Beda dengan PKI, Kiai Said Nilai Pembubaran HTI Masih Setengah Hati
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Beda dengan PKI, Kiai Said Nilai Pembubaran HTI Masih Setengah Hati

Duta Islam #03
Minggu, 20 Oktober 2019
Loading...

Ketum PBNU Kiai Said Aqil Siradj. Foto: Tagar.id
DutaIslam.Com - Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai H Said Aqil Siradj menilai pembubaran Hizbut Tahir Indonesia (HTI) masih setengah hati. Simbol HTI masih beredar bebas. Bahkan ajarannya masih berkeliaran di tengah masyarakat.

"HTI dibubarkan hanya badan hukum dicabut, tapi ajaran, benderanya belum ada larangan," ujar Kiai Said di Surabaya, Sabtu (19/10/2019) dikutip dari Tagar.id.

Kiai Said lantas membandingkan pembubaran HTI dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pembubaran PKI, semua atribut, simbol, dan bendera dilarang dibentangkan dan dipasang. Begitu juga ajaran PKI, dilarang beredar di masyarakat.

"Kalau PKI semua dilarang. HTI cuma dicabut badan hukumnya," ujarnya.

Ada Upaya Hancurkan NU
Sebelumnya, Kiai Said juga mengatakan bahwa ada sejumlah pihak yang memiliki agenda besar untuk menghancurkan NU sebelum 2024. Menurut Kiai Said mereka adalah kelompok yang selama ini menyimpan ketidaksukaan terhadap NU.

"Ini pasti yang nggak senang NU, ada agenda rencana bagaimana menghancurkan NU sebelum 2024," kata Kiai Said, Kamis (17/10/2019) dikutip dari CNNIndonenesi.com.

Kedongkolan kepada NU, lanjut Kiai Said, diperparah saat Jokowi bersama Kiai Ma'ruf Amin yang merupakan kader NU berhasil memenangi Pilpres 2019. Dan sebentar lagi keduanya akan dilantik menjadi pasangan presiden dan wakil presiden.

"Jelas dong, indikasinya pihak manapun yang di luar NU ini betapa dongkolnya, karena kemenangan Jokowi-Ma'ruf sebagai kader NU, atau kiai NU, sejak kecil, sejak muda, jadi aktivis NU mencapai puncak wakil presiden, pimpinan nasional," papar Said.

Kendati demikian, Kiai Said enggan mengungkapkan secara lugas identitas pihak yang ingin menghancurkan NU. Menurutnya, bagi kelompok itu, apapun yang dilakukan NU pasti dipandang secara negatif. Termasuk pula saat PBNU bersama sineas Livi Zheng, banyak kritikan tajam langsung diarahkan kepada NU.

"Pokoknya yang tidak senang NU, saya tidak bisa menyebut namanya, kita semua merasakan, bahwa apapun yang dilakukan NU, jangankan jelek, baikpun yang namanya film The Santri, belum belum (tayang), baru trailernya itu sudah komentarnya caci maki mengkafirkan dan sebagainya," katanya. [dutaislam.com/pin]


close
Banner iklan disini