Kitab Khulashoh At-Tashanif (PDF) dan Sufisme Imam Al-Ghazali
Cari Berita

Advertisement

Kitab Khulashoh At-Tashanif (PDF) dan Sufisme Imam Al-Ghazali

Duta Islam #01
Sabtu, 09 Mei 2020

kitab khulsah tsawwuf karya imam al-ghazali pdf download
Cover Kitab Khulashof Tashanif fit Tashawwuf Imam Al-Ghazali (PDF). Foto: dutaislam.com.

Oleh Uswatun Hasanah

Dutaislam.com - Di dunia pesantren, kajian kitab-kitab turast lintas disiplin adalah sebuah tradisi. Cara belajarnya pun berbeda-beda. Mulai dari metode talaqiy, munawalah, hingga metode bahstul kutub.

Menurut Imam Al-Ghazali, metode memperoleh ilmu itu ada dua: kasbi (cara memperoleh ilmu secara ilmiah dan alamiah) dan kasyfi (cara memperoleh ilmu dengan riyadlah dan ritual batin).

Dalam tradisi Islam (baca: pesantren) keduanya sama-sama dipraktikkan. Namun, teori kasbi Al-Ghazali paling banyak ditempuh karena lebih possible. Sedangkan teori kasyfi relatif impossible, -untuk tidak mengatakan absurd.

Baca: Flashdisk Isi Ribuan Kitab Kuning Jutaan Halaman Tanpa Download

Metode kasbi nyatanya juga dipraktekkan Al-Ghazali kepada muridnya melalui kitab Khulasoh At-Tashaniif Fi at-Tashawwuf ini, -karya yang ditulis Al-Ghazali dalam bahasa Persia.

Khulashah at-Tashaniif Fi at-Tashawwuf sendiri berarti ringkasan karya-karya dalam bidang tasawuf. Karya-karya dimaksud adalah kitab-kitab Imam Al-Ghazali sendiri seperti kitab Ihya’ Ulumiddin, Kimiya’as-Sa'ádah, Jawahir al-Quran, Mizan al-Amal, al-Qisthas al-Mustaqim, Mi’raj al-Quds, Minhaj al-Abidin dan sebagainya.

Kitab ini kemudian diberikan kepada muridnya secara munawalah sebagai jawaban atas kegelisahan akademiknya. Untuk kepentingan manfaat yang lebih besar, kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Amien Al-Kurdi asy-Syafie An-Naqasyabandi, pengarang kitab Tanwir al-Qulub (kitab yang memuat trilogi keislaman: Aqidah, Fikih dan Tasawuf).

Dalam kajian tasawuf, Al-Ghazali termasuk sederetan tokoh sufi yang memiliki kontribusi dan pengaruh besar dalam studi keislaman, sebagaimana juga Imam Junaid Al-Baghdadi. Dalam aliran Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya Nahdlatul Ulama (NU), kedua tokoh ini diakui sebagai marji’ (referen) dan mazhab dalam bidang tasawuf.

Bahkan, Al-Ghazali disebut-sebut sebagai core of the core ulama sufi, dengan masterpiece kitab Ihya’ Ulum Ad-din. Karenanya, gelar Hujjat Allah disematkan kepada Al-Ghazali, ditambah kepiawaiannya dalam disiplin ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti ilmu usul fikih (kitab masterpiece: al-Mustashfa).

Perlu dicatat, dalam kajian tasawuf dikenal dua varian tasawuf: yakni tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Perbedaan keduanya terletak pada objeknya. Tasawuf sunni adalah tasawuf yang lebih menekankan kepada pengamalan moralitas kenabian (prophetic morality) seperti sifat sabar, tawakkal, zuhud dan sebagainya.

Baca: Link Download Kumpulan Kitab Karya Imam Ghazali (كتب الغزالي) PDF

Sedangkan tasawuf falsafi adalah tasawuf yang berbasis kepada pemaknaan nilai-nilai filosofis (philosophical meaning) dan identik dengan kata-kata syathahaat (kalimat eksentrik), seperti ittihad, hulul atau manunggaling kawula lan Gusti (dalam ajaran Syekh Siti Jennar).

Apa yang ditulis Al-Ghazali dalam kitab Khulashah at-Tashaniif Fi at-Tashowwuf esensinya adalah bagian dari ajaran tasawuf sunni, yakni corak tasawuf yang lebih berorientasi kepada kesalehan akhlak (kenabian). Tak heran, bila kitab ini menggunakan pendekatan istidlal dalaliyah (penggunaan dalil-dalil otoritatif) sebagai dasar teori, seperti hadis-hais Nabi dan riwayat-riwayat sahabat.

Kitab ini juga popular dengan sebutan kitab Ayyuha al-Walad, karena redaksinya banyak menggunakan kalimat sapaan "ayyuha al-walad" (wahai ananda). Kalimat ini mengindikasikan adanya keakraban (kedekatan emosional) antara guru dan murid, laksana relasi ayah dan anaknya. Bisa juga berarti sebagai bentuk apresiasi guru kepada muridnya.

Nasehat-nasehat sufistik yang diajarkan Al-Ghazali dalam kitab ini, antara lain: 1. Signifikansi mempelajari Sunnah Nabi sebagai barometer kebenaran; 2. Larangan sibuk dalam hal-hal yang tidak bermanfaat positif; 3. Sulitnya mengamalkan nasehat dan mudahnya memberi nasehat;  4. Pentingnya kesuksesan dalam investasi amal kebaikan; 5. Perlunya sinergisitas ilmu dan amal; 6. Urgensi muhasabah dalam setiap tindakan; 7. Arti penting ketulusan (niat) dalam belajar dan beramal; 8. Integrasi akal, jiwa dan perilaku dalam kehidupan; 9. Reorientasi masa depan (ukhrawi) dalam setiap perbuatan; 10. Keistiqamahan dalam qiyamul lail; 11. Prioritas substansi dan kualitas dalam beribadah dan beramal, dan lain-lain.

Dilihat dari perspektif ilmu psikologi pendidikan, nampaknya nasihat-nasihat sufistik tersebut dapat dibagi dalam tiga kategori: pertama, kemampuan intelektual (intellectual ability), yakni kecerdasan berpikir. Berfikir adalah ciri khas manusia yang berbeda dari makhluk lain, seperti tadabur alam semesta, muhasabah, tafakkur dalam musibah.

========
IDENTITAS KITAB:
Judul Kitab: Khulashah at-Tashaniif  Fi at-Tashawwuf
Penulis: Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Penerbit: An-Najah, Mesir
Tebal: 32 halaman PDF (6.62 MB)
Link download PDF: Kitab Khulashoh At-Tashanif fis Tashawwuf
========

Kemampuan intelektual sangat menopang terhadap kualitas manusia dalam beribadah dan beramal. Kata kuncinya adalah ilmu pengetahuan. Bila ilmu pengetahuan dikuasai, maka kualitas beribadah dan beramal sangat tinggi. Seperti dikatakan Al-Ghazali, ilmu adalah landasan amal (al-ilm asas al-‘amal).

Kedua, kemampuan emosional (emotional ability), yakni kesadaran jiwa manusia untuk bertindak positif dalam perilaku sosial, seperti toleransi, derma, tolong-menolong dan tindakan social-ethic lainnya.

Sedangkan kecerdasan jiwa menurut Al-Ghazali dalam Mukasyafat al-Qulub, terbagi dalam tiga level: nafs muthmainnah (jiwa yang aktif dan berorientasi positif); nafs lawwamah (jiwa yang labil, fifty-fifty, terkadang positif, terkadang pula negatif) dan nafs ammarah (jiwa yang pasif dan berorientasi negatif).

Ketiga, kemampuan spiritual (spiritual ability) yakni kecerdasan ilahiyah, manifestasi nilai-nilai ilahiyah dalam aktivitas kemanusiaan. Kecerdasan ini bisa berwujud kesadaran beribadah seperti ikhlas, shalat, dzikir, munajat dan berdoa. Keduanya (kemampuan emosional dan kemampuan spiritual) adalah hasil produksi dari ilmu pengetahuan (kemampuan intelektual).

Dalam istilah Al-Ghazali, amal adalah buah dari ilmu (al-ámal tsamrotu al-ilm). Alhasil, seorang salik, murid atau mursyid perlu mensinergikan secara integratif tiga kecerdasan sekaligus (intelektual/akal, emosional/hati dan spiritual/perbuatan jawarih).

Dalam arti ini, salik adalah orang yang menempuh jalan spiritual dengan beragam macam ibadah, vertikal maupun horizontal. Sedangkan murid adalah orang yang memiliki keinginan kuat untuk mencapai level maqamat sesuai arahan ritual seorang mursyid (guru spiritual).

Sementara mursyid adalah orang yang menjadi penunjuk jalan bagi murid untuk mencapai maqamat. Maqamat (levelisasi) dalam tasawuf menurut al-Ghazali ada empat: syariah, thariqat, hakikat dan makrifat. Semua maqamat harus dilalui mutashawwif (pelaku sufi) secara hirarkhis-berjenjang (button-up).

Terakhir, Al-Ghazali merekomendasikan beberapa hal penting bagi pelaku sufi (mutashawwif) yang harus diperhatikan: pertama, memiliki akidah yang baik dan benar (al-aqidah as-salimah), jauh dari syirik dan bidáh. Sebab, tolak ukur kebenaran akidah adalah ittiba’ sunnah Nabi. Akidah yang benar akan melahirkan perilaku suluk yang benar.

Kedua, mempunyai komitmen dan konsistensi dalam bertaubat (baca: taubatan nasuha). Konsep ini efektif dalam membangun kesadaran spiritual yang ajeg (kontinyu), sehingga tidak ada jarak komunikasi (communicative distance) antara hamba (ábid) dengan Allah (ma’bud).

Ketiga, memiliki sikap samahat (legowo, toleran) kepada sesama manusia. Kehidupan sosial (social life) menjadi ajang komunikasi efektif sekaligus kontrol diri (self control) dalam meningkatkan stabilitas kesalehan. Sebab, disadari ritme keimanan seringkali fluktuatif. Sehingga penting menjaga intensitas interaksi sosial dalam upaya investasi amal.

Keempat, bertekad mengamalkan ilmu dalam kehidupan sosial. Dalam konteks ini, Al-Ghazali kembali menekankan arti utilitas keilmuan dalam realitas kehidupan sosial. Bahwa ilmu bukan untuk ilmu pengetahuan an sich, tetapi untuk berkontribusi dalam kehidupan riil masyarakat. Selalu ada korelasi antara ilmu dan amal. Semakin tinggi kualitas keilmuan seseorang, semakin besar pula tanggungjawab dan tuntutan pengamalannya.

Baca: Toko Online Kitab Kuning Makna Pesantren dan Makna Jawa

Kelima, memiliki guru spiritual (mursyid) dalam menjalani “lelaku” sufi. Ibarat perahu, kehadiran nakhoda sangat diperlukan untuk mengarahkan perahu agar bisa berjalan mengikuti arah angin. Begitu juga salik atau murid harus mempunyai mursyid dalam menapaki jalan menuju maqomat tertinggi dalam lelaku sufi.

Keenam, bersikap mawas diri (self control) melawan hawa nafsu. Dalam dunia sufi, musuh terberat adalah hawa nafsu. Ada adagium sufistik mengatakan, “siapa yang mengenal dirinya, maka berarti ia mengenal tuhannya (man arafa nafsahu faqod arafa rabbahu)”. 

Adagium ini hendak menggambarkan bahwa Tuhan dapat ditemukan dalam diri manusia. Dalam arti kata, bilamana manusia mau memahami dirinya, dari mana asalnya, bagaimana diciptakan, dan ke mana akhirnya kembali, maka pastilah berkesimpulan bahwa dibalik itu semua ada kekuatan Tuhan (Qudrat Allah).

Akhirnya, manusia yakin bahwa dirinya bersifat dependen, sementara Tuhan (Allah) bersifat independen. Kebergantungan makhluk (hamba) dengan khalik (Tuhan) adalah mutlak. Namun, terkadang hawa nafsu dapat menjadi hijab (tirai penghalang) antara dirinya dengan Tuhan.

Baca: Keunikan Kitab Khawash Al-Qur'an (PDF Download) - Karya Imam Al-Ghazali

Ketujuh, bersikap mencintai dan menyayangi fakir-miskin. Sikap ini adalah bentuk manifestasi nilai-nilai ilahiyah ke dalam amal-amal insaniyah (seperti peduli fakir-miskin dan anak yatim). Sikap ini dimaksudkan untuk menghapus hedonisme keduniawian (hubb ad-dunya) seperti sifat thama’ (rakus), bakhil (pelit) dan israf (berlebihan).

Di samping itu, juga untuk mewujudkan sifat iffah (kesucian diri), qonaáh (kesederhanaan) dan zuhud (tidak materialis), sebagai ciri dan karakter khas kaum sufi. Wallahu a'lam. [dutaislam.com/ab]

Uswatun Hasanah, SMP 2 PP. Salafiyah Syafieyah Sukorejo Situbondo

IKLANJUAL GELANG STEP UNTUK ANAK
close
Banner iklan disini