Kamis, 09 November 2017

Banser, Tersenyumlah..

Foto: Istimewa
Oleh KH Ubaidillah Shodaqoh

DutaIslam.Com - Aku harus bisa membalas dendamku pada Banser. Begitu dalam benakku. Bagaimana tidak?

Sebagai tamu VVIP setelah usai acara semuanya dimohon untuk bersama-sama naik mobil van ke tempat transit. Nah karena tempat transit ke arah jalanku pulang maka aku drive sendiri gerobagku.

Jalan sesak dengan khayalak. Mobil van rombongan telah melaju jauh karena pengawalan. Sayapun terlambat sementara tamu-tamu lainnya telah makan-makan dan beramah tamah. Dan tentu ada yang menanyakan keberadaanku.

Sampai di transit saya tidak boleh masuk oleh seorang Banser penjaga. Mungkin karena melihat potonganku yang tidak pantas berkumpul sama kiai-kiai. Okelah kang Banser tunggu pembalasanku. Undangan VVIP mau ikut makan-makan kok tidak boleh.

Ha ha ha..  kebetulan di kota lain mengundang saya sebagai keynote speaker. Sampai di depan gedung tempat acara, aku membuka pintu mobil dengan menyulut sigarette. Langsung aku bergabung dengan Banser-banser, bertanya dan bercerita ini itu. Padahal forum sudah menunggu kedatanganku.

Salah seorang panitia yang juga seorang kiai keluar, mungkin sengaja mengecek kedatanganku. Melihat saya dusuk duduk di kerumunan Banser, Kiai itupun mempersilahkan ku segera masuk ke forum. Namun saya dengar kiai itu marah sama banser. "disuruh jaga menunggu kedatangan keynote speaker" malah dibiarkan duduk di bawah pohon".

Ha ha .. rasain loe dimarahi kiaimu. Bukankan manusia yang kamu takuti hanya kiai. Ya ..di kota S saya dikerjain oleh mereka kini di lain kota aku bisa mengerjaimu. Namun saya kasihan juga, sudah berkeringat mengatur parkir setelah selesai malah kena marah.

Ya di mana ada sholawatan di situ ada Banser. Di mana ada pengajian disitu ada Banser. Di mana ada bencana disitu ada Banser. Di mana ada pertemuan para kiai pasti ada Banser. Bahkan dalam acara kenduren sunatanpun ada Banser.

Serasa mustahil bin mustahal, Banser membubarkan pengajian. Tidak ada sejarahnya Banser berbuat sekeji itu. Tentu kecuali kekejian yang berkedok pengajian yang dibubarkan Banser. Propaganda anti NKRI, menghasut umat untuk bertengkar, ajakan merobohkan rumah bangsa dengan dibungkus pengajian itulah yang barangkali dibubarkan oleh Banser. Toh sudah berkoordinasi dengan aparat tentu.

Bagi Banser cemohan dan ejekan dianggap cemilan. Andai seluruh pengamat di Jakarta mencacinya mereka tetap akan enjoy dengan kostumnya. Andai seluruh medsos membulinya mereka tetap patuh pada arahan kebijakan kiai lewat Ansor dan komandannya. Jangankan cuman dibuly... keluargapun dipertaruhkan demi Islam Ahlussunnah wa aljamaah.

Semestinya mudah menciutkan nyali banser. Suruh para kiai kompak memarahinya. Suruh guru-guru mereka mengecamnya. Kalau sekedar tweet (ocehan) intelektual tukang mala, bagai jamu bagi mereka. La kok tidak? Gotri besi saja dimakan kalau disuruh gurunya.

Mereka adalah sosok-sosok "sami'na wa atho'na". Meskipun dalam suatu pidato tidak pernah diucapkan : "al mukarromun yang terhormat para banser ". Meskipun tidak pernah diminta cipika cipiki. Meskipun tidak dicium tangannya.

Bagi mereka bukan tulisan, catatan dan penilaian komentator yang diperhitungkan. Hanya catatan RAQIB ATID yang mereka takuti.

Kalau saya mah tidak takut pada mereka, tapi takut dengan doa anak istri yang mereka tinggalkan dalam rangka menjaga dan mengamankan syiar Islam ahlussunnah waljamaah. Kalau mereka saya lecehkan bagaimana kalau anak-anak, istri-istri, dan guru-guru mereka marah dan tidak terima, lalu saya diadukan pada Gusti Alloh swt? Allohu ya'shimukum wa wayusahhilu umuro maisyatikum wa yaabalu a'malakum. [dutaislam.com/gg]

KH Ubaidillah Shodaqoh, Rois Syuriyah PWNU Jateng.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini