Minggu, 08 April 2018

Puisi Sukmawati dan Propaganda yang Mendiskreditkan Gus Mus

puisi kontroversial sukmawati soekarno putri
KH Musthofa Bisri
Oleh Zakki Amali

DutaIslam.Com - Dalam sepekan terakhir, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dipusingkan dengan pesan berantai di WhatsApp Grup (WAG) perihat puisi Ibu Indonesia. Gus Mus dipersepsikan dalam pesan berantai menanggapi puisi yang dibacakan Sukmawati Soekarto Putri.

Gus Mus dalam akun Instagram @s.kakung dan putrinya dalam akun Facebook Ienas Tsuroiya membantah pesan berantai itu. Kurang dari 24 jam pesan itu beredar, tapi efeknya besar.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin pun tak luput terkena dampak pesan berantai. Bahkan, WAG saya pun sempat terinjeksi pesan itu, tapi beruntung bantahan telah dilesatkan menghalau pesan itu.

Bagaimana sebenarnya pesan itu sampai ke telepon genggan Menteri Agama dan ke orang-orang terdekat saya? Saya mencoba menelusuri dari sumber media sosial Facebook. Apakah konten itu tergolong hoaks, misinformasi, disinformasi dan propaganda? Berikut ulasannnya.

Pertama, tentu diawali dari tindakan Sukmawati membaca puisi pada 23 Maret 2018. Puisi itu memantik perdebatan panjang. Pandangan pro dan kontra mewarnai suasana batin nasional.

Kedua, ada akun Facebook Saied Fachrurrozy mengunggah ulasan dari sudut pandangnya soal puisi itu pada 3 April pukul 21.26. Status itu lalu diperbaharui tiga kali lagi yakni pada 3 April pukul 21.43, 4 April pukul 00.06 dan 4 April pukul 00.07.


Menariknya pada satu status terdapat tiga pembaharuan, sehingga total ada empat status bila dilihat setiap status berdiri sendiri. Dua status pada tanggal 3 April terdapat kesalahan penulisan Sukmawati menjadi Fatmawati (istri Soekarno). Dua status lagi pada tanggal 4 April, kesalahan penulisan nama telah diubah dari Fatmawati menjadi Sukmawati.

Ketiga, kesalahan itu justru menjadi petunjuk untuk mengetahui waktu persebaran pesan berantai yang mengatasamaka Gus Mus. Pesan berantai itu mencomot unggahan akun Facebook Saied dengan ditambah satu kalimat yang seolah-olah itu Gus Mus yang bertanggungjawab. Ini isi pesan itu:

Tanggapan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) Perihal Puisi yang dibawakan Ibu Sukmawati.

Dalam merespon puisi #IBUINDONESIA sebagian teman kita sudah pada tahap #mencaci maki Ibu Fatmawati dengan menyebutnya #NenekPeot, #MakLampir tak beragama, dan bahkan menyebutnya #penista syariat agama.

Sementara aku, masih asyik #kepo dibagian mana puisi tersebut #bermasalah?
Apakah karena ibu fatmawati dalam puisinya berujar" Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari cadar dirimu" 

Apakah karena #penggal kalimat tersebut lantas beliau dihukumi #menista syariat Islam? Lalu bagimana status #cadar itu sendiri, apakah termasuk syariat atau bukan? Nyatanya smpai hari ini terdpt dua pendapat tentang cadar, satu mengatakan sbgai syariat yang satunya mengatakan hnya bagian produk budaya. Dan bisa jadi ibu Fatmawati sama spertiku mengambil pendapat yang kedua. Sebab itu karena sama-sama produk budaya maka dalam kontek ke-indonesia-an #konde lebih #sakral nilainya.

Atau apakah karena dalam puisinya Ibu Fatmawati berujar "Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elo. Lebih merdu dari alunan adzan mu"

Apakah karena penggal kalimat tersebut lantas beliau divonis menista syariat Islam? Perhatikan kalimatnya, disitu disebutkan "lebih merdu dari alunan adzan mu". Ibu fatmawati menggunakan kata #alunan bukan #nilai, disitu terdapat kata ganti "mu", merujuk kepada siapa kata ganti ini? 

Bisa jadi ktika dalam proses penciptaan puisi Ibu Sukmawati mendengar alunan adzan dari surau sebelah rumah yng mengalun dari bibir keriput mbah ngadiman, suaranya #melengking dan #garing. Maka benar saja suara alunan adzan dari mulut mbah ngadiman kalah #merdu dari kidung ibu pertiwi. Kidung apa yang mrupakan produk ibu pertiwi? Bisa saja #DandangGulo yang mengalun dari suara emas sinden marsinah. 

Kenapa yang adzan harus mbah ngadiman? Mungkin karena yang muda bersuara merdu kemerduannya tak lagi sisa telah habis buat #takbir disaat #demo, atau mungkin suaranya telah serak karena kebanyakan ngojahi lan ngocek'i Kyai.

Jadi akhirnya, puisi ini pun mnjadi #kritik tersendiri.

Ya, ktika sbuah karya sastra terlebih berupa puisi telah dilempar keranah publik, maka publik punya hak memberikan penafsirannya, namun kalian #TidakPernah mencoba #menafsiri atau #mengkritisi, kalian hanya #menghujat dan #memaki. Sebab hnya itu yang kalian bisa.



Keberadaan satu paragraf itu mengesankan tulisan yang diunggah dalam akun Facebook Saeid merupakan pandangan Gus Mus. Maka, buru-buru Gus Mus memberikan bantahan. Dan efektif mengeliminer anasir-anasir negatif dari pesan itu.

Keempat, akun Saeid dalam kolom komentar status Ienas Tsuroiya mengunggah statusnya yang tidak didapati adanya satu paragraf yang membingungkan banyak orang. Dia juga meminta maaf kepada Gus Mus dan putrinya. Dari beberapa unggahan di akunnya, Saeid ini punya keberpihakan pada Gus Mus. Dari sana muncul kesan, Saeid tidak sedang bermain api. Ini kronologisnya.



Kelima, dari audit media sosial itu ditemukan adanya dugaan propaganda yang berujung pendeskreditan Gus Mus sebagai seorang tokoh agama. Pesan berantai itu tidak masuk disinformasi (informasi salah yang menyebarkannya sengaja), misinformasi (informasi salah yang menyebarkan tak sengaja) dan hoaks (berita palsu). Nyatanya, pesan itu adalah fakta di jagat media sosial yang diunggah oleh seseorang lalu disabotase pada kesempatan pertama.

Keenam, saya tidak bisa menemukan siapa orang yang menyabotase sehingga menjadikan pesan itu masuk kategori propaganda politik yang merugikan Gus Mus. Lebih jauh lagi masyarakat dirugikan, karena dengan melabeli pesan berantai dengan Gus Mus sebagai pembuat, masyarakat semakin larut dalam perbedaan pendapat.

Siapapun orangnya, ia memiliki motif politik yang kuat, sehingga pesan berantai itu tak bisa dipandang hanya sebagai ketidaksengaaan. Itu bisa jadi telah didesain. Mengingat dalam waktu berdekatan Gus Mus menjadi sasaran tembak propaganda di media sosial yang mendiskreditkannya.

Dua kasus lain yang juga sudah dibantah baik dari pihak Gus Mus maupun pihak yang telah memuat berita menguatkan anggapan terjadinya upaya menyudutkan Gus Mus.

Kondisi ini membuat kita untuk waspada terhadap pola adu domba suasana nasional melalui tangan-tangan tak kasat mata di dunia maya. [dutaislam.com/ab]

Zakki Amali, jurnalis, tinggal di Semarang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini