Makna Acungan Jari Satu Habib Luthfi bin Yahya di Brebes
Cari Berita

Advertisement

Makna Acungan Jari Satu Habib Luthfi bin Yahya di Brebes

Duta Islam #01
Jumat, 05 April 2019

habib luthfi dan jokowi
Makna acungan jari satu Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan
DutaIslam.Com - Selama ini, Habib Luthfi tidak pernah diketahui mendukung secara terang-terangan kepada pasangan Capres-Cawapres 01, Joko Widodo - KH. Ma'ruf Amin. Beliau lebih banyak berbicara soal politik aliyah samiyah (politik tingkat elit), yang biasa disebut politik kebangsaan.

Namun, jelang Pemilu 17 April 2019, Abah Luthfi -demikian sapaan akrab para santri, terang mengacungkan jari satunya saat menghadiri sebuah acara politik di Brebes, Jawa Tengah, kemarin. Selain itu, dari balik jendela mobil, beliau menyapa para hadirin dengan kalimat "kudu menang", sebagaimana videonya diunggah di banyak akun media sosial.

Baca: Hadiri Kampanye Jokowi di Brebes, Habib Luthfi: Brebes Kudu Menang

Apa arti acungan Abah Luthfi tersebut? Apakah beliau sedang berpolitik praktis? Jika Anda menjawab iya, maka, ketahuilah, haqqul yaqin hal itu tidak benar. Beliau sejatinya sedang turun melangsungkan strategi politik aliyah samiyah untuk keutuhan bangsa Indonesia.

Mengapa? Jelas beliau tidak memiliki jabatan apapun dalam dunia politik. Tidak ada jabatan yang diraih oleh Habib Luthfi bila kelak Jokowi menang lagi, sebagaimana beliau pada musim Pemilu 2014 lalu yang mendukung terang-terangan kepada Prabowo sebagai Capres. Alasannya sama, menjaga keutuhan bangsa.

Baca: Jika Prabowo Menang, Ini Gerakan Politik HTI.

Bedanya, saat Pilpres 2014, Prabowo tidak terlalu banyak mendapatkan dukungan kelompok makar. Tapi musim Pemilu 2019 ini, dia mendapatkan dukungan kelompok Islam radikal pasca kasus Ahok dimenangkan pihak mereka tahun 2017 lalu.

Bila saja pendukung Prabowo-Sandi kian menguat, sementara di kelompok Jokowi jelas sudah ada putra NU yang mendampingi, lalu, atas alasan apa harus menolak?

Habib Luthfi merasa seyogyanya memihak kepada mereka yang tidak mudah diombang-ambing ambisi dan emosi ketika mencari kebenaran. Habib Luthfi merasakan, mereka yang terombang-ambing kemarahan massal harus dirahmati dengan cara menyelamatkan Prabowo agar maju lagi di Pilpres 2014.

Baca: Tiga Kementerian Dicaplok HTI Jika 02 Menang

Habib Luthfi paham betul, kini, kebenaran massa tidak lagi diukur dari kualitas objek yang dinilai dan manfaatnya, tapi sejauhmana kebenaran itu bisa mengoyak dan mengaduk-aduk emosi seseorang hingga kalap. Itulah makna post truth (peradaban pasca kebenaran), yang menurut pengamat politik Burhanudin Muhtadi memenangkan Donal Trump sebagai presiden Amerika.

Karena kebenaran diukur dari emosi, orang-orang cerdas sekelas profesor pun bisa terjerumus dalam ambiguitas. Mereka mengikuti massa karena terbawa emosi. Mereka tidak peduli kalau Jokowi, misalnya, adalah sosok muslim taat yang lebih paham ngaji daripada Prabowo yang muallaf.

Mereka lebih suka berdekatan dengan kelompok yang menyebut Kiai Ma'ruf Amin sepuh dan tidak perlu ikut-ikutan politik. Mereka emosional dan mudah marah. Harus diselamatkan agar marahnya tidak dipendam sehingga berkelindan dengan kekuasaan yang besar, politik. 

Nah, dalam kerangka mencegah banjir emosi nasional akibat post truth itulah, acungan jari satu Abah Luthfi memiliki makna politik kebangsaan. Bukan untuk meraih kekusaan, tapi untuk meraih utuhnya persatuan akibat potensi banjir emosi nasional berbau politik, dan harus diantisipasi secara strategis pula lewat Pemilu 2019. Paham? [dutaislam.com/ab]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah