Bias UAS
Cari Berita

Advertisement

Bias UAS

Duta Islam #02
Selasa, 27 Agustus 2019

Ustadz Abdul Somad (UAS). (Foto: istimewa)
Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Ibarat seorang pendekar, Ustadz Abdul Somad (UAS) memiliki dua pedang. Satu diarahkan ke Wahabi, satu lagi mengarah ke NU. Kemampuannya menjelaskan aqidah dan amaliyah Aswaja dengan sederhana, menarik simpati Jamaah NU. UAS menjadi pendekar Aswaja yang bisa diandalkan dalam melumpuhkan ajaran Wahabi.

Di balik itu agaknya ada ruang kosong yang tidak disadarinya yakni kesadaran politik Islam (wa’yu siyasi). Sangat dimaklumi sebab UAS seorang santri tulen. Tamat Aliyah di Riau langsung kuliah S1 (Mesir) dan S2 (Maroko). Waktu dia mencari ilmu bertepatan dengan awal reformasi di Indonesia. Bola panas reformasi membentuk konfigurasi politik umat yang baru yang sangat berbeda dengan masa Orde Baru. UAS tidak merasakan dinamika politik awal reformasi. Dia juga kelihatan tidak begitu berminat dan kurang berbakat soal politik.

NU, Ansor dan Banser menjadi musuh utama kaum radikal. Bukan karena aqidah dan amaliyahnya melainkan karena fiqih siyasah yang diadopsi NU berbeda, bertentangan dan berbenturan dengan pandangan politik kaum radikal. Sulit sekali mencari titik temu antara NU dengan kelompok radikal. Akibatnya relasi politik yang terbentuk adalah saling meniadakan. NU hancur atau kelompok radikal lenyap. NU, Ansor dan Banser adalah lawan politik HTI, ISIS, dsb.

Bagi politisi muslim radikal, sosok UAS ini sosok yang dicari-cari. Dia menguasai ajaran Aswaja, berani menghantam Wahabi tapi “lugu” dalam politik. Tipe seperti ini sangat ideal untuk menghantam NU di tengah-tengah jamaah NU. UAS secara perlahan didekati oleh aktivis HTI. Lalu diundang mengisi acara-acara HTI. Blunder, karena keawamannya tentang siyasah HTI, UAS mendukung khilafah sampai mengatakan Rasulullah Muhammad Saw belum menjadi rahmat sebelum khilafah berdiri.

Ini kontroversi pertama. UAS membuat kontroversi menjelang Pemilihan Presiden April lalu. Dia mendukung salah satu calon secara terbuka dengan mengatakan bahwa calon tersebut “imamul ‘adil.” Kontroversi yang terbaru, UAS menerangkan kepada jamaah pengajiannya, tentang jin di salib. Sebagian umat Kristen tersinggung dengan cara UAS menjelaskan hal tersebut. Dianggap melecehkan. UAS dilaporkan ke polisi dengan tuduhan menistakan agama.

Dari tiga kontroversi tadi, kontroversi terakhir yang diklarifikasi dua kali berturut-turut. Di kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2019) dan di Majlis Ta’lim Buya Yahya di Cirebon, Kamis (22/8/2019). Mungkin karena sudah masuk ranah hukum, UAS perlu meyakinkan masyarakat bahwa dia tidak bersalah. UAS mengulang-ulang setting tempat dan waktu ceramahnya. Dia berapologi sedang melindungi aqidah umat berdasarkan ayat 73 surat Al-Maidah yang mengatakan “telah kafirlah orang yang mengatakan Allah itu salah seorang dari tiga (trinitas).

Akan tetapi yang dianggap melecehkan itu bukan aqidah Islam yang secara tegas menolak ajaran trinitas melainkan cara UAS menjelaskan jin di salib. UAS bias dalam klarifikasinya. Bias konfirmasi dan bias referensi. Bias konfirmasi, seharusnya dia mengklarifikasi gaya dan gestur tubunya saat menjawab pertanyaan jamaah. Dan bias referensi yakni menyampaikan ayat al-Qur’an tentang trinitas. Seharusnya dia menyajikan ayat dan atau hadits tentang ada jin di salib.

Sampai di sini UAS masih belum menyadari kekeliruannya. UAS tidak mempunyai metakognisi yang bagus. Metakognisi adalah kemampuan untuk menyadari kesalahan, dengan mengambil jarak, melihat apa yang Anda lakukan, lalu menyadari bahwa Anda melakukan. Penyanyi yang baik tahu ketika menyanyikan nada sumbang, sutradara yang berpengalaman tahu ketika adegan di drama tidak tepat. Seorang tenaga pemasaran yang baik, tahu ketika kampanye iklan akan gagal. Orang yang kurang berkompeten tidak memiliki kemampuan seperti ini. (Tom Nochols, 2019: 54).

Bias UAS meninggalkan pelajaran berharga bagi kita terutama aktivis, ustadz dan ulama yaitu “efek Dunning-Kruger” yang ditemukan oleh David Dunning dan Justin Kruger, peneliti psikologi di Cornel University. Secara singkat efek dunning mengatakan bahwa semakin Anda bodoh, semakin Anda yakin kalau Anda sebenarnya tidak bodoh. Dengan lebih halus, Dunning dan Kruger menjuluki orang-orang semacam itu sebagai “tidak berahlian” atau “tidak berkompeten”.

Mereka bukan hanya tidak dapat menyimpulkan dan membuat pilihan; imkompetensi juga merampas kemampuan mereka menyadari kesalahan tersebut.” (Justin Kruger dan David Dunning, “Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Imcompetence Lead to Inflated Self Assessments,” Journalof Personality and Social Psycology 77 (6), Desember 1999 1121-1122).

Kemampuan metakognisi yang lemah bisa ditutupi jika seseorang mempunyai guru mursyid (pembimbing ruhani) yang mengerti seluk beluk kejiwaannya. Jika tidak, maka seseorang akan tampak tidak mempunyai kompetensi di jalan dakwah menunjukkan orang lain ke jalan Allah Swt. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini