Prabowo-Sandi dan Parpol Tak Diundang di Ijtima Ulama 4, Kecewa Bos?
Cari Berita

Advertisement

Prabowo-Sandi dan Parpol Tak Diundang di Ijtima Ulama 4, Kecewa Bos?

Duta Islam #03
Kamis, 18 Juli 2019

Foto Prabowo saat menghadiri Ijtima Ulama II. Foto: Okezone.com
DutaIslam.Com - Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama akan meggelar Ijtima Ulama 4. Ijtima Ulama digelar menyusul sikap Prabowo yang memilih bertemu Jokowi di MRT Lebak Bulus setelah kalah dalam Pilpres 2019.

GNPF menampik bahwa Ijtima Ulama digelar karena sikap Prabowo yang dinilai mengecewakan. GNPF berdalih Ijtima Ulama untuk konsolidasi dan mengevaluasi seluruh keputusan yang lahir dalam ijtimak sebelumnya. Munarman mengklaim ijtimak yang digelar GNPF Ulama bukan hanya membahas soal politik. Ijtimak juga membahas soal dakwah, ekonomi, hingga kemanusiaan.

Yang tidak bisa dilupakan publik bahwa Ijtima Ulama lahir di tengah-tengah perhelatan kontestasi politik 2019. Sulit ditolak bahwa seluruh gelaran Ijtima Ulama, mulai dari Ijtima Ulama 1,2, dan 3, bahkan yang ke-4 akan lepas dari konteks politik di tanah air. Terlebih kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa seluruh hasil Ijtima Ulama selalu bernuasa politik. Mulai dari pencalonan Prabowo sebagai presiden, dukungan kepada Prabowo, hingga klaim asal-asalan bahwa lawan Prabowo curang di Pilpres 2019.

Lain dari seluruh rangkaian Ijtima Ulama sebelumnya, Ijtima Ulama 4 ini tidak akan melibatkan Prabowo-Sandi dan partai politik. "Ijtima Ulama IV tidak mengundang peserta pilpres," kata Munarman, Kamis (18/07/2019) dikutip dari Okezone.com.

Sikap GNPF yang tidak melibatkan Prabowo-Sandi dan partai politik tentu sangat beralasan. Pertama, kandidat dan partai yang mereka dukung kalah di Pilpres 2019. Jika Prabowo-Sandi menang, persoalan akan menjadi lain lagi. Kedua, sikap Prabowo bertemu Jokowi pasca Pilpres membuat tentu saja membuat mereka kecewa. Kekecewaan mereka terhadap Prabowo merupakan akumulasi kekecewaan sejak awal ketika Prabowo tidak serta merta nurut dengan hasil Ijtima Ulama.

Sementara itu, pertemuan Prabowo dan Jokowi menjadi akhir dari perselisihan dua kubu yang sejak beberapa tahun terakhir dalam pertarungan. Jokowi telah menjadi pemenang dan Prabowo dengan sangat terpaksa harus mengakui kekalahannya.

Yang perlu dan menarik dicatat di sini adalah kekalahan Prabowo dapat berarti kekalahan sejumlah pihak yang selama ini menjadi penumpang gelap di belakangnya. Tak terkecuali PA 212, GNPF, dan FPI. Mereka tak hanya kalah dalam perang politik, tetapi mungkin juga berdosa karena kerap memperdagangkan isu agama. Dan yang paling dirugikan tentu saja FPI karena Pilpres sudah usai sementara kepulangan sang Imam Besar Habib Rizieq masih menjadi masalah internal.

FPI tidak bisa menagih janji kepada Prabowo karena janji Prabowo menjemput Habib Rizieq hanya jika terpilih menjadi presiden. Sementara pemerintah sudah lepas tangan. Tak ada jalan lain bagi FPI kecuali mencari simpati dengan 'iuran' dan 'patungan' atas nama sang Imam Besar. [dutaislam.com/pin]
















close
Banner iklan disini