya dan orang awam harus percaya." Mungkin begitu yang ada dibenak Felix.

Redaksi baru saja membaca tulisan terbarunya yang berjudul "Negeri Sak Karepku". Dari judulnya sudah kelihatan, menggambarkan satu sikap egoisme yang sangat tidak sesuai dengan kenyataan. Tafsir terhadap pemerintah pun sangat naif dan serampangan.

Berikut ini adalah tulisan Felix lengkap. Silahkan disimak. Bacalah dengan akal, jangan dengan perasaan.

Negeri Sak Karepku

Pertama aku harus jelaskan ke kamu semua, rakyat-rakyat tak tahu diri, yang cuma bisa menuntut dan menyusahkan. Bahwa aku adalah negara, aku adalah dasar sekaligus konstitusinya

Akulah negara, dan negara adalah aku, dan jika kamu rakyat menggangguku, itu artinya mengganggu negara, bila kalian menghinaku itu artinya menghina negara, dan bila kalian tak sependapat denganku, sama seperti kalian berbeda dengan haluan negara

Aku, dipilih sah oleh rakyat, aku diangkat oleh rakyat, maka aku punya kekuasaan mutlak, termasuk untuk mengatur kalian yang selalu banyak protes, merasa kurang, dan banyak mulut. Karena akulah kekuasaan

Jangan berani tanya-tanya soal hukum dan keadilan, kalian tau apa hah! Asal tahu aja, yang buat hukum itu semua kawan-kawanku. Keadilan adalah apa yang aku tetapkan, sebab hukum itu omonganku, ikuti omonganku, itulah ketaatan hukum

Aku nggak perlu alasan untuk apapun, sebab apapun takkan bisa berlangsung kalau tak asa aku. Kalau aku sudah mau, ya sudah. Kalau aku tak mau, urusanmu tak setuju, emang kamu siapa?

Kalau aku bilang ustadz ini radikal, nggak usah tanya. Kalau aku bilang ini tindakan teroris, jangan bandingkan sama makar dan pembantaian di tempat yang jauh. Aku nggak suka aja, dan kalau kamu masih nekad, itulah terorisme sebenarnya

Aku bisa aja bilang tindakanmu itu nggak menyenangkan bagiku, dalam sekejap, ada banyak ulama di istanaku yang akan keluarkan fatwa untuk mulut bodohmu, aparat yang menindakmu, dan buzzer yang membuatmu pasti salah di sosial media

Terserah aku kalau aku nggak izinkan kajian apapun yang nggak aku suka, sak karepku lah, aku nggak perlu penjelasan, aku nggak perlu alasan. Aku bisa suruh rektor manapun korbankan logika akal, sebab aku yang tentuin mereka rektor atau bukan

Urusan keadilan. Aku pegang penegaknya. Terus kalian mau apa? Inget aja, kalau kalian semua melawan, kalian lawan negara. Dasar orang-orang nggak tau diri. Ngurus negara itu susah tau nggak. Bantu nggak, ngeluh aja

Dasar nggak tau diri kamu semua. Asal tau aja, kalian bisa aja lebih sengsara kalau aku mau. Bersyukurlah kalian semua, karena aku masih baik sama kalian

Nggak setuju? Ora urus. Sak karepku lah!

Bagi redaksi sah-sah saja memberikan kritik atau masukan pemerintah selama kritik dan masukan itu jelas. Ada fakta, ada peristiwa, dan persoalan. Baru dibedah. Dikritisi. Diberi masukan yang sesuai dengan regulasi. Sebaliknya bukan memperlakukan pemerintah seperti anj*ng yang najis: disentuh dilarang, apalagi di makan, sah dirasani, dicaci maki tanpa batas tanpa henti, dan semaunya sendiri. [dutaislam.com/pin]

Loading...