Wartawan Republika Papua Akui Tuntutan Pembubaran Banser Tidak Benar
Cari Berita

Advertisement

Wartawan Republika Papua Akui Tuntutan Pembubaran Banser Tidak Benar

Duta Islam #03
Senin, 26 Agustus 2019

Banser Papua foto bersama Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Media Republika memeriksa fakta mengenai tuntutan pembubaran Banser oleh masyarakat Papua yang dibawa Anggota DPD Papua terpilih Yorris Raweyai. Wartawan Republika di Papua Chanry Suripati mengakui bahwa tuntutan tersebut tidak benar.

“Info itu (dari Yorris) tidak betul. Hanya beberapa oknum warga saja yang diduga sengaja menghembuskan hal tersebut,” ujar Chanry dikutip dari berita Republika berjudul "MUI Papua Barat Terkejut Ada Tuntutan Pembubaran Banser" tayang 26 Agustus 2019.

Chanry mengatakan, hanya beberapa oknum yang mengatakan itu. Namun dia mengaku belum jelas betul siapa yang berupaya menghembuskan tuntutan pembubaran Banser di Sorong.

MUI Papua Terkejut

Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat Ustadz Ahmad Nasrau mengaku terkejut adanya tuntutan tersebut. Menurutnya, selama ini di Papua dan Papua Barat tak pernah ada konflik antara Banser dengan warga Papua.

“Kami di sini sangat menjunjung prinsip ‘Satu Tungku Tiga Batu’. Kerukunan antarumat beragama sangat kami jaga. Tidak pernah ada gejolak seperti itu di Papua. Jadi ini tuntutan sangat tiba-tiba,” katanya.

MUI menduga tuntutan itu didorong oleh peristiwa pengepungan mahasiswa Papua di Surabaya. Saat para tokoh di Papua Barat melakukan pertemuan dengan perwakilan Mabes Polri Irjen Paulus Waterpau pekan lalu, memang ada pertanyaan soal ormas yang ikut menggeruduk mahasiswa Papua di Surabaya pada Jumat (16/8). Kendati demikian, kata Ustaz Ahmad, tak dijelaskan soal siapa pihak ormas yang melakukan penyerangan saat itu.

“Jadi bisa jadi ada anggapan soal peristiwa di Surabaya itu yang bikin tuntutan itu,” kata dia.

Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya HM Faridz Afif telah memberikan klarifikasi tuduhan kepada Banser NU terlibat penggerudugan dan bertindak rasialisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Bahkan di hari pertama pengepungan tidak ada anggota Banser ataupun Ansor yang datang ke sana.

"Enggak (Banser Surabaya melakukan penggerudukan dan melakukan tindakan rasis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya)," ujarnya dikutip dari Republika.co.id.

Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) sebelumnya mengatakan pihak mendapat laporan bahwa Banser Surabaya memang diajak untuk menggeruduk Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Namun Banser Surabaya menolak. (Baca: Banser Sempat Diajak Kepung Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Tapi Menolak).

Sebagaimana diberitakan, penggerudukan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dan Pemuda Pancasila (PP).

Korlap dari insiden tersebut adalah Tri Susanti, Caleg Gerindra pengurus Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) Surabaya. Saat ini Tri Susanti dipecat dari FKPPI karena tindakannya itu. [dutaislam.com/pin]





close
Banner iklan disini