Memutus Rantai Radikalisme di Kampus, Instruktur PKPNU Singgung Mintoring Rohis di SMA Perlu Dibubarkan
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Memutus Rantai Radikalisme di Kampus, Instruktur PKPNU Singgung Mintoring Rohis di SMA Perlu Dibubarkan

Duta Islam #03
Kamis, 12 September 2019
Loading...

Instruktur PKPNU Adnan Anwar. Foto: Tribunews.com.
DutaIslam.Com - Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdatul Ulama (PKPNU) Nasional Adnan Anwar mengingatkan agar Perguruan Tinggi di Indonesia dapat melindungi mahasiswanya dari infiltrasi paham radikal dan takfiri.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan, menurut Adnan, perguruan tinggi perlu membangun kerjasama dengan lembaga terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) untuk penguatan ideologi kebangsaan. Selain itu, perguruan tinggi juga bisa menggandeng pesantren moderat untuk pemahaman agamanya.

Langkah tersebut, menurut Adnan, sebagai upaya memutus mata rantai kelompok Rohis yang berasal dari tingkat SMA.

"Itu harus diputus dulu, karena radikalsiasi ini dimulai dari tingkat SMA. Itu harus diputus dan mentoring harus dibubarkan, karena hal itu sudah ditunggangi oleh kelompok takfiri. Hal itu sudah terjadi sejak tahun 1980-an mentoring itu digunakan oleh mereka untuk rekrutmen,” ujar Peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ini, Rabu (11/09/2019), dikutip dari Tribunews.com.

Karenanya itu, langkah yang dilakukan Kepala BNPT untuk memberikan pembekalan wawasan kebangsaan kepada mahasiswa baru di kampus-kampus dianggap sudah tepat. Dari pengamatan Adnan, kampus-kampus besar negeri di Jawa justru menjadi sumber Takfiri.

“Kampus-kampus besar itu harus dibereskan. Jangan dikasih ruang dan waktu. Kalau tidak bisa ya diganti saja itu rektor dan dekannya kalau tidak bisa menangani hal-hal yang seperti itu. Saya kira sudah sangat luar biasa yang dilakukan oleh Kepala BNPT untuk memberikan pembekalan ke kampus-kampus itu.” tutur Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini.

Adnan mengaku, pihaknya pun selama ini sudah masuk ke kampus-kampus untuk memutus gerakan yang bernuansa intoleransi dan takfiri ini  agar tidak membesar. Hal ini sekaligus sebagai upaya untuk melindungi para kaum intelektual milenial agar tidak mudah terinfiltrasi paham-paham radikal tersebut.

“Kita juga bekerjasama dengan kader-kader NU yang ada di dalam kampus itu. Masjid-masjid kampus itu kita monitor agar tidak dijadikan sebagai sarang inkubasi radikalisme Indonesia. Dan tentunya harus dibantu dengan pemerintah juga,” ujarnya.

Lebih lanjut Adnan mengatakan, agar intelektual milenial tidak mudah terinfiltrasi paham radikalisme, mereka harus mengikuti berbagai macam kegiatan yang positif dan bersifat pembangunan karakter.

“Kalau mereka tidak punya banyak aktivitas atau menyendiri, bukan tidak mungkin mereka akan mudah terpengaruh propaganda dari orang yang mengajarkan ide-ide tentang intoleransi itu. Jadi perlu diperbanyak media untuk beraktivitas atau berekspresi di ingkungan kampus itu” jelasnya.

Menurut Adnan, jika para intelektual milenial sampai terinfiltrasi paham radikal maka negara hancur karena pemikiran mereka yang desktruktif terhadap negara. Adnan juga sepakat keputusan Rektor IAIN Kendari yang mengeluarkan salah satu mahasiswa yang terpapar paham radikal.

“Sudah benar itu beberapa kasus kampus yang memecat mahasiswa itu tentunya sudah sangat tepat sekali. Kalau bibit-bibit virus seperti  ini dibiarkan, tentunya akan sangat membahayakan masa depan negara kita sehingga negara kita tidak bisa mencapai satu abad yang pertama guna menghadapi abad yang berikutnya atau abad kedua. Jadi harus berani ngotot, pemrintah tidak usah ragu-ragu untuk memberantas hal-hal yang bertentangan dengan ideologi bangsa,” tuturnya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Data diolah dari Tribunews.com dari berita berjudul 'Adnan Anwar Sarankan Agar Perguruan Tinggi Melindungi Mahasiswanya dari Infiltrasi Paham Radikal'.

close
Banner iklan disini