Pesan Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan
Cari Berita

Advertisement

Pesan Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan

Duta Islam #04
Sabtu, 04 Mei 2019

Penjelasan pesan rasulullah menyambut Ramadhan (sumber: istimewa)

Kedatangan bulan Ramadhan di hati umat Islam mempunyai makna dan keistimewaan tersendiri. Keistimewaan bulan Ramadhan adalalh dilipatgandakannya pahala dan dilimpahkannya ampunan dari Allah SWT.

DutaIslam.Com - Di zaman Rasulullah, ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau selalu mengingtkan para sahabtnya untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Pada waktu itu, Rasulullah berpidato di hadapan para sahabat untuk menyampaikan pesan-pesan terkait persiapan yang harus dilakukan umat Islam dalam menyambut Ramadhan. Pesan-pesan Rasulullah tersebut berisi tentang kiat menggapai keistimewaan Ramadhan dengan meningkatkan penghambaan kepada Allah SWT dan anjuran kepedulian sosial.

Ketika Rasulullah SAW menyampaikan pidatonya, beliau menggunakan redeksi yang bersifat plural. Belaiu mengawali pidatonya dengan redaksi "ya ayyuhannas (wahai manusia). Yang menarik dari hal tersebut adalah petanda bahwa pesan yang disampaikan Rasulullah bersifat ummum, tidak hanya untuk orang Islam saja.

Adapun teks pidato Rasulullah sebagaimana termaktub kitab Hayah al-Shahabah karya Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, kitab al-Targhib wa al-Tarhib karya Imam al-Munzdiri, buku pedoman puasa Prof. Hasbi al-Shiddiqi, dan kitab Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz.

أَيُّهَا الَّناسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُباَرَكٌ، شَهْرٌ فِـيْهِ لَيْلَةٌ  خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِياَمَهُ فَرِيْضَةً وَ قِياَمَ لَيْلَهُ تَطَـوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِـيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِـيْماَ سِوَاهُ  وَمَنْ أَدَّى فِـيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِـيْمَا سِواَهُ  وَهُوَ شَهْرُ الصَّـبْرِ  وَالصَّـبْرُ  ثَـوَابُهُ الْجَنَّةُ وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَ شَهْرٌ يَزْدَادُ فِـيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِـيْهِ  صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ  وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ قَالُوْا لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ،  فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَن فَطَّرَ صَائِماً عَلىَ تَمْرَةٍ  أَوْ شُرْبَةِ مَاءٍ  أَوْ مذَقَّةِ  لَبَنٍ وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتــْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ  لَهُ  وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ وَاسْتَكْثَرُوْا فِـيْهِ مِن أَرْبَـعِ خِصَالٍ: خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا ربَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنىَ  بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتاَنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا ربَّكُمْ فَشَهَادَةُ  أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ  وَأَمَّا اللَّتاَنِ  لاَ غِنىَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَـتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ  وَ تَـعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ أَشْبَعَ فِـيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شُرْبَةً  لاَ يَظْمَأُ حَتَى يَدْخُلَ اْلجَنَّةَ

Wahai manusia, sungguh bulan agung dan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah.

Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.

Ramadhan itu adalah bulan kesabaran, sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan. Pada bulan itu rezeki orang-orang mukmin ditambah.

Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang  yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka.  Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikit pun.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tak semua dari kami memiliki makanan untuk berbuka bagi orang lain.”

Rasulullah SAW menjawab, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu.”

Nabi pun melanjutkan, “Dialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka.”

“Barangsiapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka."

“Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. (Untuk meraih) dua bagian yang pertama, hendaklah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon ampunan kepada-Nya. (Untuk meraih) dua bagian yang kedua  hendaklah memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka.”

“Siapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga.” (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780; al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman: 3455. Redaksi hadits di atas riwayat Ibn Khuzaimah).

Hadits di atas menurut sebagian ahli ahli hadist tergolong hadits dhaif. Meskipun demikian, hadist tadi masih diperbolehkan diamalkan, karena kadungan hadits berkaitan dengan fadhailul a’mal (keutamaan amal). Beberapa keterangan yang disebutkan hadits ini, banyak persamaan yang disebutkan hadits yang lebih sahih.

Dalam hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan suatu pandangan terkait hadits dhaif:

الْحَدِيْثِ الضَعِيْفُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الرَأْيِ 

“Hadits yang dhaif lebih aku cintai dari ra'yu (pendapat akal seseorang).”

Dalam redaksi lain, beliau mengatakan:

الْعَمَلُ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ أَوْلَى مِنَ الْقِيَاسِ

“Beramal dengan hadits yang dhaif lebih utama dari menggunakan qiyas (analogi)” [dutaislam.com/in]

Artikel dutaislam.com

Demikian penjelasan Pesan Rasulullah Menyambut Bulan Ramadhan. Adapun 5 Tips Menyambut Bulan Ramadhan, silahkan baca di artikel berikutnya.

Source: nuonline

close
Banner iklan disini