Islam Nusantara Menang Banyak
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Islam Nusantara Menang Banyak

Duta Islam #02
Kamis, 24 Oktober 2019
Loading...

Presiden Joko Widodo didampingi Wapres Ma'ruf Amin memperkenalkan jajaran menteri Kabinet Kerja II di tangga veranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). Foto: Antara/Wahyo Putro.

Oleh Ahmad Arwani

DutaIslam.Com - Konstelasi perpulitikan nusantara telah mencapai klimaksnya. Setelah Pakdhe dan Abah terpilih tak ayal publik menunggu-nunggu the winning team.

Tepatnya Rebo Legi menjadi Rebo Keramat yang dinanti semua pihak. Tak ayal semua mata dan telinga fokus mendengar pengumuman susunan Kabinet oleh Pakdhe yang ndheprok ditemenin Abah.

Sejurus kemudian, sudah diduga negeri 1000 komentator ini menjadi riuh. Layaknya di stadion bola ada yang bergembira ria, ada pula yang kecewa.

Beberapa statemen rekan-rekan Nahdliyin mulai bermunculan. "Masak NU  yang berjibaku malah gak dikasih Menteri Agama", salah satu komen nyerocos di dunia maya siang tadi.

Ada pula statemen yang katanya banyak kiai yang protes karena Menag malah jatuh ke tangan Jenderal. Padahal ini bukan hal yang baru. Tercatat nusantara ini pernah memiliki 2 menteri agama yang ber-background militer, Pak Tarmizi dan Pak Alamsyah. Sebenarnya biasa saja keles.

Bagi saya, kalau kita runut warga Nahdliyin sudah diwakili oleh para kadernya. Dari Abah mantan "Jendral tertinggi NU", Prof Mahfudz,  Mbak Ida, kakak Cak Imin dan masih banyak lainnya.

Bahkan jangan salah lebih banyak lagi yang bercokol di Kabinet. Anak-anak ideologi Islam Nusantara mewarnai, bahkan Pakdhe adalah notabene berjamiyyah NU yang selalu minta "petuah" ke Mbah Habib Luthfi salah satu "jimat" NU. Belum lagi kalau mau ditelusuri masih banyak lagi.

Kalau tidak percaya cek saja ritual ibadah mereka (tentunya yang muslim ya). Kalau mereka masih tahlilan, ziarah kubur ya pastilah itu representasi dari jamiyyah Islam Nusantara.

Sekali lagi Islam Nusabtara menang banyak. Bayangkan kadrun-kadrun yang "berdarah-darah" berupaya mendongkel Islam nusantara, membubarkannya terpaksa menelan pil pahit. Gagal maning gagal maning son.

Coba kalau mereka mau berintelijen ria (spying) layaknya dari Snouck Horgrounje ikut ritual khas warga NU dan Islam Nusantara. Pasti gampang membubarkan mereka. Cukup dengan sholawat, bubar mereka semua sambil membawa nasi berkat masing-masing ke rumah.

Kembali ke laptop. Bagi yang masih kecewa, karena mengapa bukan Kiai Said atau Kiai Marzuki yang menjadi Menag, hemat saya, jangan keles... Gak kuat bayar untuk meng-hire kedua maestro tersebut. Mirip PSIS mau merekrut Lionel Messi atau Chritiano Ronaldo ra kuat mbayare ndhes ...

NU itu dari lambangnya saja sudah ketahuan, didirikan bukan hanya untuk Indonesia tapi untuk dunia alias rahmatan lil alaamin. Jadi sungguh terlalu kecil kalau Kiai Said atau Kiai Marzuki menjadi Menag untuk ngurusin orang Indonesia thok.. ora kelase sob. Mikir.

Menyitir dan menambahkan kata cak lontong, NU itu lebih besar dari UN (PBB). Kalau PBB ngurusin orang seluruh dunia, nah kalau NU ngurusin orang hidup dan mati seluruh dunia.

Jadi keanggotaan jamiyyah NU (Islam nusantara) tidak pernah berkurang, tambah terus hingga akhir zaman.

Jadi inget percakapan Gus Mus dengan Gus Dur beberapa puluh tahun silam. Gus Mus mengeluhkan kenapa warga NU akhir-akhirnya hanya berperan sebagai Satpam Negara. Gus dur pun menjawab," memang ada pekerjaan yang lebih mulia daripada menjaga negara?".

So, Islam Nusantara menang banyak kan. Jangan khawatir nusantara ini dilindungi oleh para wali yang jumlahnya terbanyak kedua setelah Yaman.

Selamat bekerja Pakdhe, Selamat bekerja Abah
Selamat bekerja kabinet..

Mari kita dukung dan doakan bersama untuk mereka, kita dan Islam Nusantara. [dutaislam.com/gg]

Ahmad Arwani, Penggemar nasi berkatan. (Kreo, 24-10-2019).

close
Banner iklan disini