Ketika Felix Siauw yang Anti Pancasila Mendadak Jadi Penafsir Pancasila
Cari Berita

Advertisement

Ketika Felix Siauw yang Anti Pancasila Mendadak Jadi Penafsir Pancasila

Duta Islam #03
Kamis, 03 Oktober 2019

Ustad HTI Felix Siauw. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Masih dalam suasana Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, Pancasila sebagai ideologi negara tiba-tiba dikotori dengan tafsir oleh orang yang dikenal anti terhadap Pancasila. Pancasila ditafsirkan secara serampangan dan sesuka hati.

Felix Siauw, salah satu dedengkot HTI yang penah menyebut bahwa nasionalisme tidak ada dalilnya, dengan jumawa tiba-tiba bicara Pancasila. Tafsir Felix terhadap Pancasila dituangkan dalam sebuah tulisan berjudul "Katanya Pancasilais" yang diposting di Instagram @felixsiauw 03 Oktober 2019.

Tidak ada larangan bagi siapapun untuk berbicara Pancasila. Tapi menafsirkan Pancasila tidak bisa dilakukan semua orang. Terutama oleh orang yang tidak paham sejarah bagaimana Pancasila itu dirumuskan. Namun Felix dengan PeDe-nya melakukan itu. Dan kita tahu bahwa Felix adalah salah satu tokoh HTI yang menolak NKRI begitu juga Pancasilanya.

Maka tidak heran jika dalam pembahasannya tentang Pancasila Felix sampai kepada kesimpulan bahwa keadilan sosial tidak terjadi di Indonesia lantaran Indonesia tidak punya pemimpin yang taat dan tunduk kepada hukum Allah. Satu kesimpulan yang melenceng.

"Maka wajar kita tak mendapati keadilan sosial, sebab kita tak memiliki pemimpin yang mau tunduk pada hikmah (apa yang Allah turunkan), dan enggan bermusyawarah." demikian salah satu ungkapan Felix.

Pernyataan Felix adalah tafsir sepihak dan emosional atas Pancasila. Kepercayaan Felix terhadap paham khilafah ala HTI sangat berpengaruh. Tafsir tersebut akan problematis andai pemimpin Indonesia bukan dari orang Islam. Padahal dalam prosesnya, Pancasila dirumuskan untuk kemajemukan agama di Indonesia. Makanya para pendiri bangsa  menyebut Ketuhanan yang Maha Esa, tidak menyebut Allah SWT.

Felix juga keliru dalam memaknai konsep musyawah. Barangkali yang disebut musyawarah bagi Felix adalah seluruh bangsa Indonesia berkumpul di satu tempat kemudian berdiskusi bersama-sama.  Satu konsep yang sangat ideal tetapi mustahil dilakukan di negara yang seluas Indonesia dengan beragam suku dan agama. Jelas ini melenceng dari konsep musyawarah yang dimaksud oleh perumus Pancasila dan pendiri bangsa.

Felix keliru memahami permusyawaratan karena ia menegasikan bunyi yang lain dari Pancasila yaitu "Perwakilan". Andai kata itu dipahami maka tidak mungkin Felix sampai pada kesimpulan bahwa pemerintah enggan bermusyawarah. Karena musyawarah itu sudah terjadi melalui perwakilan rakyat berupa MPR dan DPR. MPR dan DPR secara konstitusi sah menjadi wakil rakyat karena mereka dipilih oleh rakyat secara langsung.

Maka ketika Felix menafsirkan Pancasila maka ada dua kemungkinan. Pertama, satu bentuk kesombongan. Felix tidak sadar diri, tidak sadar kapasitas, hingga dia pun berlagak seperti orang paling paham Pancasila dengan penafsirannya.

Kedua, Felix kemungkinan sadar tidak begitu paham Pancasila. Namun dia sengaja membuat tafsir untuk mengaburkan makna Pancasila. Atau hanya sebagai propaganda politik untuk menghantam pemerintah dan mengkampanyekan khilafah. Anggapan ini masuk akal setelah mencermati akhir tulisan Felix:

"Andai saja penguasa saat ini mau menyadari, kekeliruan yang sangat besar, bernarasi bahwa Islam seolah sumber masalah Indonesia, padahal sejatinya Islam itu dasar semuanya."

Menjadi jelas bukan? [dutaislam.com/pin]









close
Banner iklan disini