Kamis, 19 Oktober 2017

Penetapan Hari Santri Membuat Kelompok Makar (NRN) 212 Ditangkap dan HTI Dibubarkan

NKRI Harga Mati
DutaIslam.Com – Akhir tahun 2015, ada sekelompok elite di Jakarta yang mengadakan pertemuan bertajuk “Indonesia dan Nusantara”. Pertemuan yang disetting dalam bentuk dialog tersebut membincang bahwa penyematan nama negara “Indonesia” untuk negara kepulauan di Nusantara ini tidak lagi cocok.

Menurut mereka, nama yang cocok adalah Nusantara, yang masih dianggap bahasa asli. Indonesia disebut tidak cocok karena mengandung unsur penyerapan bahasa asing yang tidak dikenal oleh nenek moyang raja-raja di Nusantara. Baca: Meramal Masa Depan Islam Nusantara Pasca Aksi Bela Islam (411 dan 212).

Pertemuan berlanjut dengan tema yang sama pada hari lain. Kali ini, menurut sumber yang diterima Dutaislam.com, peserta dialog sudah membahas tataran solusi praktis atas tidak cocoknya istilah Indonesia untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mereka sampai pada kesimpulan untuk merencanakan pembubaran NKRI dengan nama negara yang disebut dengan Negara Rakyat Nusantara (NRN). Bukan main-main, NRN ini juga sudah disusun sedemikian detail hingga pada pembentukan struktur wali negara.

Menurut sumber Dutaislam.com yang tidak mau disebutkan namanya itu, akhir tahun 2015 tersebut sudah ada yang mengaku sebagai wali negara NRN. Inisialnya YSI. Meski begitu, aktivitas mereka tidak tercium sama sekali oleh massa, padahal dilaksanakan di ruang-ruang publik yang mudah dijangkau umum semisal kafe, hall, gedung pertemuan dan lainnya.

Rencana yang mereka buat sangat masuk akal. Melalui lembaga-lembaga dunia, Indonesia nanti didaftarkan dan digugat sebagai negara gagal oleh mereka. Kemudian dibentuklah konsensus negara baru bernama NRN. Mereka sudah merencanakan strategi secara detail untuk menggulingkan NKRI dengan NRN khayalannya.

Namun ada satu hal yang tidak mereka perhitungkan dari rencana pembentukan NRN. Yakni penetapan Hari Santri oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober 2015. Pasca penetapan Hari Santri, ribuan pesantren seluruh Indonesia mendadak gelar upacara bertajuk “NKRI Harga Mati” serempak. Baca: 4000 Santri Ikuti Upacara HUT RI ke-71 di Pondok Pesantren Tebuireng.

Bayangkan, di saat mereka makin optimis membubarkan NKRI dengan NRN, para santri malah tampil di depan dengan sarungan, berpeci, dan ngerek bendera di masing-masing pesantren dan sekolahnya, tegas membela NKRI dengan mengibarkan bendera Merah Putih serta bendera NU secara bersamaan.

Satu pesantren ada yang melakukan apel dan upacara peringatan Hari Santri hingga 4000 personil. Ada yang 10 ribu hingga 25 ribu peserta di pelosok negeri. Mereka yang akan makar jelas tidak berani terang-terangan menyuarakan pembubaran NKRI melihat gerakan massif pecinta NKRI, santri.

Sejak para santri melalui momentum Hari Santri serentak melakukan upacara setia kepada NKRI, orang-orang NRN tiarap, diam, tapi tetap bergerak sembunyi hingga muncullah tragedi “penistaan Al-Qur’an” oleh Ahok yang kemudian dijadikan tunggangan politik menggelar demo makar pada 4 November 2016, disebut aksi 411. Baca juga: Kiai Said Tahu Siapa Penggerak Aksi Demo 411, 212 dan 112.

Namun laporan adanya makar tersebut sudah tercium oleh aparat. Presiden Jokowi juga tidak diam atas gerakan mereka. Aksi 411 dibiarkan berjalan apa adanya. Namun pra aksi lanjutan pada 12 Desember 2016 (disebut aksi 212), mereka tidak bisa lagi dibiarkan karena sudah menggunakan jaringan Islam radikal untuk membuat perencanaan rusuh massa.

Yang unik, jaringan kelompok Hizbut Tahrir, menurut sumber Dutaislam.com, masuk dalam barisan makar NRN. Karena itulah, pasca aksi 212, HTI dibubarkan pemerintah secara tegas, meski mereka teriak kesakitan menggugat UU Ormas yang sudah didukung tujuh partai di DPR RI (Oktober 2017).

Rencana strategisnya, jaringan makar NRN akan membagi dua kue wilayah NKRI ini, yakni Timur dan Barat. Jaringan pengasong HTI akan mendapatkan wilayah bagian Barat Indonesia, disebut dengan negara khilafah. Sementara, negara Indonesia bagian Timur akan diserahkan kepada kelompok lain di NRN.

Bagi kalangan santri, hal demikian adalah dosa besar kuadrat dan mugholladhah (najis berat). Tentu akan dilawan full attack oleh warga NU yang memiliki beban moral menanggung fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober.

Hari Santri yang menegaskan bahwa membela negara hasil proklamasi, yakni Indonesia berdasarkan Pancasila hukumnya adalah fardlu a'in. Tiap muslim wajib mempertahankannya. Penentuan Hari Santri membuat kelompok makar ciut nyali. Dalam sarung santri, ada bedil bertaji bukan hanya untuk istri, tapi NKRI. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini