Dajjal: Aku Lebih Suka Mendustai dan Ingkar Janji
Cari Berita

Advertisement

Dajjal: Aku Lebih Suka Mendustai dan Ingkar Janji

Duta Islam #07
Rabu, 18 September 2019

mengingkari janji adalah sifat
Dajjal lebih suka dusta dan ingkar janji. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Dalam sebuah mimbar tabligh, seorang penceramah tampak berapi-api, orasinya garang sekali, ia membedah bahaya televisi yang dapat merusak moral bangsa ini. Ia menyebut televisi adalah agama baru yang dianut oleh orang-orang dungu. Ia juga punya istilah keren, "TV itu Dajjalnya orang modern."

Mat Sikil yang bingung menyikapi ini segera datang ke saung sang guru, menanyakan separah itukah televisi? Sehingga ia disebut Dajjal?

Baca: Dalam Kitab Mukasyafatul Qulub Mencintai Allah Tidak Cukup Dengan Ibadah

Kyai Endas tersenyum ringan lalu berkata, "Kil, kamu datangi saja penceramah itu, main ke rumahnya, anjangsana, silaturahim, sowan ke rumah orang sholeh itu membawa berkah."

"Inggih Yai." Jawab Mat Sikil mantap

Sepekan kemudian, Mat Sikil kembali berjumpa Sang Guru. "Bagaimana Kil?"
"Saya sudah sowan Yai, nganu, penceramah itu rumahnya besar sekali, ternyata dia juga punya TV, bagus sekali, layar datar 53 Inches."

Kyai Endas melantunkan lagu, "zaman wis akhir, zaman wis akhir..."
Kil, Dajal itu bagian dari eskatologi agama. Perbincangannya sangat interpretatif, penuh tafsir. Tapi sebagai simbol kemunkaran di zaman akhir, Dajjal disebutkan sebagai lawan dari Al-Masîh yang sebenarnya.

Mengingkari Janji adalah Sifat


Secara bahasa Dajjal artinya sang pendusta (misalnya berjanji mau jalan kaki kalau sumpahnya tak terbukti lalu diingkari; ini Dajjal secara bahasa).  Orang NU itu Kil, kalau berdo'a ada menyebut, "berlindung dari Al-Masîh ad-Dajjâl atau juru selamat yang berdusta." Berarti ada Al-Masîh yang benar, yang jujur, yang tidak berdusta. Dialah Isa yang secara eskatologis diyakini akan turun kembali ke bumi untuk melawan Dajjal ini.

Nah, yang aman Kil, maknai saja Dajjal secara simbolik, yaitu sikap dan prilaku yang anti kemaslahatan. Dajjal itu senangnya memprovokasi dan mengajak orang kepada kejahatan. Dajjal itu jahat sekali, sama sekali tidak ada kebaikannya. Televisi itu masih ada kebaikannya meskipun keburukannya juga tidak sedikit, tapi yang pegang remote control kan manusianya. Nda ada TV yang On-Off sendiri, mesti ada yang menyalakan dan mematikan. Jadi, apa dan siapa saja yang masih ada sedikit kebaikannya, mbo ya jangan disebut Dajjal.

Baca: Catatan KH Imam Jazuli: Lima Kritik Nalar Atas Ideologi HTI

"Tapi kyai, penceramah itu keras sekali menyebut TV sebagai Dajjal?"
Kil, dia mungkin terlalu semangat atau mungkin sedang guyon. Di pentas dunia, banyak orang guyon kil, embuh guyon politik opo politik guyon, saat ini janji terjun dari monas besok diingkari, saat ini janji jalan kaki dari Jakarta ke Jogja besok diingkari, janjinya mau ngasih 10 mobil Esemka namun diingkari. Kalau ditagih, kan jawabnya gampang, "lha wong aku cuma guyon." Pentas selesai. Layar ditutup. Kita tertawa. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini