Tangkap Provokator Penghujat Banser Saat Parade Ukhuwah di Solo
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tangkap Provokator Penghujat Banser Saat Parade Ukhuwah di Solo

Duta Islam #02
Minggu, 01 September 2019
Loading...

Provokator Parade Ukhuwah di Solo yang menyebut Banser dengan Banci Serem. Foto: Dutaislam.com.
DutaIslam.Com - Sebelum Parade Ukhuwah di Solo berlangsung, redaksi sebenarnya sudah sedikit cemas. Bukan karena redaksi tidak mendukung kegiatan keagamaan, terutama dalam rangka memperingati hari Besar Islam 1 Muharram.

Redaksi cemas karena belakangan agama kerap kali dijadikan alat untuk kepentingan politik dan adu domba antar umat beragama khususnya umat Islam di Indonesia. Selain itu, Parade Ukhuwah dengan mengibarkan bendera tauhid, meskipun bukan kegiatan HTI, sangat rentan disusupi HTI.

Redaksi tidak menolak bahwa Bendera Tauhid dulu adalah Bendera Rasulullah. Tapi sekarang bendera tersebut digunakan sebagai Bendera HTI. Di sinilah akar persoalannya. Kadang-kadang kita tidak tahu bahwa dibalik bendera tauhid ada ideologi yang justru bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

Kita telah sama-sama tahu bahwa HTI termasuk ormas yang berbahaya dan mengancam NKRI. Setelah dibubarkan pemerintah, mereka terus melakukan tipu daya untuk memecah belah dan mengadu domba umat Islam di Indonesia.

Kita boleh saja bilang bahwa HTI telah dibubarkan. Tapi fakta yang tidak bisa ditolak, tokoh-tokoh HTI sampai sekarang terus gencar kampanye khilafah di Indonesia.

Kecemasan redaksi semakin terang saat panitia juga mengundang tokoh HTI Felix Siauw. Harus kita catat bahwa Felix adalah salah satu tokoh HTI. Seperti tokoh-tokoh HTI yang lain, Felix belum menyatakan setia NKRI. Biar bagaimana pun Felix Siauw harus terus dicegah, bukan malah diberi panggung.

Di acara Parade Ukhuwah, Felix tidak kampanye khilafah. Tapi terus menerus memberikan Felix panggung sama halnya menjadikan Felix terus besar dan banyak pengikut. Felix ibarat sumbu yang nantinya siap membakar dan meledakkan kegaduhan setelah semakin banyak pengikutnya jika dia tidak bertaubat dan kembali ke pangkuan NKRI.

Redaksi cemas Parade Ukhuwah akan berdampak buruk bagi kehidupan keagamaan dan kebangsaan serta persaudaraan di Indonesia. Kecemasan itu terbukti begitu ukhuwah berlangsung.

Pertama, selain hadirnya tokoh HTI, pengibaran bendera tauhid menjadi bahan bagi HTI untuk kampanye khilafah. Fakta ini bisa kita lihat di Twitter. Tokoh HTI seperti Shiddiq Al-Jawi dan akun-akun HTI seperti Moslem Community telah menjadikan foto dan video parade ukhuwah untuk menghembuskan khilafah. Pada kesempatan yang sama tagar #KhilafahWillComeBack pun menjadi trending topic di Twitter.

Ini berbahaya. Terutama bagi generasi muda yang gemar berselancar di medsos tetapi belum bisa memverifikasi informasi dengan baik dan benar. Mereka akan mudah meyakini bahwa suara medsos adalah suara mayoritas. Mereka tidak tahu bahwa medsos dapat dikendalikan untuk menggulirkan isu dan mempengaruhi orang lain (pembaca).

Kedua, parade ukhuwah ternyata digunakan salah satu orator untuk menghujat Banser. Narasi-narasi kebencian diperdengarkan kepada peserta parade. Parade Ukhuwah yang semestinya digaungkan untuk mempererat persaudaraan ternyata jadi ajang untuk menghujat sesama umat Islam hanya karena perbedaan pandangan.

Siapapun boleh tidak setuju dengan Banser. Siapapun boleh tidak peduli dengan Banser. Tapi tindakan menghujat tidak bisa dibenarkan dalam agama dan dengan alasan apapun. Terlebih jika hujatan itu bernada fitnah dan hanya untuk menyebarkan kebencian kepada pihak lain.

Redaksi sudah menonton video provokator hujatan kepada Banser itu. Redaksi juga tahu bagaimana Banser diteriakkan sebagai Banci Serem dengan alasan karena tidak turun ke Papua saat kerusuhan beberapa waktu lalu.

Ungkapan tersebut tentu sangat tidak berdasar kewarasan berpikir dan kepantasan berbicara. Bagaimana bisa Banser dihujat karena tidak turun ke Papua, sedangkan Banser bukan TNI.

Si penghujat tidak sadar bahwa dirinya hanya berbicara berdasarkan nafsu tanpa tahu aturan hidup yang berpegang pada aturan hukum. Seandainya dia tahu hujatan itu tentu tidak akan keluar dari mulutnya. Begitulah ciri orang yang hanya mengukur kebenaran berdasarkan emosi, bukan dengan fakta dan akal sehat.

Bagi Redaksi, tak ada pilihan lain kecuali orang itu segera ditangkap dan diberi pelajaran. Jika tidak dia akan semakin berulah dan petingkah menyebarkan kebencian. [dutaislam.com/pin]

Loading...