Senin, 23 Juli 2018

Firanda dan Mereka yang Memanfaatkan Keshalehan Orang-orang Kaya Saudi Arabia

Firanda Andirja
DutaIslam.Com - Mendekati musim haji, -sebagaimana tahun sebelumnya juga,- Firanda Andirja dikabarakan sebagai tokoh yang diakui oleh Kerajaan Saudi Arabia karena ia mengajar para jamaah haji di Madinah. Bagi kelompok lain, hal itu digoreng bahwa hanya Firanda lah yang terbukti diakui sebagai ulama.

Menurut Profesor Sumanto Al-Qurtuby, hal itu tidak sesuai fakta di lapangan. "Firanda itu hanya diberi kesempatan ngajar orang-orang Indonesia yang umroh di sana karena gurunya adalah salah satu pendiri universitas," terangnya kepada Dutaislam.com, Jumat (20/07/2018) malam.

Melalui jaringan alumni, kata Prof Sumanto, Firanda bisa diberi kesempatan mengajar orang-orang Indonesia yang sedang haji atau umroh di Saudi. Orang Indonesia yang ngajar masyarakat asli Madinah seperti Profesor Sumanto itu sangat jarang.

Dalam diskusi terbatas di Karimunjawa bersama pengurus Lakpesdam NU Jepara tersebut, Sumanto juga menjelaskan tentang penggunaan jaringan alumni Madinah yang tidak jarang menggunakan nama Kerajaan Arab Saudi agar mereka seolah mendapatkan legitimasi di komunitasnya.

Firanda Andirja dan Kesalehan Orang Kaya

"Di Indonesia, legitimasi lulusan Madinah bukan hanya mencatut kehormatan kerajaan, nama teroris Osama juga penting untuk mendapatakan legitimasi kelompoknya," terang Prof Sumanto dalam diskusi bertema "Politik Islam Timur Tengah" tersebut.

Mereka ini, lanjut Sumanto, menggunakan nama Islam dan Saudi untuk promosi diri mereka sendiri di hadapan masyarakat Indonesia dengan orang-orang kaya yang punya niat baik untuk berdakwah. Ini terjadi sejak Mohammad Natsir (pendiri LDII) dilibatkan keluarga kerajaan untuk membangun Universitas Islam Saudi pasca DI/TII dibubarkan pemerintah Indonesia.

"Para alumni Madinah itu tahu bagaimana cara memanfaatkan keshalihan orang Saudi soal duit sehingga, atas nama dakwah Islam, dana sumbangan sedekah orang-orang kaya di Saudi Arabia bisa dibawa pulang ke Indonesia sebagai jalan dakwah ala Islam wahabi," tandasnya.

Namun perlu diingat, semua dana yang sudah digelontorkan atas nama dakwah Islam dari orang-orang Saudi tidak ada kaitan dengan kerajaan. "Uang dipakai untuk apa, orang Saudi sendiri tidak ada yang bisa mengontrol," imbuh Sumanto.

"Cuma anak-anak NU ini jarang yang membuka peluang untuk memanfaatkan duit orang-orang kaya Saudi Arabia demi membangun kinerja organisasi NU, misalnya untuk membangun pesantren, koperasi,. televisi, yayasan, badan amal dan lainnya, sebagaimana para lulusan Madinah memanfaatkannya," tuturnya.

Melihat fakta itu, Sumanto menyatakan wajar jika antara Firanda dan ustadz wahabi lainnya di Indonesia pernah diberitakan bersitegang dan bahkan bermusuhan saling mengafirkan soal pembagian duit dari negara kaya minyak itu. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini