74 Tahun Wafatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari
Cari Berita

Advertisement

74 Tahun Wafatnya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari

Duta Islam #07
Minggu, 12 Mei 2019

Perjuangan KH. Hasyim Asy'ari bagi Indonesia
Mengenang Wafatnya Hadartussyaikh KH. Hasim Asy'ari. Foto: istimewa

Bulan Ramadhan bukan semata sebagai rahmat dan terbukanya pintu ampunan. Bulan suci ini juga menjadi saksi sejarah tentang duka mendalam keluarga besar Pesantren Tebuireng, warga NU, serta bangsa Indonesia secara umum.

DutaIslam.Com - Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang kemudian disebut Mbah Hasyim wafat tepat pada 7 di bulan Ramadan 1366 H.
Tidak terasa 74 tahun sudah peristiwa kewafatan sang kiai yang demikian dihormati ini.

Berbeda dengan meninggalnya sang cucu, yakni KH. Abdurrahman Wahid yang meriah diperingati, suasana ramadan membuat haul Mbah Hasyim serasa sepi tanpa acara yang spesial. Hal ini mungkin juga buah dari pandangan beliau yang menolak hari wafatnya diperingati secara khusus agar tidak ada kultus individu.

Seperti diketahui, Mbah Hasyim lahir pada Selasa Kliwon 24 Dzul Qa’dah 1287 H. yang juga bertepatan dengan 14 Februari 1871 M di Pesantren Gedang, Tambakrejo Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah.

Dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berputera Karebet atau Jaka Tingkir, Raja Pajang pertama (1568) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.

Baca: Karomah dan Laku Hidup KH Hasyim Asy'ari Pendiri NU

Dalam buku Profil Pesantren Tebuireng disampaikan bahwa pada 3 Ramadhan 1366 H. yang bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M. jam menunjukkan pukul 21.00 WIB malam. Seperti biasa Hadratussyaikh baru saja selesai mengimami shalat tarawih. Beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat.

Tidak lama kemudian, datang seorang tamu utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron yang juga pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya.

KH. Hasyim Asy'ari Resolusi Jihad


Sang utusan menyampaikan surat dari Jendral Sudirman yang berisi tiga pesan pokok. Kepada utusan kepercayaan dua tokoh penting tersebut Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk berpikir dan selanjutnya memberikan jawaban. Isi pesan tersebut adalah:

  • Pertama bahwa di wilayah Jawa Timur, Belanda melakukan serangan militer besar-besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Besuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, dan Madiun.
  • Kedua, Hadratussyaikh dimohon berkenan untuk mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab, jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh. 
  • Ketiga adalah jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberikan jawaban bahwa beliau tidak berkenan menerima tawaran yang disampaikan.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M, sekitar pukul 21.00 WIB malam, datang lagi utusan Jendral Sudirman dan Bung Tomo. Kedatangan utusan tersebut dengan membawa surat untuk disampaikan kepada hadratussyaikh.

Secara khusus Bung Tomo memohon kepada Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota Laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratussyaikh kembali meminta waktu semalam untuk memberi jawaban.

Tidak lama berselang, hadratussyaikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron selaku pimpinan Sabilillah Surabaya bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang yang juga merupakan basis pertahanan Hizbullah dan Sabilillah telah jatuh ke tangan Belanda.

Kondisi para pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil kian meningkat. Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar: “MasyaAllah, MasyaAllah..” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim tidak sadarkan diri.

Kala itu putra-putri beliau sedang tidak berada di Tebuireng. Tapi tidak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar sang ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksaan dokter, Kiai Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yang sangat serius.

"Pada pukul 03.00 dini hari, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dipanggil Sang Maha Kuasa. Inna liLlahi wa Inna Ilayhi Raji’un"

Baca: Mengapa Mbah Hasyim Asy'ari Menggunakan "Nahdlah" Bukan "Nuhudlah" di NU? Ini Penjelasan Gus Rojih Ubab Maimoen.

Atas jasa-jasa beliau selama perang kemerdekaan melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berkaitan dengan tiga fatwanya yang sangat penting:

  1. Perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semua umat Islam Indonesia. 
  2. Kaum muslimin diharamkan melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda. 
  3. Kaum muslimin diharamkan memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri khas penjajah, maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan nasional.

Kepergian Kiai Hasyim menjadi duka mendalam di awal bulan Ramadhan. Tidak hanya bagi keluarga besar Pesantren Tebuireng, tapi juga warga Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat sekitar bahkan bangsa Indonesia.

Karena itu, sudah pada tempatnya bila hari ini kita menghadiahkan tahlil dan kalimat thayyibah kepada hadratus syaikh. Semoga amal baiknya diterima oleh-Nya dan besar harapan agar kita diberikan kekuatan meneruskan eksistensi pesantren dan khidmat NU agar sesuai dengan cita awal pendirian. [dutaislam.com/ka]

close
Banner iklan disini