Sabtu, 22 Juli 2017

Mesin Penghancur Bangsa-Bangsa Itu Ternyata Agama, Bukan Bom Atom


DutaIslam.Com - Dengan bermodalkan propaganda sektarian seperti memberantas TBC (tahyoel, bid'ah, choerafat), menegakan tauhid melawan kemusyrikan kuburiyyin (penyembah kubur) dan sufiyah (kultus individu), memperuncing Sunni-Syiah agar terjadi konflik diberbagai media pesanan dari CIA, seperti CNN dan Aljazeera, Suriah, Libya, Sudan, Somalia hancur berkeping-keping dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda konflik akan segera usai.

Siapakah yang akan diuntungkan dengan konflik itu? Tentunya sekutu Zionisme, Amerika, Inggris dkk. Itulah jawaban dari pertanyaan, mengapa Amerika dan sekutunya selalu datang jika ada negara yang sedang berkonflik. Ya karena mereka sedang bisnis senjata.

Mereka juga sangat senang jika sebuah negara hancur lebur. Mulai dari infrastruktur, stabitilas politik hingga ekonomi dst. Ketika sebuah negara sudah hancur lebur, mereka akan datang bak dewa penyelamat dengan membawa uang pinjaman supaya negara itu berhutang kepadanya. Tentunya mereka memberi hutang secara tak gratis.

Ada kontrak dimana mereka bebas menjarah SDA negara yang sedang dihutangi. Contohnya Libya dan Syiria. Keduanya (sebelum konflik) adalah negara yang pemimpinnya melakukan nasionalisasi aset secara besar-besaran. Buahnya adalah dia behasil memberi pendidikan gratis hingga sarjana pada rakyatnya. Kesehatan juga gratis. Hingga pengangguran pun digaji oleh negara. Siapa yang tidak mau hidup di negara seperti itu?

Kemudian datanglah  sekte khadimul haramain London-Washington secara tiba-tiba dengan membisikkan:

"Pemimpinmu diktator,  bukan islam, kapir, thogut, ahlul bid'ah, kuburiyin, sufiyah, syiah"

"Kamu harus ganti dengan khilafah islamiyah"

"Dor-dor-dor"

Perang pun terjadi. Negara hancur lebur. Pemimpin yang membawa kemakmuran itu tewas dan kemudian diinjak-ijak oleh rakyatnya sendiri. Negara yang semula kaya kemudian dalam waktu sekejap jadi mlarat. Tak ada pendidikan gratis. Tak ada kesehatan gratis. Hanya nyawa saja yang gratis. SDA juga raib jadi milik negara lain.

Hingga kini konflik tersebut masih tak berujung. Negara itu terpecah menjadi dua bagian. Penganut demokrasi dan penganut paham khilafah. Dan jangan lupa, ada ISIS juga yang sudah masuk kesitu. Tambah runyam. Ada yang bertanya, adakah kemungkinan konflik dengan mengatasnamaken agama diekspor ke Indonesia? Ini adalah pertanyaan yang sangat terlambat!

Presiden kita sudah kafir. Polisi adalah thogut. Ketua ormas islam terbesar juga sudah syiah. Mayoritas masyarakat adalah ahlul bid'ah, penganut khurafat dan tahayul. Menurut mereka.
Tinggal nunggu mereka jihad (membunuh) untuk memberantas bukan islam, kafir, thogut, ahlul bid'ah, kuburiyin, sufiyah, syiah, sambil berucap: Takbir!

Crot-crot. Darah bercucuran. Nyawa begitu murah bagi mereka yang sudah dicap bukan islam, kapir, thogut, ahlul bid'ah, kuburiyin, sufiyah, syiah.

Saat ini Target pertama adalah polisi. Dan hal itu sudah berjalan meski serangan hanya sporadis dengan pisau, karena suplai senjata mereka ditutup, tak seperti di Marawi. Tapi ada juga yang lain yang perlu diwaspadai. Siapa itu?

Anda pasti tahu, ketika nyata-nyata sudah ada korban mati berjatuhan, ada oknum DPR yang masih membela pelaku teror dan menyalahkan polisi. Ya itu cuma sebagian dari tanda bahwa ternyata perusak negara atas nama agama sudah masuk ke parlemen.

Kita gak usah gumun kalau UU terorisme sulit untuk disahkan. Kita tinggal nunggu saja bom waktu meledak secara besar-besaran yang kemudian bisa menguasai negara. Dengan catatan: jika kita cuma diam saja!

Cerdasken bangsa agar tak mudah ditipu dengan propaganda murahan atas nama agama. Pemerintah juga sudah mulai memberi contoh untuk melawan, dengan membubarkan ormas radikal yg anti nasionalisme yg berusaha untuk menjadikan negara ini seperti Libya, Somalia, Sudan, Syiria yang kemudian negara ini menjadi negeri jajahan kembali.

"Mesin penghancur yang paling ampuh dan murah bukanlah Bom Atom, tapi Agama". John Mc Cone (Mantan Direktur CIA 1961 - 1965). Apa yang diucapkan Mc Cone bukan sekedar teori. Timur Tengah adalah gambaran yang nyata dari pengaplikasian teori tersebut.


درء المفاسد مقدم على جلب االمصالح

Tindakan mencegah lebih baik daripada mengobati penyakit. Bukankah begitu? [dutaislam.com/ed]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini