Kebahagiaan dan Kesuksesan Bukan Diukur Dengan Kekuasaan Harta Benda
Cari Berita

Advertisement

Kebahagiaan dan Kesuksesan Bukan Diukur Dengan Kekuasaan Harta Benda

Duta Islam #07
Minggu, 08 September 2019

Arti kebahagiaan dan kesuksesan
Arti kebahagiaan dan kesuksesan. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Hidup dengan menjalankan perbuatan-perbuatan yang diperbolehkan oleh Allah dan hanya untuk mencari ridha kepada-Nya, taat kepada-Nya. Kebahagian itu bisa kita peroleh kalau dekat dengan Allah SWT.
Seperti yang tertuang di dalam (QS. At-Taubah: Ayat 41) yang berbunyi:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya:
Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan Berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya:
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, "Sungguh,aku termasuk orang-orang Muslim(berserah diri). (QS. Fushilat: 33).

Orang yang tidak beriman, ia tidak akan tau cara mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan.
Tetapi orang yang beriman tidak boleh tidak tahu cara mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan ini. Allah SWT telah berikan cara kepada orang beriman untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan Akhirat.

Zaman boleh berubah bahkan lebih maju, namun cara untuk mendapatkan kebahagiaan tidak pernah berubah dari pertama manusia diciptakan sampai manusia yang terakhir mati. Kalau ingin bahagia dari dulu hingga kini tetap sama. Yaitu hanya dengan cara mengikuti kemauan Allah SWT.

Baca: Tujuh Pesan Ibu pada Anak Lelakinya yang Mengharukan

Nabi SAW tidak dilahirkan di suatu kaum yang beradab dan mempunyai kebudayaan yang tinggi seperti di China, Persia, atau di Romawi. Ini karena Allah SWT tidak letakkan kesuksesan dan kejayaan dalam peradaban. Dan Nabi SAW tidak dilahirkan di zaman yang teknologi canggih seperti sekarang.

Allah SWT hanya meletakkan kejayaan dan kesuksesan manusia hanya dalam mentaati perintah-perintah-Nya. Di jaman yang paling Jahil dan tidak beradab Nabi SAW dilahirkan, dan membawa cahaya hidayah di tengah kegelapan dan kemaksiatan. Sehingga apa yang diusahakan oleh Nabi SAW membawa perubahan pada peradaban dunia.

Rasullullah SAW ketika itu berdakwah sendirian dari pintu ke pintu. Demi kerja dakwah ini beliau melewati banyak kesusahan dan penderitaan. Beliau dimusuhi, diboikot keluarganya, dicaci maki, disakiti, namun ini tidak mengurangi kerja dakwah beliau. Bahkan beliau ketika perintah dakwah turun dari Allah SWT, beliau katakan kepada istrinya bahwa kini sudah tidak ada waktu lagi untuk istirahat. Beliau pergi pagi dengan pakaian yang bersih lalu pulang sore dengan pakaian yang kotor. Rasullullah SAW faham tentang pentingnya kerja agama ini.

Bahkan sampai-sampai Nabi SAW ditawarkan harta, jabatan, dan wanita oleh para petinggi Quraish untuk menghentikan kerja dakwah ini. Mereka beranggapan bahwa Nabi SAW sudah keluar dari cara hidup leluhur mereka.

Tapi apa kata Nabi SAW, walaupun mereka mampu memberikan bulan di tangan kanan dan matahari di tangan kirinya, maka itupun tidak akan bisa menghentikannya dari kerja dakwah.
Nabi Muhammad SAW faham bahwa kebahagiaan dan kesuksesan bukan datang dari kebendaan dan kekuasaan yang kita miliki.

Namun dari ketaatan menjalankan perintah-perintah Allah SWT. Nabi SAW telah menafikan semua kebendaan demi usaha dakwah ini, sementara kini kita telah menafikan usaha dakwah ini demi kepentingan dunia.

Harta dan jabatan bukanlah standard ukuran keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam menjalani hidup ini. Keberhasilan dan kegagalan hidup hanya dapat dilihat dari sejauh mana manusia menjalankan perintah-perintah dan sejauh mana manusia mewujudkan cara hidup Rasullullah SAW dalam kehidupannya.

Seluruh kebendaan dan kenikmatan dunia ini bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang.
Tetapi 23 tahun kehidupan kenabian inilah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan yang telah Allah Ta`ala tetapkan. Inilah aturan dan ketetapan yang Allah Ta`ala telah buat untuk manusia.

Manusia kini sibuk bagaimana kehidupannya dapat mempunyai nilai. Namun sekedar bernilai di dunia yang sementara ini. Sejatinya Allah SWT telah jadikan kehidupan Nabi selama 24 jam sebagai tolok ukur nilai kehidupan. Cara hidup selain yang dicontohkan Nabi SAW, tidak ada nilainya disisi Allah Ta`ala.

Hanya apa yang dicontohkan oleh Nabi SAW yang Bernilai disisi Allah Ta`ala di dunia yang sementara ini dan akhirat yang selamanya. Seluruh kehidupan Rasullullah SAW selama 24 jam tiap hari dapat diikuti dan diketahui. Tidak ada yang tersembunyi dari kehidupan Rasullullah SAW, semuanya dapat diketahui oleh semua sahabatnya sebagai pelajaran dan contoh untuk semua manusia.

Seluruh anggota tubuh ini telah Allah Ta`ala berikan informasinya bagaimana cara menggunakannya dan untuk apa digunakan. Semuanya telah diberikan oleh Nabi SAW, cara dan standard penggunaan anggota tubuh ini sehingga dapat mendatangkan nilai disisi Allah Ta`ala.

Segala aktifitas yang dilakukan oleh Nabi SAW walaupun itu cara berjalannya Nabi SAW telah dihitung oleh Allah Ta’ala sebagai amal sholeh. Dalam mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dunia dan akhirat, kita tidak perlu ilmu lain, selain yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi SAW. Ilmu-ilmu selain dari yang diajarkan Nabi SAW, hanya keperluan saja, bukanlah maksud dan tujuan yang sebenarnya.

Orang yang yakin akan bahagia dengan ilmu-ilmu selain yang telah diajarkan Nabi SAW, inilah mereka yang tertipu oleh dunia. Ilmu yang diajarkan Nabi SAW adalah ilmu yang bisa membawa manusia kepada Allah SWT dan Surganya.

Selain Ilmu yang diajarkan Nabi SAW ini bisa menjadi jebakan setan agar manusia cinta dunia dan segala perhiasannya sehingga meninggalkan Allah Ta`ala dan akhiratnya. Dimata Allah SWT tanpa iman dan amal, dunia dan segala isinya tidak ada nilainya. Walaupun hanya sebelah sayap nyamuk.

Arti Kebahagiaan dan Kesuksesan


Ilmu dunia yang bernilai disisi Allah SWT adalah yang digunakan untuk kepentingan agama dan dakwah. Seperti menjadi dokter untuk dakwah dikalangan dokter, menjadi polisi untuk dakwah dikalangan polisi, menjadi pedagang untuk berdakwah dikalangan pedagang, dan lain-lain.

Saat ini manusia mengira mereka dapat menghasilkan sesuatu dengan jerih payah mereka. Mereka kira rizki akan bertambah asbab ilmu dan karena jerih payah usaha mereka. Mereka menyangka seluruh kebendaan dan status yang mereka miliki adalah hasil dari pengorbanan dan jerih payah usaha mereka.

Seperti Qorun, seorang pedagang yang kaya raya, ketika ditagih untuk bayar zakat dia tidak mau.
Nabi Musa AS berkata bahwa seluruh kebendaan yang dia miliki semuanya datang dari Allah SWT dan milik Allah Ta`ala. Qorun malah menentangnya dengan berkata,
“Ini adalah hasil dari jerih payah saya dan karena kecerdasan saya.”

Hari inipun jika kita melihat seseorang bertengkar karena harta maka jawaban seperti inilah yang keluar dari mereka atau bila seorang pengusaha sukses atau milyarder sukses ditanyai tentang kiat suksesnya, maka jawabanya akan sama dengan jawaban Qorun tadi.

Sahabat dahulu tidak meletakkan yakinnya pada asbab-asbab seperti kebendaan, perdagangan, dan status yang mereka miliki. Tetapi sahabat meletakkan yakinnya pada Allah SWT, sebagai Rabbul Asbab bukan pada asbabnya. Allah SWT lah yang memberi keuntungan bukan perdagangan dan asbab dunia itu.

Hari ini yakin kita telah keliru. Kita yakinnya pada toko kita, perdagangan kita, kantor kita, yang memberi kita kehidupan, tanpa itu bagaimana kita bisa hidup...???
Sehingga ketika kita diminta untuk berkorban di jalan Allah SWT sulit sekali bagi kita untuk dapat meninggalkannya. Berbeda dengan sahabat, walaupun ketika sedang panen usaha mereka, namun ketika panggilan agama datang mereka langsung tinggalkan semua itu untuk sambut seruan Allah dan Nabi-Nya. Ini karena yakin mereka sudah benar.

Kita lupa dengan toko yang sama, usaha yang sama, kantor yang sama, perdagangan yang sama, seseorang dapat Allah SWT buat bangkrut dan celaka dunia dan akhirat. Keyakinan sahabat kepada Allah SWT ini telah membuat mereka mampu menafikan segala hal yang mereka miliki. Sehingga keyakinan mereka ini dapat mendatangkan qudratullah/kekuasaan-Nya dalam kehidupan mereka.

Seperti berjalan diatas air, menghalau lahar api kembali ke lubang kawahnya, memerintahkan untuk mengalirkan Sungai Nil, menghentikan gempa, mendatangkan hujan, menghidupkan keledai mati, dan menjewer singa, ini semua perkara yang biasa bagi sahabat.

Do’a mereka sangat ijabah sehingga mampu mendatangkan qudratullah/kekuasaan-Nya dan nusratullah/bantuan-Nya, ini karena level iman dan amal sholeh yang sampai ditingkat yang Allah ridhoi/mau.

Bagaimana cara meningkatkan iman sampai ke level para sahabat. Ini hanya bisa dilakukan jika ada usaha atas iman dan amal sholeh yaitu dengan menjalankan usaha dakwahnya Nabi SAW.
Umat turun imannya karena meninggalkan kerja dakwah ini. Sahabat korbankan harta, keluarga, dan diri, seluruhnya untuk usaha dakwah ini. Sehingga karena ini Allah berikan kesuksesan pada mereka di dunia dan di akhirat.

Jika kita berbuat seperti Sahabat maka Allah akan berikan kita kesuksesan yang sama.
Jika kita sudah bisa meninggalkan hal-hal yang kita cintai di dunia ini untuk keluar berjuang di jalan Allah SWT, barulah Allah SWT akan berikan kita kesuksesan dan kefahaman agama seperti para sahabat.

Setiap orang tidak akan sama tingkat kesuksesan dan kefahamannya karena ini tergantung pada pengorbanan setiap orang. Inilah cara Allah SWT mendistribusikan kebahagiaan dan kesuksesan, tergantung pada do’a dan pengorbanan kita yang sungguh-sungguh atas agama Allah Ta`ala.
Jangan takut atas perkara rizki karena semua itu telah Allah Ta`ala atur dan Allah Ta`ala mempunyai cara-Nya sendiri dalam menyalurkan rizki itu.

Tidak ada hubungannya antara rizki dan usaha kita. Seperti kisah 2 orang murid lulus dari Universitas dengan gelar dan nilai yang sama. Tetapi setelah lulus yang satu mendapat kerja dengan gaji yang tinggi dan yang satu pengangguran tidak ada penghasilan apa-apa.
Jadi semuanya telah diatur Allah Ta`ala, gelar kita tidak dapat menjamin apa-apa selain apa yang Allah Ta`ala telah tetapkan. Inilah bukti bahwa keduniaan yang kita miliki tidak bisa menjamin rizki yang telah ditetapkan oleh Allah Ta`ala. Apakah mereka kedua-duanya bisa bahagia, tentu bisa asal mereka mau taat pada perintah Allah Ta`ala.

Jika yang berpenghasilan tinggi dia tidak taat dan yang pengangguran dia bisa taat pada perintah Allah Ta`ala, maka yang pengangguranlah yang akan bahagia dan Allah Ta`ala berikan kesuksesan dunia dan akhirat.

Karena tolok ukur atau standar kesuksesan dan kebahagiaan sejati ini hanya ada pada ketaatan terhadap perintah-perintah Allah Ta`ala saja. Kebahagiaan akan datang kepada mereka yang mau taat pada perintah-perintah Allah Ta`ala. Walaupun dia tidak punya gelar dan penghasilan apapun.

Baca: 8 Pesugihan Dunia Untuk Bekal Akhirat

Dan ini dimulai dari keyakinan di hati terhadap janji-janji Allah SWT. Semoga Allah berikan kebahagiaan dan kesuksesan kepada kita. Amin. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini