Penemuan Agus Sunyoto Bantah Sejarawan yang Mengatakan Resolusi Jihad Tak Pernah Ada
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Penemuan Agus Sunyoto Bantah Sejarawan yang Mengatakan Resolusi Jihad Tak Pernah Ada

Duta Islam #02
Selasa, 22 Oktober 2019
Loading...

Pertempuran 10 November di Surabaya. (Foto: Dok Kompas)

DutaIslam.Com - Setelah sebelumnya dinyatakan ada usaha-usaha dari kalangan atas (orang berpendidikan tinggi hasil didikan Belanda) untuk menyembunyikan fakta sejarah tentang fatwa dan resolusi jihad KH Hasyim Asy'ari, KH Agus Sunyoto menyatakan, para penulis sejarah Indonesia menyebutkan tidak ada fatwa dan resolusi jihad itu.

Baca: Kenapa Sejarah Fatwa dan Resolusi Jihad Belum Lama Terungkap? Karena Sekolah Didikan Belanda!

Dan karena adanya upaya penyembunyian sejarah tersebut, Gus Dur sempat marah dan melakukan klarifikasi dengan menemui tokoh-tokoh tua (senior) di kalangan kelompok sosialis mengenai hari pahlawan 10 November.

Baca: Gus Dur Marah Saat Mengetahui Fakta Resolusi Jihad Sengaja Disembunyikan

Membantah tuduhan sejarawan itu, KH Agus Sunyoto menemukan tulisan seorang sarjana, sejarawan Amerika bernama Frederik Anderson yang menuliskan tentang penjajahan jepang di Indonesia tahun 1942 sampai 1945.

"Beliau menyatakan, tanggal 22 oktober pernah ada Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya," ujar Kiai Agus dalam acara bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad, di Pondok Lirboyo (03/11/2017).

Kiai Agus menjelaskan, sumber dasar yang ditulis Frederik Anderson menyatakan, setelah Resolusi Jihad dikumandangkan tanggal 22 oktober, tanggal 25 oktober kantor berita Antara yaitu kantor berita nasional memuat secara lengkap Resolusi Jihad.

"Kantor berita negara itu," tandas Kiai Agus.

Selain itu, kata Kiai Agus, tanggal 27 Oktober Koran kedaulatan Rakyat juga memuat secara lengkap Resolusi Jihad. Tambahnya, ada lagi Koran Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat Resolusi Jihad.

"Artinya, peristiwa ini ada sekalipun wong Indonesia tidak mau menulis bahwa itu ada. Karena menganggap NU yang mengeluarkan ini golongan lapisan bawah. Dimanipulasi…," ujar Kiai Agus.

"Disitulah kita temukan, kita patahkan pandangan orang yang mengatakan NU satu-satunya elemen Bangsa Indonesia yang tidak memeliki peran apapun dalam bina Negara Republik Indonesia. Disitu kita buka, kita bongkar dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jepang dan sebagainya," imbuhnya. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini