Janganlah Gemar Melaknat, Meskipun Kepada Non Muslim
Cari Berita

Advertisement

Janganlah Gemar Melaknat, Meskipun Kepada Non Muslim

Duta Islam #04
Rabu, 15 Mei 2019

Penjelasan larangan mencela dan melaknat orang lain (sumber: istimewa)
Misi pertama kenabian Muhammad SAW adalah membenahi moral bangsa Arab. Moral bangsa Arab pada waktu itu berada pada titik paling rendah.

DutaIslam.Com - Perilaku masyarakat Arab sangat tidak mencirmankan etika kemanusiaan. Di dalam masyarakat Arab pagan, tindakan asusila dan pembunuhan merupakan sesuatu yang lumrah. Apalagi membunuh bayi perempuan, hal itu menjadi sebuah keharusan.

Nabi Muhammad SAW hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membenahi etika dan moral bangsa Arab. Tantangan dakwah nabi adalah merubah kultur masyarakat Arab agar lebih bermoral.

إنَّما بُعثت لأتمِّم مكارم الأخلاق

"Sesungguhnya saya hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak"

Baca: Kisah Menakjubkan Ulama: Menghatamkan AL-Quran Hingga Puluhan Kali di Bulan Ramadhan

Hadis Nabi di atas menunjukkan bahwa etika merupakan tujuan utama agama Islam. Artinya, agama Islam tampil di ruang publik dengan wajah kasih sayang dan lemah lembut.

Salah satu perilaku yang mencerminkan etika keislaman adalah tidak mudah melaknat dan mencaci orang lain. Sikap kehati-hatian tersebut merupakan bagian dari etika bermasyarakat.

Islam sangat mendorong umatnya untuk berperilaku yang santun kepada sesama manusia. Hal itu juga berlaku kepada orang yang beda kepercayaan.

Umat Islam tidak diperkenankan mengucapkan sumpah serapah kepada non muslim. Terlebih lagi sampai mengatakan laknat kepada mereka. Bahkan, haram hukumnya melaknat pribadi orang non muslim selama hidupnya.

Baca: Selama Ramadhan, Imam Syafi'i Menghatamkan Al-Quran Sebanyak 60 Kali

Kenapa umat Islam tidak diperkenankan melaknat non muslim secara personal? Mungkin saja justru Allah SWT mencurahkan rahmatnya kepada dia, sehinga mendapatkan hidayah dari Allah.

Rasulullah SAW pun pernah ditegur Allah SWT ketika belaiu melaknat Abu Jahal dan orang musyrik Quraisy. Teguran Allah SWT terekam jelas di dalam Surat Ali Imran ayat 128:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau menurunkan azab kepada mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (QS. Ali imran:128).

Oleh karena itu, Rasulullah mengingatkan kepada umat Islam agar tidak menjadi pribadi yang gemar melaknat. Karena, perilaku tersebut bukan termasuk etika nabi.

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi)

Hadis di atas secara jelas melarang umat Islam untuk melaknat orang lain. Perintah di dalam hadis tersebut berlaku secara umum, termasuk larangan mencela kepada non muslim.

Baca: Parah! Sugi Nur Mark Up Surat Al-Isra Ayat 176

Jika mencela, mencaci dan melaknat non muslim saja dilarang, terlebih lagi berperilaku kasar kepada sesama muslim sangat terlarang pula. Namun, hari ini banyak kita saksikan di media sosial perilaku kasar dan gemar mencela kepada sesama muslim.

Padahal, sikap suka melaknat merupakan suatu hal yang dibenci agama. Sikap seperti itu tidak mencerminkan etika dan moral agama Islam.

Akan tepai anehnya, perilaku tersebut kerapkali dipertontonkan orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai ustadz. Di berbagai ceramahnya, ia gemar mencaci, melaknat dan berkata kasar kepada orang lain. Lantas, masihkah orang seperti itu dikatakan ustadz? [dutaislam.com/in]

close
Banner iklan disini