Senin, 09 Juli 2018

Para Pembenci Islam Nusantara Pecinta Permusuhan


Oleh Amin Mudzakir

DutaIslam.Com - Kebencian terhadap Islam Nusantara bukan kebencian terhadap konsep Islam Nusantara itu sendiri, melainkan kebencian terhadap NU. Kebencian ini sudah sedemikian mendalam, tersimpan dalam rivalitas gerakan-gerakan Islam di Indonesia sejak lama.

Dalam berbagai literatur yang saya baca, kebencian terhadap NU, lebih tepatnya kiai-kiai NU, telah muncul sejak NU berpisah dari Masyumi, lalu mendirikan partai politik sendiri, pada awal tahun 1950-an.

Pembenci NU adalah kalangan Islam politik yang terobsesi dengan integrasi agama dan negara. Sebagian mereka ingin mendirikan negara Islam, sebagian lagi setuju dengan Pancasila versi Piagam Jakarta. Namun yang lebih penting bagi mereka adalah kesatuan umat. Bagi mereka, umat Islam harus bersatu, termasuk dalam politik.

Ide mengenai kesatuan umat dalam politik ini sangat berbahaya. Mereka yang meyakini kebenaran ide ini tidak segan untuk menghina, bahkan mengkafirkan, saudaranya yang berbeda pilihan dalam pemilu dan/atau pilkada. Mereka menganggap politik sama dengan agama.

NU mempunyai pandangan yang berbeda. Agama dan politik memang tidak bisa dipisahkan, tetapi bisa dibedakan. Memilih walikota, gubernur, dan presiden adalah urusan politik, bukan urusan agama, meski sadar bahwa pertimbangan agama sangat mempengaruhi keputusan untuk memilih siapa di antara calon-calon yang ada.

Bagi NU, politik adalah masalah fiqih yang pluralistik, bukan akidah yang monolitik. Dengan kata lain, politik adalah masalah membuat keputusan bagi kebaikan bersama di antara sesama manusia, tidak perlu dikait-kaitkan secara langsung dengan ide mengenai keesaan Tuhan.

Oleh karena itu, pembenci Islam Nusantara yang cukup pasti juga pembenci NU adalah pembenci perbedaan. Kesadaran mereka dipenuhi oleh pikiran monistik, kesatuan, keseragaman. Mungkin saja pikiran tersebut relevan jika diterapkan di wilayah domestik, tetapi cukup pasti hal itu akan menimbulkan masalah besar jika coba dipraktikkan di wilayah publik.

Hari-hari ini kita merasakan masalah besar tersebut menampakkan dirinya dalam wujud hinaan dan cacian di media sosial, termasuk oleh mereka yang disebut sebagai ulama, yang semakin telanjang. [dutaislam.com/ab]

Source: Amin Mudzakir

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini