KH Hasyim Asy'ari Menurut Pendapat Para Santri Tebuireng Kuno
Cari Berita

Advertisement

KH Hasyim Asy'ari Menurut Pendapat Para Santri Tebuireng Kuno

Duta Islam #07
Senin, 09 September 2019

Santri kh hasyim asy'ari
Pendapat para santri kh hasyim asy'ari. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Jika sosok yang dimaksudkan adalah gugusan pemikiran kiai Hasyim utamanya yang non fisik, kendati belum sempurna, kutipan dalam sejumlah karya yang ditulis misalnya Mohammad Asad Shihab, Abu Bakar Atjeh, Latiful Khuluq, Zuhairi Misrawi dan Aguk Irawan cukup memberikan gambaran.

Apalagi, jika merekonstruksikannya lewat konsep dan kitab yang ditulis hadratus syekh, seperti Qanun Asasi dan Irsyad al-Sari. Secara ontologis pemikiran kiai Hasyim bisa dibaca substansi dan alurnya.

Tak perlu berdebat panjang perkara konsep kiai Hasyim bertaut diskursus negara dalam konteks ke-Indonesia-an. Pandangan Indonesia sebagai "dar al-salam", bukan "dar al-harbi". Komitmen melaui "resolusi jihad" dan arahan kepada kiai Wahid Hasyim mengenai konsep Negara saat pra sidang BPUKI dan ketika ketegangan yang nyaris menemui jalan buntu soal dasar negara. Semua rentetan ini mempertegas pandangan kenegaraan dan kebangsaannya.

Baca: 74 Tahun Wafatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari

Justru belakangan yang menjadi silang pendapat adalah sangat pinggiran masalahnya apakah sosok kiai Hasyim itu berkumis, bercambang dan berjenggot. Tempo hari hal itu menjadi polemis, lantaran dipicu munculnya lukisan hadratusy syekh yang klimis alias tanpa jenggot sekalipun.

Kendati yang rame dan terlibat adu pernyataan mereka yang memiliki kepentingan sendiri sendiri. Karena memang tak melulu menyangkut perbedaan fiqh, namun kepastian potret kiai Hasyim membawa pengaruh yang serius bagi kebenaran sikap, keteladanan dan sekaligus dikaitkan faham tertentu.

Mbah Abdurrahman (96) Purworejo membenarkan sosok kiai Hasyim sebagaimana foto yang belakangan banyak dibicarakan, akan halnya mbah Rusmani  (106) Wonogiri. Bahkan, tak kuasa menahan air matanya. Karena menganggap dirinya tak bisa melanjutkan perjuangan gurunya.

Mengenai profil gurunya, mbah Sukadi menggambarkan sosok yang tegas, kuat dalam memegangi prinsip dan berani bertaruh nyawa demi yang diyakini sebagai kebenaran. Kekeh-nya pendirian pernah diganjar empat bulan penjara karena menampik kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pikul 07.00 sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketundukan terhadap Dewa Matahari (Amaterasu Omikami).

Santri KH Hasyim Asy'ari


Pembawaannya tenang, tutur bahasanya lembut dan aura kharismatiknya memancar sangat kuat. Sangat disiplin terutama kepada para santrinya, dihardiknya santri yang tak rajin jama'ah, tak rajin mengaji dan disiplin setor hafalan. Meski kiai Hasyim figur yang lembut tapi menerapkan disiplin yang kencang terhadap santri Tebuireng, testimoni mbah Rahman.

Menurut mbah Sukadi, dipenghujung silaturrahim, membuka memori bersama gurunya yang dekat dan "titen" dengan santrinya, "Kulo naliko pamit, boyongan saking pondok. Niki kulo (menunjuk dahinya--penulis) dipekpek kalian kiai Hasyim". Mungkin maksudnya, ditepok dahinya dengan telapaknya sembari didoakannya.

Bahkan ketika Thohir yang kelak dikenal dengan nama kiai Thohir Pati boyongan, kiai Hasyim menyempatkan diri mengantarkan sendiri santri kesayangannya itu ke rumahnya di Pati. Berikut diberinya hadiah kitab Buchari, Qastholani dan al-Muwattha'.

"Zaman saya nyantri, kiai Hasyim sudah memiliki dua mobil", tambah mbah Abdurrahman. Gambaran kiai Hasyim figur pekerja keras, termasuk urusan ekonomi. Petani dengan ruas tanahnya yang luas dan usaha lainnya yang berhasil. Satu hari untuk "tahadduts bi al ni'nah" mengundang kiai Ahmad Dahlan (kakak tunggal guru dan pendiri Muhammadiyah) rawuh di pesantren Tebuireng saat musim panen padi dan ikan.

Kiai Hasyim juga merupakaln patron soal toleransi. Memiliki hubungan baik dan menjalin komunikasi yang intensif dengan tokoh-tokoh lintas agama di Jombang. Sosok kiai Hasyim potret yang sempurna menggambarkan ajaran NU, al tasamuh (toleransi). Tak mengherankan jika kini tengah dipersiapkan film dengan mengusung sosok kiai Hasyim sebagai simbol tokoh toleran, setelah Sang Kiai yang mengilustrasikan nasionalisme-nya.

Baca: Mbah Rusmani, Kiai Berusia 100 Tahun Lebih Murid Langsung Mbah Hasyim Asyari

Sedikit yang kita pahami oleh figur mbah Hasyim, namun dibalik itu masih banyak yang belum kita ketahui seperti artikel diatas. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini