Nasab Bukanlah Jaminan Nasib Seseorang
Cari Berita

Advertisement

Nasab Bukanlah Jaminan Nasib Seseorang

Duta Islam #07
Selasa, 25 Juni 2019

Nasab bukan jaminan
Nasab bukan jaminan. Foto: istimewa
Keturunan dari sang ayah menjadi hal segala-galanya pasalnya keturunan ayah menjadikan garis keturunan itu kepada anaknya dengan kata lain sebuah nasab.

DutaIslam.Com - Kata nasab berasal dari bahasa arab  yakni kata “an nasab”  memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu keturunan atau kerabat. Kata nasab sendiri juga  memiliki ciri atau memberikan karakter keturunannya.

Tidak hanya itu saja, nasab juga sering diartikan sebagai hubungan tali persaudaraan. Sedangkan secara istilah, nasab memiliki arti keturunan yang didapat dari pernikahan sah dan memiliki ikatan atau hubungan darah yang disebut keluarga baik yaitu hubungan darah yang bersifat vertikal atau ke atas seperti ayah, ibu, kakek, nenek dan sebaginya ataupun yang bersifat horizontal atau menyamping seperti paman, bibi, saudara dan lain-lain.

Islam sangat menjunjung tinggi persoalan nasab atau keturunan. Masyarakat Timur Tengah hingga sekarang mentradisikan untuk menghafal nasab mereka. Setiap anak diajarkan hafal nama-nama kakek buyut mereka, minimal hingga lima sampai tujuh tingkatan ke atas. Ini kebanggaan bagi bangsa Arab bahwa keturunan mereka terjaga dan bersih.

Baca: [Ngakak] Eks Aktivis HTI Pamer Kebodohan, Tak Bisa Bedakan antara Nasab dan Sanad

Dalam keturunan nasab juga menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam memilih sebuah pasangan hidup. Sebagaimana tuntunan Nabi SAW, sebagaimana ada empat faktor yang menjadi pertimbangan memilih istri atau suami. Sabda Beliau SAW, "Wanita dinikahi karena empat hal, karena agama, harta, kecantikan, dan karena nasab (keturunan)-nya. Maka pilihlah agamanya, maka akan menguntungkan kamu." (HR Abu Dawud).

Namun sebuah nasab tidak menjadi jaminan bahwa amal yang di tangguhkan di hari akhir tidak akan bisa di pertanggung jawabkan oleh keturunan (nasab) yang ada.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

Artinya:
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (QS. Al Mu’minun: 101).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Siapa saja yg amalnya itu kurang, maka kedudukan mulianya tidak bisa menolong dirinya. Oleh karenanya, jangan terlalu berharap dari nasab atau silsilah keturunan dan keutamaan nenek moyang, akhirnya sedikit dalam beramal.” (Syarah Shahih Muslim, 17: 21).

Nasab Bukan Jaminan


Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata :

قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أُنْزِلَ عَلَيْهِ: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ. قَالَ: (يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مِنْ مَالِي مَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا. (روه البخارى - ٤٤٩٣)

Artinya:
Ketika diturunkan (ayat), ‘Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat,’ [Asy-Syu’arâ`: 214] kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau berdiri seraya bersabda,
‘Wahai segenap kaum Quraisy -atau ucapan yang semisalnya-, tebuslah diri kalian (dari siksa Allah). Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai ‘Abbâs bin Abdul Muththalib, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Fathimah, putri Muhammad, mintalah harta kepadaku sebagaimana keinginanmu. Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah.’.” (HR. Bukhari no.4493)

Dari Abu Nadhrah juga berkata,

عَنْ أَبِي نَضْرَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَسَطِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَقَال: يَااَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ ٬ وَاِنَّ اَبَاكُمْ وَاحِدٌ ٬ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ ٬ وَلاَ لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَلأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ٬ وَلاَ لأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَإِلاَّ بِالتَّقْوَى٠٠٠

Artinya:
"Telah berkata kepadaku orang yang mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam saat berkhutbah pada haji wada' di tengah hari tasyriq beliau bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu. Bapak­mu adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi bangsa Arab atas bangsa non-Arab, tidak pula non-Arab atas bangsa Arab, tidak pula orang (berkulit) merah atas yang (berkulit) hitam, tidak pula yang (berkulit) hitam atas yang (berkulit) merah kecuali dengan takwa....." (HR. Ahmad).

Baca: Bapak Menghormati Ilmu, Anak Mengunggulkan Nasab

Seorang tidak lebih baik dari lainnya dalam timbangan Islam dengan kesukuannya, ketinggian, kegagahannya, ketampanan, warna kulit, kabilah dan tempat tinggalnya. Keunggulan dalam Islam kembali kepada ketakwaan dan kebaikan.


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ [الحجرات : 13]

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Demikian penjelasan Ibnu Mas'ud At-Tamanmini yang telah menyampaikan terkait dengan nasab, semoga bermanfaat. [dutaislam/ka]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah