Kamis, 14 Juli 2016

Semoga Keturunan yang Murtad Kembali Jadi Muslim


DutaIslam.Com – Tiap Ramadan, katanya setan dibelenggu penuh sebulan. Realitasnya, masih ada orang yang tidak berpuasa, tarawih dan zakat. Artinya, masih banyak gangguan setan beredar di bulan Ramadan.

Menurut KH Adib al-Fattah, setan memang dibelenggu di bulan suci Ramadan, namun nafsu dan tabiat buruk manusia tidak bisa dibelenggu kecuali oleh dirinya sendiri. Ada tiga hal yang menurutnya menjadi faktor lalainya seorang muslim menjalankan kewajiban dan kesunnahan di bulan Ramadan.

Pertama, al-adat al-qabihah (ada buruk yang dilakukan sebelum puasa). Ini dijelaskan oleh Imam al-Qami. Kedua, nafsul ammarah (nafsu yang memerintah kepada keburukan). Ini diutarakan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin. Menurut kitab tersebut, manusia memiliki 4 musuh, yakni setan, nafsu, harta dunia dan makhluk. Nah, pada bulan puasa, nafsu ammarah itu yang paling banyak menyeret manusia ke dalam perbuatan buruk.

Ketiga, yang tidak puasa memang setan itu sendiri. Ini pendapat yang agak ekstrim namun benar jika merujuk sejarah para rasul dan nabi yang selalu punya musuh setan dari kalangan jin dan manusia, syayathinal insi wal jinni,” terang Kiai Adib kepada ratusan hadirin pada Halal bi Halal Bani H. Usman – Murdifah, di Rumah Kusman, Desa Troso Rt. 09 Rw. 07, Pecangaan Jepara pada Ahad (5 Syawwal 1347/ 10 Juli 2016) siang.

Untuk menghapus kebiasaan buruk itu (al-adat al-qabihah), Kiai Adib menjelaskan caranya. Salah satunya adalah dengan tetap menyambung silaturrahim sebagaimana acara halal bi halal keluarga. Menurutnya, nyambung silaturrahim itu bagian dari menumbuhkan rasa cinta kepada orang tua yang sudah wafat.

“Santri dan kiai besok bisa kumpul bersama di surga karena ada ilaqoh (ketersambungan) berupa mahabbah (cinta). Begitu pula antara anak dan orang tua, tanpa ilaqoh iman dan cinta, terputus. Santri dengan kiai itu keturunan ilmu sebab mahabbah, sementara anak dan orang tua adalah keturunan nasab,” terang Kiai Adib yang asli Bate, Jepara itu.

H. Usman dan Murdifah
Tambahan, H. Usman adalah suami Murdifah, hidup di masa penjajahan yang kini anak keturunannya banyak yang menjadi tokoh agama, tokoh politik, pejabat negara, pengusaha, pendidik, dan lainnya yang tersebar di Jepara, Kudus, Demak, Tasikmalaya, Kalimantan dan lainnya.

Pusara keduanya ada di komplek pemakaman Nogosari, Troso, Jepara. Lokasinya 250-an meter masuk ke utara gang sebelah kanan jalan Raya Pecangan-Bugel dari arah MA Walisongo Pecangaan. Posisi gang tepatnya setelah toko Dewi Shinta Tenun Troso. Konon, H Usman adalah pejuang kemerdekaan.

Namun sayang, kini ada salah satu dzurriyahnya di Beru, Gebog, Kudus yang murtad jadi pemeluk agama Kristen karena cinta buta kepada kekasih yang kini jadi istrinya. Semoga saja kelak ia kembali menjadi muslim agar punya ilaqah mahabbah dan iman kepada buyutnya itu. Amin. [dutaislam.com/ abdullah]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini