Kamis, 31 Maret 2016

Membumikan Gusjigang Untuk Kemandirian Bangsa

Oleh Dr Abdul Jalil

Kudus itu unik. Di awal abad ke-16, dimana rend dunia ditandai dengan perebutan kekuasaan atas nama keturunan raja atau agama, Kudus justru dibangun di atas fondasi kebersamaan, multi etnis dan multi religi. Di seantero jagad Nusantara tidak ditemukan sebuah situs purbakala yang secara vulgar mengusung pluralisme dan semangat toleransi, sebagaimana di Kudus.

Tokoh Kudus, Sayyid Ja’far Shadiq, sebagai mantan panglima perang yang menaklukkan Majapahit, memimpin ekspansi kerajaan Demak dari Madura sampai Cirebon, tentu mengetahui benar geopolitik dan arah peradaban baru. Sebagai seorang mantan hakim agung (Qadli), Sayyid Ja’far Shadiq juga merasakan betapa pentingnya rasa keadilan dan kedamaian bangsa.

Ketika tiga agama besar di Timur Tengah sana memperebutkan Yerussalem atas nama agama, dimana kaum Kristiani merasa berhak karena di sanalah terdapat Gereja Makam Kudus, umat Muslim merasa berhak karena ada Masjid al-Aqsha dan Dome of the Rock (batu yang diijak Nabi Muhammad ketika Isra’ Mi’raj), dan umat Yahudi tidak mau kalah karena ada tembok ratapan yang merupakan bagian dari Bait Suci, maka, sekali lagi, atas nama agama, Yerussalem ditaklukan, dihancurkan dan dibangun kembali dengan meninggalkan bagian yang berbeda. Fenomena inilah yang dijawab Ja’far Shadiq. Dia mendirikan sebuah kota suci, tapi tidak atas nama fundamentalisme, melainkan pluralisme.

Pada saat yang sama, ketika kerajaan Demak juga sedang dilanda konflik internal karena persoalan siapa yang lebih berhak menggantikan Sultan Trenggono, maka Sayyid Ja’far Shadiq menanggalkan seluruh jabatannya di kerajaan Demak dan memilih berhijrah ke arah utara menuju sebuah Pulau berbukit yang di kemudian hari diberi nama Muria. (Baca: KH Ma'ruf Irsyad Kudus Rela Sowan untuk Tamunya)

Sebagai sebuah laku dengan misi besar, tentu info intelejen semasa menjadi panglima menjadi signifikan. Maka, untuk membangun pulau tersebut, Sayyid Ja’far Shadiq belajar, berdiskusi, dan menyusun master plan bersama seseorang yang dianggap handal dan telah lebih dulu menetap. Dia adalah The Ling Sing, Nakhoda panglima Cheng Hoo dalam ekspedisinya ke Nusantara.

Bersama The Ling Sing, Sayyid Ja’far Shadiq ingin membangun sebuah wilayah yang merdeka, tidak terikat dengan kerajaan tertentu dan tidak dimonopoli oleh suku atau agama tertentu. Kota ini dibangun atas dasar kebersamaan, multi etnis (Arab-China-Jawa), multi religi (Islam-Hindu-Budha) dan bertumpu pada sektor perdagangan dan industri. 


Untuk memulai langkah besar itu, wilayah Loram menjadi pilihan. Wilayah ini dipilih karena subur dan dekat dengan jalur transportasi. The Ling Sing yang memiliki keahlian mengukir (sungging) menularkan ilmunya kepada warga lokal. Hingga kini, jejak ukiran dan semangat bisnisnya masih nampak. Sementara Sayyid Ja’far Shadiq yang berlatar belakang militer dan ahli agama mencoba merangkul masyarakat untuk bersatu, ber-tepaselira dan menghargai perbedaan suku, agama dan ras. Semua pihak mesti merevolusi perilaku, meningkatkan spiritualitas dan menata basis ekonominya. Semangat ini secara tutur tinular dikenal masyarakat dengan istilah Gusjigang (Bagus, Kaji, Dagang). 

Untuk bisa disebut sebagai wong Kudus, seseorang harus memiliki perilaku dan penampilan yang bagus, bagus rupa dan bagus laku. Begitu seseorang buruk lakunya, tentu akan berakibat panjang, paling tidak akan mengurangi kepercayaan orang lain terhadap dirinya, dan pada gilirannya akan merugikan usaha dagangnya. 

Orang yang bagus perilakunya disebut saleh. Kesalehan seseorang disimbolisasikan dengan kaji. Mengapa kaji? Karena haji adalah simbol spiritualitas seseorang yang sudah melewati berbagai tahapan sebelumnya, seperti syahadat, shalat, puasa dan zakat. Dan tentu saja secara ekonomi seorang kaji sudah masuk kategori mampu, karena ongkos naik haji terbilang tidak murah, sehingga status kaji identik dengan identitas pengusaha. 

Sementara dagang merupakan karakter khas yang hendak dibangun oleh Sayyid Ja’far Shadiq. Bisnis perdagangan yang hendak ditradisikan oleh Sayyid Ja’far Shadiq adalah perdagangan yang jujur: jika berbicara tidak bohong, jika berjanji tidak mengingkari, jika dipercaya tidak berkhianat, jika membeli tidak mencela, jika menjual tidak memuji, jika berhutang tidak lalai, dan jika punya piutang tidak mempersulit.


Setelah penanaman fondasi kemandirian dalam kebersamaan sudah dirasa cukup, akhirnya Ja’far Shadiq dan The Ling Sing mulai memasuki jantung utama sebuah kota. Di Wilayah yang bernama Tajug, didirikan sebuah Menara untuk mengumandangkan adzan. Dengan tetap menghormati tradisi Hindu, bangunan Menara dibuat menghadap ke barat dan bentuknya menyerupai bangunan candi yang terbagi atas tiga bagian, yaitu: bagian kaki, tubuh, dan puncak. Para peneliti sepakat  bahwa Menara ini jelas bercorak mirip bangunan candi atau menara kul-kul Bali. Beberapa peneliti menghubungkan bentuk Menara itu dengan candi Jago, terutama jika dilihat dari arsitektur dan kesamaan ragam hias tumpalnya. Ada pula yang menyamakan Menara Kudus ini dengan candi di Singosari. 

Di sebelah halaman, terdapat tempat wudlu. Menariknya, pada lubang pancurannya ada ornament berbentuk kepala arca yang berjumlah delapan. Delapan pancoran ini mengandung filosofi Astasanghikanarga dalam agama Budha, yakni pengetahuan, keputusan, perkataan, perbuatan, penghidupan, daya usaha, meditasi dan kontemplasi. 

Sampai di sini lengkaplah sudah fondasi sebuah kota. Idealitas sebuah wilayah yang multi etnik multi religi sudah berdiri. Masalahnya tinggal penamaan. Sebagai sebuah pesan perdamaian dunia, di mana pusaran konflik saat itu berada di Yerussalem, maka Sayyid Ja’far Shadiq menamai masjidnya dengan “Masjid al-Aqsha”, kota yang damai itu diberi nama al-Quds (Kudus), dan Gunung yang menjulang tinggi di sebelah utara diberi nama Muria. 

Penamaan Muria yang di lerengnya berdiri Kota Suci (Kudus) dan berdiri Masjid al-Aqsha memunculkan aroma “Yerussalem van Java” karena Yerussalem berdiri di bukit Moria. Kata Yerussalem sendiri adalah bahasa Ibrani yang dalam bahasa arabnya berarti al-Quds (Suci). Sementara kata Moria terdapat dalam Injil Perjanjian Lama Kitab Kejadian pasal 22:2. 

Dalam Bahasa Ibrani, bukit itu disebut מוֹרִיָּה,  bahasa Arab: مروة, dan dalam bahasa Inggris Moriah yang berarti tempat pengajaran, tempat kegentaran, tanah ibadah dan tanah penglihatan. Di sisi sebelah timur bukit moria terdapat dataran tinggi golan (bahasa Arab: مرتفعات الجولان , bahasa Ibrani: רמת הגולן), dan di sebelah timur Kudus-pun ditemukan sebuah wilayah yang bernama Desa Golan. Tentu fenomena “Yerussalem Van Java” ini bukan sesuatu kebetulan, tapi untuk menjawab apa yang sesungguhnya terjadi masih membutuhkan kajian tersendiri. (Baca: Kunci Ngaji Al-Qur'an KH Arwani Amin Kudus)

Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berada di lingkungan Menara dan didirikan oleh KHR. Asnawi, cucu Sayyid Ja’far Shodiq, Qudsiyyah ingin menyegarkan kembali semangat membangun kota Kudus dengan tradisi Gusjigang di atas pondasi pluralisme (multi etnis-multi religi). Semangat itu dikemas dalam peringatan  Satu Abad Qudsiyyah dengan tema besar “Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa”. [dutaislam.com/ab]
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini