Sabtu, 18 Februari 2017

Cap Go Meh Bukan Ritual Agama


Oleh Ahmad Syaifuddin Zuhri

DutaIslam.Com - Salah paham mengenai Cap Go Meh perlu diluruskan bersama. Pengalaman saya hidup di negeri China, bergaul dengan mereka hingga dengan teman-teman etnis Tionghoa Indonesia dan perantauan lainnya serta lama di Indonesia, menegaskan bahwa Cap Go Meh bukan ritual agama. Sebab, perayaan Cap Go Meh adalah perayaan kebudayaan khas Tiongkok.

Jadi, kurang tepat jika menyebutkan bahwa Cap Go Meh itu dianggap sebagai ritual agama Konghucu. Oleh sebab itu, perlu sekali memahami sejarah panjang China dan sejarah Nusantara atau Indonesia.

Sebab, sejarah Indonesia dan China memang tidak bisa dipisahkan. Jauh sebelum negeri ini tegak berdiri menjadi Indonesia, Muslim-Tionghoa bernama Laksamana Cheng Ho sudah hadir di Nusantara dengan melakukan diplomasi kepada Majapahit dan berkomunikasi dengan penduduk Muslim Indonesia.

Setelah Hari Raya Imlek atau 春节 Chun Jie atau Spring Festivalm masyarakat Tionghoa merayakan tradisi berikutnya, yakni Lantern Festival (Mandarin: 元宵节Yuanxiao Jie) atau di Indonesia lebih dikenal dengan Cap Go Meh yang jatuh pada 11 Februari 2017 ini.

Imlek sendiri berasal dari bahasa Hokkian, Im: Bulan dan Lek: kalender, atau dalam bahasa Mandarin: 阴历Yinli. Penanggalan Imlek sendiri menganut perhitungan sistem lunar atau bulan yang dipadukan dengan penanggalan masa tanam atau dikenal dengan 农历Nong Li, hampir sama dengan penanggalan dalam Hijriah.

Dalam sejarahnya, konon Imlek merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Tiongkok yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga erat dengan pesta menyambut musim semi.

Perayaan Imlek dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 di bulan pertama. Istilah Cap Go Meh sendiri berasal dari bahasa Hokkian 十五名 (baca: Shi Wu Ming). Yakni tradisi 15 hari setelah hari Raya Imlek.

Sambil berkumpul dengan keluarga melihat dan meletakkan lampion-lampion merah yang ditaruh di depan rumah, jalanan atau diterbangkan sambil makan makanan yang berasal dari bahan tepung ketan berbentuk bola kecil dengan kacang tanah dan diberi air hangat. Atau kita lebih mengenalnya wedang ronde.

Tradisi Cap Go Meh adalah puncak dari tradisi Imlek. Kedua tradisi Tionghoa tersebut menjadi agenda yang sangat sakral dan penting bagi warga Tionghoa. Tidak hanya di dalam negeri, akan tetapi juga etnis Tionghoa yang tersebar diseluruh dunia.

Demi merayakannya, jutaan masyarakat Tiongkok mudik ke kampung halaman untuk merayakan bersama dengan orangtua dan sanak famili. Dengan berpakaian baru, membagi hongbao atau angpao, makan bersama, berkunjung ke makam leluhur dan ke sanak saudara. Hampir serupa dengan tradisi Lebaran pada Idul Fitri yang ditutup dengan tradisi Lebaran Ketupat kalo di Jawa.

Cap Go Meh sendiri bagi Tionghoa Perantauan dilakukan dengan tradisi berbeda-beda. Seperti di Indonesia misalnya, dengan makan lontong Cap Go Meh. Dan bagi penganut keyakinan Konghucu, mereka menambahkan dengan melakukan ritual sembahyang.


Di Tiongkok sendiri, Konghucu adalah ajaran filsafat dari 孔子Kongzi atau Konfusionisme. Filsafat ini sangat mempengaruhi tradisi dan kebiasaan dan budaya masyarakat Tionghoa di Tiongkok Daratan, Hongkong, Jepang, Korea Selatan, hingga Vietnam. Ajaran yang mengajarkan antara lain pendidikan, kerja keras, pantang menyerah, menghormati leluhur, hemat dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Kembali ke bahasan tradisi Cap Go Meh. Di negeri asalnya, Tiongkok, tradisi ini tidak ada sangkutpautnya dengan ajaran agama tertentu. Di negara yang terdapat keturunan Tionghoa di seluruh dunia, mereka tetap merayakannya dengan berbeda-beda yang dipengaruh tradisi atau ajaran setempat.

Akan tetapi, yang masih tetap sama adalah merayakannya berkumpul dengan keluarga, memasang lampion warna merah di rumah dan makan bersama. Sebuah warisan perayaan kuno atau tradisi yang sudah lahir sejak abad Sebelum Masehi, dan  masih setia dijaga serta mempertahankannya.

Di luar itu, sebenarnya banyak sekali perayaan atau festival dalam budaya Tionghoa yang masih eksis hingga kini. Dan bahkan banyak yang mempengaruhi khazanah kebudayaan di nusantara.

Ahmad Syaifuddin Zuhri, alumnus S2 Nanchang University, 
Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini