Wajah Baru Santri di Era Revolusi Industri 4.0
Cari Berita

Advertisement

Wajah Baru Santri di Era Revolusi Industri 4.0

Duta Islam #02
Minggu, 28 Juli 2019

Peringatan hari santri. (Foto: Antara)
Oleh Agus Imam Mahrozi

DutaIslam.Com - Siapa yang tidak kenal istilah “santri”? Kata santri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti melek huruf, yaitu orang yang berusaha mendalami kitab-kitab yang ditulis dalam Bahasa Arab. Dahulu, santri dikenal sebagai orang yang kolot, gagap teknologi, dan hanya paham agama. Namun sekarang, santri mulai menampakkan dirinya sebagai orang yang modern dan mampu bersaing di dunia luar.

Saat ini, mulai marak pondok pesantren modern yang memadukan antara ilmu umum dan ilmu agama untuk mencetak kader-kader intelektual yang tetap menjunjung tinggi akhlak dan syariat. Selain itu, para kyai atau pengurus pondok juga gencar merekrut guru-guru yang mumpuni di bidang ilmu umum, termasuk di bidang teknologi.

Di beberapa pesantren, santri juga dilatih dengan keterampilan (misal: tata boga, otomotif, pertanian, dll) untuk menunjang kehidupannya di masa depan. Pesantren saat ini sudah mulai mampu bersaing dengan pendidikan-pendidikan umum. Bahkan beberapa alumni pesantren masuk ke dalam jajaran orang-orang yang berpengaruh di kancah nasional bahkan internasional, seperti Alm. Gus Dur yang pernah menjabat sebagai presiden dan Ma’ruf Amin yang menjabat sebagai wakil presiden saat ini.

Di era Revolusi Industri 4.0 ini, para santri dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai khas pesantren. Para santri dituntut untuk cerdas dalam menggunakan gadget. Memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang positif. Santri juga dihimbau untuk berhati-hati dalam berteknologi, mengingat akhir-akhir ini semakin marak hoax, ujaran kebencian, dan hal-hal negatif lainnya. Santri harus mampu memilah-milah mana yang layak ditonton, di-share, dan diaplikasikan. Karena sejatinya, teknologi yang muncul saat ini layaknya pisau bermata dua. Jika kita mampu menggunakan dengan baik, maka manfaat dan kebaikan yang akan muncul. Dan sebaliknya, jika kita tidak cerdas dalam menggunakannya, maka hanya madharat yang timbul. Untuk kedepannya santri harus terus menjadi pelaku sejarah, bukan hanya pembaca sejarah. Santri harus mampu mengambil peran sebagai lokomotif perubahan sosial demi kemaslahatan umat, bukan sekedar pendorong.

Munculnya akun-akun berciri santri di media sosial, seperti akun yang membagikan video ngaji, dawuh para ulama, dan lainnya, patut kita apresiasi bersama. Bahkan beberapa kiai hari ini sudah turun gunung tampil di media sosial guna menyebarkan Islam Ahlis Sunnah Wal Jamaah. Hal ini tiada lain untuk mengimbangi geliat belajar Islam anak muda yang bersumber dari internet kian hari kian banyak. Oleh sebab itu, dalam bidang ini santri harus mengambil peran lebih besar agar ketika membuka wawasan agama di internet dan media sosial, yang muncul adalah akun-akun santri dengan wajah indah para kiai. [dutaislam.com/gg]

Agus Imam Mahrozi, STAI Sunan Pandanaran, Yogyakarta.

close
Banner iklan disini