Menemani Wanita Hebat, Mama Rohaya
Cari Berita

Advertisement

Menemani Wanita Hebat, Mama Rohaya

Duta Islam #02
Minggu, 08 September 2019


Oleh Muchammad Nabil Haroen

DutaIslam.Com - Sejak kurang lebih enam bulan yang lalu, saya mendapatkan kesempatan istimewa. Menemani ibu mertua saya yang sedang mengalami sakit yang hebat. Mama, begitulah saya memanggil wanita yang bernama Rohaya ini. Beliau terlahir di Kota Metro, 67 tahun silam.

Dua bulan pertama di Jakarta, secara intensif, kami merawat mama dan mengkonsultasikan perihal kesehatan beliau di salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta. Tidak kurang dari lima profesor handal yang menangani beliau. Dalam diagnosa akhir, kami mendapatkan kabar yang kurang baik. Beliau menderita kanker stadium akhir di ususnya. Bahkan di paru-parunya terisi penuh dengan air.

Karena air yang memenuhi paru-paru itulah yang membuat Mama sulit bernafas dan merasakan sesak di dadanya. Dokter kemudian menyarankan untuk menguras air itu dengan cara disedot, dan keluarlah cairan 1000 ml. Setelah itu, kami pun kembali menerima informasi yang kurang membahagiakan. Bahwa dalam kurun dua minggu, paru-paru mama akan kembali penuh terisi air. Untuk menghindari itu (air memenuhi paru-paru), dokter menyarankan untuk dipasang selang dengan cara operasi di paru-parunya. Sebuah pilihan yang sulit kami terima, karena kondisi tubuh beliau yang tak seprima dulu. Akhirnya, kami (keluarga) menyepakati untuk mencari metode pengobatan alternatif untuk kesembuhan mama.

Pilihan itu menjadi logis bagi kami, karena tidak tega jika badan mama tergores pisau operasi dan menyaksikan matinya banyak sel karena kemoterapi. Kami memilih pengobatan dengan ramuan-ramuan tradisional. Berkat kerja keras mama untuk sembuh dikombinasi dengan ramuan, dan tentunya atas izin Allah, paru-paru Mama sudah tak lagi terisi air sama sekali.

Selama enam bulan berlalu, saudara datang silih berganti, menjenguk Mama dan memberi dukungan untuk bangkit. Dukungan mereka tak sia-sia. Karena perkembangan kesehatan Mama terus membaik, perut mama tak lagi besar seperti sedang mengandung jabang bayi sembilan bulan.

Jika dulu Mama tidak bisa tidur menghadap ke kanan, setelah melewati pengobatan ini, Mama bisa melakukannya. Dan banyak rasa sakit yang dulu Mama derita nyaris tiada dan tidak Mama rasakan lagi. Perjuangan Mama dalam melawan sakit yang dideritanya sungguh luar biasa.

Hingga pada seminggu yang lalu, tiba-tiba perut Mama tak lagi menerima makanan masuk. Hingga akhirnya beliau gemetar dan membuat kondisi Mama mendekati fase kritis. Lalu kami membawa Mama di salah satu rumah sakit di Depok untuk mendapatkan penanganan medis. Ketika dokter UGD melihat hasil diagnosa terakhir Mama 6 bulan yang lalu, dokter seakan ragu Mama bisa disembuhkan. "Sepertinya tidak ada pengobatan lagi, kecuali hanya memperbaiki kualitas hidup pasien saja," begitu kata dokter. Kami pun hanya bisa mengangguk pelan, dalam hati kami berkata, memang hanya itu yang kami harapkan. Karena lima profesor di RS sebelumnya sudah "lempar handuk".

Selama di rumah sakit, Mama terus mendapatkan asupan nutrisi, juga observasi dari dokter. Kami, anak-anaknya juga selalu mendampingi beliau, juga cucu-cucunya. Saat kami semua berkumpul, sangat jelas dan nampak kebahagiaan di wajah Mama. Tiap saat dan waktu, tak henti-hentinya kami lantunkan ayat-ayat al Quran dan kalimah thayyibah.

Perkembangan kondisi Mama sempat mengalami masa-masa sulit pada 5 hari pertama. Namun puasa yang Mama jalankan pada 3 hari terakhir, mengantarkannya pada kondisi yang jauh lebih baik. Dan tepatnya pada hari sabtu siang, dokter bahkan mengizinkan Mama dibawa kembali ke rumah setelah tubuhnya sudah kembali dapat mengonsumsi makanan dalam jumlah yang besar. Sabtu sore, selepas mengecek administrasi rumah sakit, saya dan istri pulang ke rumah dan berencana kembali ke RS esok harinya. Kami seakan yakin Mama yang sudah membaik akan jauh lebih membaik lagi.

