Uyghur, Sejenis Suku "Kadrun" Indonesia di Cina
Cari Berita

Advertisement

Uyghur, Sejenis Suku "Kadrun" Indonesia di Cina

Duta Islam #01
Kamis, 19 Desember 2019

polemik uyghur memakan energi banyak anak bangsa indonesia
Suku muslim Uyghur di Cina yang memang harus dicintai tapi tidak perlu dibela jika memberontak negara sah seperti Cina. Foto: istimewa.

Oleh Indra J Mae

Dutaislam.com - Di China atau Tiongkok, terdapat 10 etnis yang beragama Islam antara lain Bao'an (Bonan), Tatar, Salar, Uzbeks, Kyrgiz, Dongxiang, Tajik, Uyghur, kazakh dan Hui. Muslim China yang terbesar adalah Hui. Sedang populasi Uyghur berkisar 10 juta atau 0,7% dari penduduk China.

Jika China anti atau memerangi penduduk Muslim, maka harusnya semua etnis Muslim yang populasinya besar macam etnis Hui akan ikut jadi korbannya. Nyatanya tidak toh? Hui dan 8 etnis muslim lainnya tetap hidup aman dan damai saat ini.

Mengapa cuma suku Uyghur yang diperangi? Karena ini berhubungan dengan ancaman disintegrasi negara China. China punya wewenang penuh untuk mengamankan situasi dan menjaga kesatuan wilayahnya. Semua negara pasti demikian dalam menghadapi separatis dan kelompok makar.

Kenapa Uyghur?

Saya lansir dari berbagai media tentang eksistensi Uyghur, ternyata isi liputan dan artikel media itu semuanya sama, yakni Uyghur tercatat dalam sejarah China sudah berkali kali memberontak terhadap pemerintahnya untuk memerdekakan diri, dan berkali kali pula mereka ditumpas.

Salah satu etnis muslim China yang ikut keras meredam dan mengantisipasi pemberontakan Uyghur adalah etnis muslim Hui. Itu penyebab generasi etnis Uyghur sangat membenci etnis Hui. Meskipun sama-sama beraliran Sunni, tapi keduanya berbeda ideologi. Uyghur berideologi Pan-Turki, sementara Hui berideologi nasionalisme.

Kebencian dan dendam Uyhgur terhadap etnis Hui bisa dilihat tahun 1933 yang dikenal sebagai "Pembantaian Kizil", dimana Uyghur membuat kerusuhan mengincar nyawa etnis Hui. Kebencian Uyghur terhadap etnis Hui belum padam hingga saat ini. Ditunjukkan pada tahun 2009 saat terjadi kerusuhan Xinjiang, etnis Uyghur di medsos ramai-ramai menyerukan pembunuhan etnis Hui dan Han.

Uyghur menebar kekacauan serius. Sejak itu, Uyghur dipantau khusus oleh pemerintah China. Melihat sepak terjang Uyghur, sepertinya inilah jenis bangsa "Kadrun" dari China.

Dugaan persekusi Uyghur saat ini (yang viral beredar di media sosial) serupa dengan yang terjadi di Marawi, Filipina dan teror perang Suriah baru-baru ini. Provokasinya adalah pelanggaran hak asasi manusia, namun memuat elemen kepentingan internasional terkait politik ekonomi dari negara Barat dan Eropa. Polemiknya sangat rumit.

Turki yang notabene berkerabat dengan Uyghur pun enggan mengulurkan bantuan, apalagi menampung pengungsinya. Negara Islam sekular ini punya kepentingan politis dengan China dan tentu saja, beresiko besar jika terjebak dalam permainan AS dan Eropa.

Uyghur menjadi salah satu rangkaian strategi dari perang industri yang siap dipropaganda oleh AS untuk menekan eksistensi China. Mau bukti? Searching saja berita dari media yang valid dan terpercaya, biar paham dan tahu, negara mana yang paling riuh dan heboh mengangkat kasus Uyghur.

Ironisnya, isu persekusi Uyghur yang dipelintir. Lagi-lagi menunggangi Islam. Berita-beritanya pun kadung menyebar di media sosial, media kiri, dan kanal Youtube. Apalagi situs abal-abal.

Orang Indonesia yang dikenal malas baca dan gemar dengan kisah dramatik bernuansa religi, tentu akan menelannya mentah mentah.

Jadi, ikut ribut atas hal yang tidak dipahami, mending simpan energi kalian untuk bikin hidup tenang dan berkualitas. [dutaislam.com/ab]

Source: Indra J Mae

IKLANJUAL KITAB KUNING MAKNA PESANTREN
close
Banner iklan disini