Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 12, Tiga Perilaku Tercela
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 12, Tiga Perilaku Tercela

Duta Islam #04
Senin, 02 September 2019
Loading...

Penjelasan kandungan Surat al-Hujurat ayat 12 (sumber: istimewa0
Surat al-Hujurat ayat 11, 12 serta 13 mempunyai keterkaitan satu sama lain. Surat al-Hujurat ayat 11 membincang tentang larangan memandang rendah orang lain atau diri sendiri. Di samping itu, al-Hujurat ayat 11 juga menekankan untuk tidak memanggil orang lain dengan nada ejekan.

DutaIslam.Com - Sementara Surat al-Hujurat ayat 13 mengajarkan persamaan kedudukan manusia. Manusia di mata Allah SWT mempunyai derajat yang setara dan sepadan. Yang membedakan adalah ketakwaannya kepada Tuhan yang Maha Esa.

Sedangkan Surat al-Hujurat ayat 12 berbicara tentang larangan berprasangka buruk kepada orang lain. Sebab, prasangka buruk merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Ia menjadi awal dari perpecahan dan perselisihan.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11, Larangan Memandang Rendah Orang Lain

Di dalam Surat al-Hujurat ayat 12 ini, Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjauhi berprasangka buruk. Perilaku ini biasanya dapat mengantarkan pada keburukan yang lain, seperti menggunjing atau mencari-cari kesalahan orang lain.

Oleh karena itu, Allah SWT di dalam Surat al-Hujurat ayat 12 melarang pula perilaku menggunjing dan mencari-cari kesalahan orang lain, berbarengan dengan larangan berprasangka buruk. Karena, ketiga sifat ini satu sama lain saling berhubungan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

" Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berburuk sangka (kecurigaan) karena sebagian dari berburuk sangka itu dosa. Dan janganlah mencaricari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS. al-Hujurat: 12).

Baca: Tafsir Surat Thaha Ayat 44, Etika Kritik Sosial

Surat al-Hujurat ayat 12 secara umum membicarakan 3 perilaku, yakni berburuk sangka, menggunjing dan mencari-cari kesalahan orang lain. Perintah pertama di dalam Surat al-Hujurat ayat 12 tentang larangan berburuk sangka atau menaruh kecurigaan kepada orang lain.

Allah SWT dalam menyatakan larangan tersebut dengan redaksi اجتنبوا dengan menggunakan bentuk amar. Prof. Dr. Quraish Shihab di dalam kitab Tafsir al-Misbah menjelaskan, kata اجتنبوا berasal dari kata جنب yang bermakna samping.

Dalam hal ini, mengesampingkan sesuatu berarti menjauhkan dari jangkauan tangan. Dari sini kata tersebut diartikan jauhi. Penambahan huruf ta’ pada kata tersebut berfungsi penekanan yang menjadikan kata berarti bersungguh-sungguhlah. Upaya sungguh-sungguh untuk menghindari prasangka buruk. (Tafsir al-Misbah, hal. 253).

Dari sini, Allah SWT begitu melarang hamba-hambanya-Nya yang beriman dari berprasangka buruk, yakni mencurigai keluarga dan kaum kerabat serta orang lain dengan tuduhan yang buruk yang bukan pada tempatnya. Karena sesungguhnya sebagian dari hal tersebut merupakan hal yang murni dosa.

Baca: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 6, Membudayakan Tabayyun

Kemudian larangan selanjutnya mencari-cari kesalahan orang lain. Kata تجسسوا berasal dari kata تتجسسوا (dengan dua huruf ta), lalu salah satu dari huruf ta dibuang sehingga menjadi تجسسوا, yang artinya janganlah kalian mencari-cari aurat dan keaiban mereka dengan cara
menyelidikinya.

Selanjutnya adalah larangan mengguncing atau membicarakan di belakang orang lain. Menggunjing atau dalam bahasa Arabnya adalah ghibah. Ghibah merupakan perilaku menyebut-nyebut dengan terang-terangan, atau dengan isyarat atau dengan cara lain yang bias diartikan sebagai perkataan.

Ghibah (mengumpat) merupakan salah satu perbuatan lisan yang
harus dijaga. Perilaku ini baik dengan lisan, tulisan atau isyarat hukumnya haram, karena ghibah dapat membuka kekurangan atau keburukan seseorang yang tidak disukainya.

Baca: Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 73, Peringatan Kepada Umat Islam

Oleh karena itu, Allah SWT di dalam Surat al-Hujurat memperumpamakan orang yang gemar ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya sendiri. Dengan tegas, Allah SWT bertanya kepada orang yang suka menggunjing, Apakah kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?

Pertanyaan tersebut menegaskan bahwa Allah SWT sangat melarang perilaku ghibah. Sebab, tidak ada satu orang pun yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati. [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini