Sabtu, 07 April 2018

Ngejek Adzan Masa Nabi Dinasehati, Kini Dikecam, Ente Ngikut Fir'aun?

Sukmawati Dikecam karena puisi menyinggung soal adzan. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Kejadian yang menyinggung soal adzan bukan perkara baru. Sebelum Sukmawati yang kemudian secara serampangan dituduh menista agama, dikecam dan diprovokasi, padahal belum jelas, perkara serupa pernah terjadi pada zaman Rasulullah.

Hal ini diceritakan Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo Sitobondo Kiai Azaim Ibarahimy dalam khutbah Jumat di hadapan ribuan santri Sukorejo dan masyarakat sekitar, sebagaimana dilansir dari portal santri Sukorejo (serambimata.com).

Begini cerita Kiai Azaim yang mengutib Kitab Al Isti’bab:

Ada seorang laki-laki bernama Abu Mahdzurah. Suatu ketika dia keluar bersama kurang lebih 10 orang sahabat-sahabatnya lalu di tengah jalan berpapasan dengan pasukan Baginda Rasulullah Saw. yang baru saja pulang dari Hunain. Kemudian salah seorang muadzin Rasulullah Saw. mengumandangkan adzan shalat sebagai tanda masuknya waktu sholat.

Abu Mahdzurah dan kawan-kawannya yang mendengar suara itu lalu meniru dengan tujuan mengejek dan melecehkan adzan tersebut. Mendengar suara ejekan tersebut Rasulullah langsung mengutus pasukannya agar menjumpahi sekawanan orang tersebut yang di antara mereka terdapat Abu Mahdzurah. Maka dipanggillah sekelompok orang itu ke hadapan Baginda Nabi SAW.

Di hadapan Baginda Nabi, dengan rasa takut hingga gemetar tubuhnya, di luar dugaan, Rasulullah SAW justru menyambutnya dengan penuh keramahtamahan.

Sejarah Penghina Adzan yang Beriman Karena Rasulullah


Dengen lembut Nabi bertanya “Siapa diantara kalian yang tadi terdengar suaranya begitu keras?”.

Kemudian kawan-kawannya menunjuk kepada Abu Mahdzurah, seolah mereka sepakat bahwa yang meniru dan mengejek suara adzan tadi adalah Abu Mahdzurah. Padahal banyak di antara mereka yang juga ikut-ikutan. Namun Abu Madzkurah menjadi korban atas apa yang mereka lakukan.

Selanjutnya, Nabi mengutus pasukan untuk menangkap dan menawan orang-orang tersebut terutama Abu Madzkurah. Kemudian Nabi bersabda kepada Abu Madzkurah “Berdirilah, kumandangkan adzan untuk melaksanakan shalat!”.

Kemudian Abu Mahdzurah berdiri mengikuti perintah Nabi dan saat itulah tiba-tiba hilang rasa benci kepada Nabi SAW. Yang tadinya membenci Nabi, memusuhi kaum muslimin bahkan melecehkan adzan tapi begitu dipanggil oleh Nabi, diminta mendekat dan diperintah untuk mengumandangkan adzan, tiba-tiba lenyaplah rasa kebenciannya kepada baginda Nabi Saw. Dan juga tidak merasa benci kepada apa yang diperintah.

Abu Madzkurah tak membenci saat ditangkap dan diminta mendekat hingga ia berdiri dan diperintah untuk mengumandangkan adzan. Karena baginya perintah itu merupakan perintah yang harus dita’ati. Sehingga ia melaksanakan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

"Kemudian aku berdiri di depan Nabi. Kepadaku Nabi mengajarkan cara mengumandangkan adzan. Beliau sendiri yang mengajarkan secara langsung. Nabi bersabda “ucapkanlah Allahu Akbar, Allahu Akbar. Maka kemudian Abu Madzkurah mengikutinya dengan penuh ketaatan.

Hingga Nabi menyelesaikan pelajaran adzan dan diikuti oleh Abu Madzkurah dengan penuh ketenangan, keimanan dan penuh keridha'an tanpa paksaan.

"Kemudian Nabi memanggilku ketika selesai membacakan adzan. Lalu Nabi memberikan hadiah sejenis perhiasan dari perak. Kemudian Nabi meletakkan tanganya yang harum semerbak bunga mawar di atas ubun-ubunku kemudian mengusap dadaku. Kemudian di bagian dadaku, hingga tangan Rasulullah Saw. mengusap sampai bagian perutku. Kemudian Rasulullah Saw. berdoa, Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu. Aku menjawab “Ya Rasulullah perintahkan untuk menjadi juru adzan di kota Mekah”.

Inilah peristiwa yang sungguh luar biasa. Seorang Abu Madzkurah yang semula membenci Nabi, Syari’at Islam bahkan membenci adzan. Tapi dengan kelembutan baginda Nabi, ketulusannya, usapan lembut tangannya dan dengan do’a barokah Beliau, Abu Madzkurah justru beriman bahkan menjadi juru adzan di kota Mekah atas perintah Nabi di bawah kepemimpinan Gubernur Attab bin Asid sebagai wakil Rasulullah di kota suci Mekkah saat itu.

Konon, Abu Madzkurah adalah orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi’i.

Dikisahkan pula, Abu Mahdzurah setelah dibelai rambutnya oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, ia tidak pernah mencukur rambutnya seraya berkata : “Demi Allah saya tidak akan pernah mencukur rambut saya ini sampai akhir hayat”.

Kalau nabi memperlakukan Abu Mahdzirah yang jelas-jelas mengejek adzan dengan sangat bijak, kok entek main kecam dan provokasi padahal masih belum jelas kesalahannya. Ente sebenarnya pengikut nabi, apa Fir’aun? [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini