Menunggu Benturan Berikutnya antara Negara, Umat Islam vs Ikhwanul Muslimin
Cari Berita

Advertisement

Menunggu Benturan Berikutnya antara Negara, Umat Islam vs Ikhwanul Muslimin

Duta Islam #01
Rabu, 28 Agustus 2019

Ilustrasi benturan peradaban umat Islam Indonesia, Negara dan Ikhwanul Muslimin. Foto: istimewa.

Oleh Dr. Abdul 'Alim

Dutaislam.com - Benturan antara negara (dan umat Islam Indonesia) dengan Ikhwanul Muslimin adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Sebagaimana di negara muslim lainnya benturan itu pasti akan terjadi di Indonesia. Di Mesir Lybia Timur Tengah, benturan itu sudah berkali-kali. Di Indonesia, peristiwa 212 adalah benturan pertama antara Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia dengan pemerintah dan umat Islam Indonesia.

Akan ada benturan selanjutnya, yang mengambil momen-momen politik, dan saat itu benturan akan lebih besar lagi. Saat itu mereka lebih menguasai lembaga-lembaga negara. Akar benturan adalah perjuangan IM untuk mewujudkan pemerintah Islam dan berikutnya khilafah.

Sungguh kesimpulan ini hanya keluar setelah penelitian yang panjang. Pengamatan terhadap aktivis ikhwan di kampus, membaca artikel, mengamati perilaku kader mereka di politik nasional dan juga di kampus, dan mengumpukan semua buku ikhwan yang ditulis pendirinya hingga para penggeraknya di Indonesia. Buku-buku tersebut bila disusun bisa sampai 4 meter tingginya.

Awalnya saya mengumpulkan buku buku itu untuk mempelajari manhaj dakwah mereka, tapi kemudian menemukan yang lebih mengerikan, yang membantu memahami berbagai persoalan pergolakan politik identitas yang sering mengemuka akhir-akhir ini. Tidak lain aktor utamanya adalah aktivis tarbiyah ikhwanul muslim yang pusat kaderisasinya berada di kampus-kampus umum negeri Indonesia.

Baca: Sejak Dulu, Ikhwanul Muslimin (PKS) Sudah Dijuluki Partai Sapi

Buku-buku ini menjadi hujjah agar apa disampaikan di sini bukanlah fitnah, melainkan fakta yang perlu kita perhatikan sebagai nasehat untuk semua pihak (pemerintah, kampus, mahasiswa, orang tua dan masyarakat) apabila masih peduli dengan nasib bangsa dan negara.

Dimanapun berada IM pasti menimbulkan benturan dan kekacauan dengan negaranya. Oleh karena itu, di tempat lain (di Mesir, di Saudi Arabia, di Libia), IM sudah dilarang.

Hanya di Indonesialah IM bisa bebas melakukan kaderisasi, dan menggunakan fasilitas negara untuk merekrut kader, dan mencekoki kader untuk menggantikan pemerintahan Islam dan berikutnya mendirikan khilafah.

Kalau tidak percaya lihatlah gambar untuk menyertai tulisan ini dari para penulis ikhwan sendiri dan para aktivisnya di Indonesia. (Lihatlah gambar-gambar buku ini). Buku-buku tersebut hanya contoh kecil saja.

buku bertema radikalisme di indonesia
Contoh kumpulan buku terbitan ikhwan di Indonesia.

Sementara di negara lain dilarang, di Indonesia Ikhwanul Muslimin tampil dengan bebas menggunakan fasilitas kampus dan dibiayai dengan anggaran Negara. Yaitu dengan penguasaan lembaga-lembaga dakwah kampus (LDK), rohis sekolah, menggunakan masjid-masjid kampus untuk liqa', difasilitasi kampus dengan UKM (dengan nama-nama yang bervariasi di kampus), program asistensi agama Islam atau mentoring untuk menjaring anggota. Jaringan aktivis tarbiyah ini juga menguasai BEM kampus dan memiliki pulusan kos binaan di sekitar kampus yang membuat mereka selalu menang menguasai BEM.

Untuk mengorganisasikan kaderisasi IM, di setiap kota dan setiap kampus mereka mempunyai pengendali yang dikendalikan oleh aktivis partai tertentu. Mereka bisa menarik mahasiswa dengan kos-kos murah karena kontribusi para aktivis partai. Kepada merekalah para aktivis LDK itu memberikan loyalitas. Bukan pada universitas atau pimpinan perguruan tinggi.

Benturan Negara dan Umat Islam versus Aktivis Tarbiyah


Tarbiyah IM akan berbenturan dengan umat Islam dan pemerintah. Paling tidak ada tiga hal yang menjadi inti kaderisasi mereka: (1) tarbiyah IM membid’ahkan amalan ahlus sunnah waljamaah, (2) ingin menggantikan pemerintahan berdasarkan syariat versi ikhwan, dan (3) bertujuan mendirikan khilafah.

Bedanya dengan HTI, yang terbuka dan langsung bercita-cita mendirikan khilafah, kader tarbiyah Ikhwanul Muslimin melalui LDK Kampus dan Rohis Sekolah, tujuan mereka adalah ingin menguasai pemerintahan dahulu, kemudian mendirikan khilafah.

Disinilah, dimana-mana Ikhwanul Muslimin selalu akan berbenturan dengan pemerintah, walaupun pemerintahnya sendiri adalah umat Islam.

Tarbiyah Ikhwanul Muslimin tidak percaya dengan orang yang berada di luar jamaah mereka. Oleh karena itu, sesama muslim pun akan dianggap musuh bila bukan bagian dari Ikhwanul Muslimin.

Berikut adalah beberapa penyimpangan yang terdapat dalam ajaran dan praktek ikhwanul muslimin yang diajarkan di LDK-LDK kampus sebagai kepanjangan IM di Indonesia.


  1. IM menghipnotis pendukungnya dengan menggunakan strategi sibernetik untuk menguasai otak dan hidup kadernya sehingga mereka menjadi fanatik, patuh dan mudah dikendalikan.
  2. IM, menistakan orang yang bermaksud mengkritiknya dengan sebutan orang yang bodoh, thaghut, orang yang dengki, orang liberal, orang yang menuruti hawa nafsu, musuh Islam, sehingga kader dakwah IM (LDK dan Rohis di Sekolah) menganggap orang yang mengkritiknya sebagai thagut dan sebagainya sehingga menjadikan mereka semakin tertutup dari pemikiran yang luas.
  3. Tarbiyah IM mengkritik pemerintahan kaum muslimin sehingga pasti akan menimbulkan benturan. Semua pemerintahan muslim kalau tidak berasal dari IM dianggap tidak Islami.
  4. Tarbiyah IM memisahkan pemuda dengan ulama dengan menyebut mereka sebagai ahli bid’ah karena beda fikrah sehingga di kampus aktivis dakwah kampus hanya berguru dengan murabbi dari lingkungan mereka yang tidak memiliki kapasitas ilmu agama. Bahkan tarbiyah IM membenci para ulama, tidak ragu memfitnah dan membuat hoax tentang mereka.
  5. Kalau ditanya mengapa demikian, jawab mereka karena para ulama-ulama tidak ma'shum. Pertanyaannya, kalau para ulama yang betul betul alim alamah itu tidak ma'shum apalagi Hasan Al-Banna yang menjadi pemimpin IM dan kader dakwah?
  6. Dari banyaknya buku yang dikumpulkan tentang IM itu, diantara sekian banyak para ulama dalam sejarah Islam dari sejak Nabi Muhammad Saw. sampai saat ini, hanyalah Hasan Al-Bana sebagai rujukan utama. Apakah tidak ada ulama lain? Bahkan dalam buku-buku tarbiyah dirasakan bahwa kader dakwah IM yang berada di LDK dan rohis-rohis sekolah itu seolah menempatkan Hasan Al-Banna melebihi Nabi Muhammad Saw. sendiri karena rujukan utama adalah Hasan Al Banna. Al-Qur’an dan Hadits hanya dipakai kalau sesuai dengan pikiran Hasan Al-Banna dan tokoh politik Ikhwanul Muslimin atau partainya di Indonesia.
  7. Para penggiat dakwah/kader tarbiyah IM menyebarkan hoax untuk ulama, pemimpin muslim yang mereka benci. Kader ikhwan adalah ahlul fitnah hoax wal jamaah. Adanya fitnah dan hoax ini menunjukkan bahwa amal ibadah mereka tertolak, tarbiyah yang dijalani tidak bisa menjaga diri mereka dari dosa yang sangat besar (fitnah kepada sesama muslim, pemerintah muslim bahkan ulama). 
  8. Tarbiyah IM menganggap dakwah lebih penting dari keluarga dan orangtua (sebagaimana diakui kader sendiri)
  9. Penggunaan jargon-jargon “umat Islam” yang dipakai gerakan 212 dan kontestasi pilpres seperti “umat Islam harus menang” padahal Pak Jokowi adalah muslim yang taat, dan Kiai Makruf Amin adalah seorang ulama merupakan tradisi tarbiyah IM. Semua itu sudah ada dan biasa digunakan di buku-buku tersebut. Jadi apa yang terjadi pada 212 sebenarnya bukan hal baru. Bagian dari kaderisasi yang mengemuka saja.
  10. Tarbiyah Ikhwan membakar sektarianisme berdasarkan agama. Merekalah sejatinya agen dari clash of civilization.
  11. Dari sekian banyak buku, aktivis yang menjadi rujukan tidak ada ulama dari Indonesia. Mereka semuanya berasal dari luar negeri. Yang tidak paham dengan situasi Indonesia, mereka bukan ulama, tapi petualang politik. Seperti Fathi Yakan yang bukunya banyak dipakai rujukan adalah aktivis Lybia yang berkontribusi besar atas kehancuran Lybia. Sedangkan ulama Indonesia yang alim alamah seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari yang hafal kutubus sittah, yang mendapat gelar syaikhul akbar (menguasai ilmu lahir dan batin), dan Prof. Dr. Quraish Shihab yang ahli tafsir tidak laku bagi para aktivis tarbiyah.
  12. Tarbiyah IM terputus kepada Nabi Muhammad SAW. Semua aktivis LDK di kampus hampir tidak mau bersholawat, tidak mau bermaulid, tidak mencintai habaib. Setelah ikut tarbiyah mereka sama sekali tidak mau ikut bershalawat, ngaji dengan kiai atau habaib yang alim. Ini adalah penyelewengan yang nyata.
  13. Tarbiyah diindoktrinasi ketaatan membabi buta pada pimpinan yang merupakan partai tertentu. (Lihat gambar)
  14. Tarbiyah IM (aktivis LDK) memiliki loyalitas bukan kepada kampus, tapi kepada qiyadah mereka, yaitu partai.
  15. Tarbiyah IM membangun kekuatan politik, dengan memanipulasi “dakwah”. Kata dakwah sebenarnya hanyalah pembohongan untuk menipu pemuda


Tarbiyah IM tidak enggan menggalang kekuatan bersenjata sebagaimana diakui aktivisnya sendiri (Cahyadi Takariawan, Al Ikhwan Al Muslimun bersama Mursyid Am kedua, 2002). Para aktivisnya disebut jundi (tentara). Istilah jundi banyak dipakai oleh kader dakwah yang menulis buku.

Aktivis tarbiyah memiliki aktivis semangat yang tinggi, tapi mereka bukan ulama' sehingga salah dalam memahami Islam.

Tarbiyah mengangkat orang yang baru belajar agama menjadi murabbi, sementara saat yang sama menolak ulama', sehingga terjadi salah paham agama dan paham yang salah semakin sistematis (cerita di buku Menjadi Murabbiyah Sukses).

Mencekoki pemuda dengan semangat jihad tokoh radikal sehingga potensi meracuni pemuda yang masih labil di kampus sebagai teroris. Tarbiyah mengajarkan paham-paham yang melenceng seperti orang tua nabi sesat dan masuk neraka serta kesesatan tasawuf padahal mereka bukanlah orang yang ahli agama sehingga bisa mengacaukan masyarakat.

Kader tarbiyah tidak belajar ilmu agama pada guru bersanad, dan tidak belajar pada kitab-kitab yang sangat banyak dalam tradisi Islam. Mereka mencukupkan diri dengan satu buku kurikulum tarbiyah yang disusun Hasan Al-Banna, kemudian turun mengajari masyarakat dan menyalahkan ulama yang berbeda paham.

Ternyata temuan-temuan di atas bukanlah hal baru. Telah banyak buku ditulis tentang penyimpangan Ikhwanul Muslimin, tapi tidak menjadi perhatian kita semua.

Misalnya ada buku yang berjudul "Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin" yang ditulis oleh Andy Abu Thalib al-Atsari. Di antara yang digarisbawahi buku tersebut adalah aktivis tarbiyah tidak suka dengan pengembangan ilmu agama Islam. Iya karena mereka hanya mendsarkan pada satu buku panduan dan kurikulum Hasan al-Banna saja.

Hal ini diakui oleh aktivis ikhwan sendiri, dalam buku berjudul "Al-Ikhwan Al-Muslimun Anugerah Alloh yang Terzalimi”. “Ikhwanul Muslimin tidak pernah secara khusus mendidik anggotanya menjadi ahli hadis atau ahli fiqih”.

Selain catatan di atas, Ahmad bin Yahya an-Najmi "Jam’u Asy-Syattaat fima Kutiba ‘an al-Ikhwan al-Muslimin" telah mengumpukan penyimpangan Ikhwanul Muslimin, berikut yang ingin saya garis bawahi:


  1. Bid’ah tahazzub (fanatik golongan).
  2. Mengkritik pemerintah kaum muslimin. 
  3. Sirriyyah (gerakan rahasia/bawah tanah) yang berjalan di atasnya manhaj Ikhwanul Muslimin.
  4. Sikap ta’ashshub (fanatik buta) mereka kepada para tokoh/pembesar Ikhwanul Muslimin.
  5. Sikap ta’ashshub terhadap buku-buku Ikhwanul Muslimin.
  6. Sikap ta’ashshub terhadap muhadharah-muhadharah (kajian-kajian) Ikhwanul Muslimin.
  7. Kerjasama di antara anggota mereka demi kemajuan manhaj Ikhwanul Muslimin.
  8. Mereka mentahdzir kitab-kitab yang berisi tahdziran terhadap Ikhwanul Muslimin.
  9. Sikap tasahul (meremehkan) menuntut ilmu syar’i. 
  10. Bernaungnya mereka di bawah manhaj taqiyyah dan bersumpah dengan dusta.
  11. Memprovokasi para pemuda untuk melakukan penggulingan kekuasaan.
  12. Berdakwah dengan tujuan utama untuk mendirikan kekhilafahan.
  13. Sangat bersemangat untuk mengumpulkan para pemuda di bawah kaidah-kaidah batil mereka.
  14. Mereka berkeyakinan bahwa kelompok/organisasi merekalah yang paling utama di antara seluruh kelompok yang ada.
  15. Mereka menganggap bahwasanya dakwah tidak akan bisa berhasil kecuali dengan bergabung bersama mereka.
  16. Memanfaatkan beberapa lembaga resmi negara untuk kepentingan organisasi mereka.
  17. Menyanjung-nyanjung para tokoh mereka dan berlebihan di dalam memujinya.
  18. Permusuhan mereka terhadap para muwahhidin salafiyyin.
  19. Memilih orang-orang yang cerdas untuk menjadi sasaran doktrin mereka.
  20. Mengambil fatwa-fatwa ulama yang mencocoki hawa nafsu mereka.
  21. Kehancuran dan kekacauan di Negara Negara Islam seperti Syria, Lybia, Mesir tidak lepas dari kiprah Ikhwanul Muslimin. Jaringan aktivis ini adalah jaringan penyebar kebencian yang paling efektif di Negara-negara muslim.


Merekalah aktor paling utama dalam penyebaran hoax dan anti pemerintah di Indonesia. HTI, FPI sebenarnya hanyalah topeng yang dipakai.

Aktivis tarbiyah kampus menutupi penyimpangan itu dengan penampilan yang manis: prestasi di kampus, dan shalat tepat waktu. Tapi pada saat yang sama adalah gemar menyebarkan hoax dan fitnah kepada ulama' dan pemerintah sendiri. Apa gunanya memiliki generasi yang pintar tapi memusuhi dasar negara, membenci ulama', dan tidak mau bershalawat dan bermaulid untuk Nabinya.

Adalah sangat nyata: tab’id, pergantian pemerintahan dan ujungnya khilafah adalah core kaderisasi dan ciri dari para aktivis tarbiyah. Apakah realitas yang gamblang ini tidak diketahui negara? Banyak mahasiswa menjadi korban karena dakwah IM yang mendominasi kampus-kampus Indonesia.

Solusinya adalah hanya dua (1) mengakhiri dominasi ikhwan di kampus dan (2) mengaktifikan dakwah ahlus sunnah wal jamaah yang toleran dan cinta tanah air di kampus. Baca: Benalu Gerakan Ikhwanul Muslimin di Negara-negara Muslim.

Hal ini bisa ditempuh antara lain (1) melarang penggunaan fasilitas kampus (LDK, masjid, UKM) untuk penyebaran ideologi ikhwan; (2) menghapuskan kegiatan mentoring atau asistensi agama Islam (ini sudah dilakukan UGM); (3) menyelamatkan LDK dengan membuatkan kegiatan yang berhaluan ahlus sunnah waljamaah dan cinta tanah air sehingga tidak memberi kesempatan kepada kelompok luar untuk mengatur kehidupan mahasiswa di kampus. (4) Kampus bersama NU dan Muhammadiyah aktif berdakwah dengan Islam yang rahmatan lil alamin kepada mahasiswa.

Sampai saat ini tidak ada langkah yang efektif dari mendiknas dan rektor untuk mengatasi radikalisme di kampus itu sampai tuntas, selain hanya penggunaan jargon-jargon anti radikalisme. Sementara tarbiyah Ikhwanul Muslimin terus melakukan kaderisasi, merekrut pemuda yang labil, mendakwahkan paham sesatnya, dengan anggaran dan fasilitas kampus.

Kebijakan rektor asing yang akan dilakukan hanya akan menambah radikalisasi PTN semakin tak terkendalikan.

Bagaimanapun buruknya rektor domestik dia masih bisa diajak peduli dengan keadaan tanah airnya. Sedangkan rektor asing tidak akan berani mengambil tindakan terhadap radikalisme kampus karena takut diserang dengan isu agama.

Bila tidak ada tindakan yang serius, maka bangsa ini akan menyaksikan benturan kader dakwah tarbiyah Ikhwanul Muslimin dengan Negara dan umat Islam Indonesia. Dan saat itu mereka sudah menguasai institusi-institusi Negara melalui kader-kadernya sebagai jebolan perguruan tinggi. Apakah kita siap menghadapi masa itu?

Kita memohon pertolongan kepada Alloh semoga Alloh memberikan hidayah kepada kita semua termasuk kepada kader dakwah agar bisa meluruskan akidahnya dan kembali kepada aqidah salafus sholeh dan kembali pada cinta tanah air, Pancasila dan NKRI sebagai rahmat Alloh untuk kita semua.

Perkenankan saya mengutip cerita yang ditulis oleh Pak Rahmat Abdullah salah satu tokoh ikhwan di Indonesia, idola para penggerak dakwah IM, karena sejatinya message moral cerita lebih tepat untuk para penggerak dakwah IM itu sendiri:

“Suatu saat seorang sahabat shalat dengan bertakbir jauh dibelakang shaf. Perlahan ia maju ke depan. Usai shalat beliau bertanya: ‘mengapa kamu shalat dengan cara seperti itu?” Orang itu menjawab, “Saya khawatir ketinggalan rakaat bersamamu, ya Rasul.”. Sangat mengejutkan jawaban edukatif beliau, “Semoga Alloh menambahkan semangat beramalmu, tetapi jangan engkau ulangi lagi cara itu” (Kekuatan Sang Murabbi, hlm. vii)

Aktivis dakwah, semoga Allah menambah semangat beramalmu, tapi tambahlah ilmu, kembalilah kepada ajaran ulama salafus sholeh, cintailah nabimu, aulia, ulama, habaib, sholawat, bangsamu dengan bimbingan para ulama bersanad.

Jangan sampai organisasi yang didirikan untuk memajukan negara Islam, justru menjadi penghancur umat Islam sendiri karena nafsu politik yang terlalu tinggi dan memandang benar diri sendiri. Apakah tidak cukup contoh kehancuran yang ditimbulkan aktivis negara-negara Islam seperti Syria, Lybia dan Mesir? [dutaislam.com/ab]

Dr. Abdul 'Alim, peneliti Pusat Kajian Deradikalisasi di Perguruan Tinggi.

Artikel ini dimuat pertama oleh Alif.id dengan judul "Menanti Benturan Berikutnya antara Negara dan Umat Islam dengan Ikhwanul Muslimin". 

close
Banner iklan disini