Namun tiba-tiba saja ponsel saya berbunyi. Kakak memberi kabar bahwa kondisi Mama berubah drastis, lebih tepatnya kritis. Kami pun segera bergegas untuk menengok Mama. Sesampainya di kamar tempat Mama berbaring, beliau seperti memberikan tanda-tanda bahwa beliau ingin pulang. Bukan pulang ke rumah kami, tapi ingin berpulang ke "rumah abadi", menghadap Sang Penciptanya.

Kami sekeluarga lantas mendampingi dan menuntun Mama berdzikir, Laa ilaaha illalLaah. Allah, Allah, Allah. Begitulah bibir kami terus bergerak untuk membimbing Mama. Saya pun juga memulai membaca surah Yasin. Di ujung kamar, ada sahabat pendekar Pagar Nusa yang sedari awal menemani kami, juga sudah mengkhatamkan surah Yasin berkali-kali.

Dan, tibalah saatnya, Mama kembali ke haribaanNya. Setelah 15 menit kami menuntun beliau, dengan tenang Mama meninggalkan dunia ini menuju alam barzah. Saya menyaksikan, seperti tidak ada rasa kesakitan yang tampak saat Mama "meninggalkan" kami.

"Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, tsumma ilayna turja'uun."
Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. (QS Al Ankabut : 57)

Begitu kabar Mama wafat tersebar, banyak handai tolan, sahabat, dan kerabat datang. Mereka seakan ingin mengantar kepergian Mama dengan bahagia. Dan dalam tempo singkat, Mama segera dimandikan dan dibalut dengan kain kafan.

Saya mendengar kesaksian dari mereka yang menyaksikan saat Mama dimandikan, tubuhnya bersih. Bahkan sama sekali tidak mengeluarkan kotoran dari tubuhnya. Ketika kafan penutup mukanya dibuka, saya dengan jelas melihat Mama tersenyum kepada kami semua yang mengantarnya.

Sejurus kemudian, sebelum masuk ke mobil jenazah NUCARE-LAZISNU, kami melaksanakan salat jenazah dan tahlil untuk Mama. Suasana semakin haru, ketika Mbah Gimah (Ibu Mama) juga hadir mencium kening putri tercintanya dan melepasnya dengan ikhlas. Kami semua juga melakukan tahsinul mayyit (memberi kesaksian bahwa jenazah adalah orang baik).

Keluarga sudah memutuskan bahwa Mama akan dikebumikan di tanah kelahirannya, di Lampung. Perjalanan kami menuju Kota Metro, sangat lancar dan dipermudah. Mulai dari naik kapal tanpa antri, hingga di kapal hanya ada mobil kami sekeluarga.

Setibanya di rumah, kami semayamkan sejenak jenazah Mama dan memberi kesempatan kepada keluarga besar kami untuk menyaksikan Mama untuk terakhir kalinya. Kami, anak cucu Mama, mensalatkan dan membaca tahlil untuk beliau. Sebelum menuju makam, banyak para peziarah yang mensalatkan Mama di Masjid Nurul Jihad.

Proses pemakaman juga sangat lancar. Ketiga anak laki-laki Mama dengan baik meletakkan Mama di peristirahatan terakhirnya. Kumandang adzan dan iqamat menjadi saat terakhir kami menyaksikan Mama.

Sebelum kami sekeluarga menghadiahkan tahlil dan doa untuk Mama, di atas pusaranya saya melakukan talqin untuk beliau. Saya yakin Mama mengerti inti talqin, namun karena ini adalah tuntunan, kami harus lakukan dan mengingatkan Mama sebelum kami benar-benar meninggalkannya. Karena begitu tujuh langkah kami meninggalkan makam, dua malaikat sudah siap mendatangi Mama. Dan saya sangat yakin, Mama bisa melaluinya, menghadapinya dengan tegar dan bisa menjawab seluruh pertanyaanya. Sepulang dari pemakaman, banyak sekali karangan bunga dari kerabat dan sahabat yang juga ikut menyertai kepergian Mama.

Saya sangat menyayangi Mama, wanita hebat yang telah melahirkan wanita terbaik yang menjadi pendamping hidup saya. Saya belajar banyak hal selama menemani dan merawat Mama lebih dari enam bulan lamanya. Termasuk bagaimana Mama menjaga semua putra-putrinya. Sebelum ajal menjemput, Mama ingin melihat wajah anak-anaknya satu persatu.

Mama, kami semua anak-anak Mama sangat menyayangimu. Insya Allah Mama meninggalkan kami dalam keadaan husnul khatimah. Kami menyaksikanmu tersenyum. Kami akan selalu bersama mendoakanmu dan bertemu Mama nanti di surgaNya. Amin. [dutaislam.com/gg]

Muchamad Nabil Haroen, menantu Ibu Rohaya binti Sadeli.

close
Banner iklan disini