Percakapan Pak Heri Dengan SPG Membelikan BH Istrinya
Cari Berita

Advertisement

Percakapan Pak Heri Dengan SPG Membelikan BH Istrinya

Duta Islam #07
Senin, 01 Juli 2019

Fungsi bra wanita
Suami sayang istri. Foto: istimewa
DutaIslam.Com - Pak Heri adalah lelaki yang lembut hatinya. Dia sangat halus budi pekertinya dan mudah iba pada siapa saja. Tak hanya kepada sesama manusia, kepada kayawan pun dia penuh kasih sayang. Mungkin karena kebeningan kalbunya itu, Heri diberi anugerah istri yang cantik jelita. Dia menikah di usia 25 tahun, dengan gadis ayu yang saat itu berusia 22 tahun.

Kebiasaan bagus Heri adalah berbelanja kebutuhan rumah tangga. Termasuk pakaian untuk istrinya. Suatu kali dia punya rejeki, ingin membelikan kutang yang istimewa untuk istri tercinta.
Sebagaimana biasa, dengan sangat lembut Heri mengelus pipi istrinya. Lalu dengan lembut pula membuka kancing baju istrinya itu. Sambil membisikkan keinginannya itu, dia copot kutang istrinya.

Dua tangannya pun dipakai untuk memegang penuh payudara istrinya itu. Kali ini tidak untuk meremas-remas, tapi hanya untuk membuat ukuran seberapa besar buah dada sang Permaisuri.
Klop. Pas, didapatlah ukuran dengan dua telapak tangannya itu. Maka dia pun menyuruh istrinya menutup lagi bagian mulus dan kenyal dari tubuhnya itu. Pak Heri langsung berpamitan keluar rumah.

Dia pun menyuruh sopirnya membukakan pintu mobil, sebab dua tangannya sudah kadung membentuk tangkup sesuai ukuran payudara istri. Sepanjang jalan menuju Mall, tangan Heri tetap konsisten ke bentuk awal dia berangkat. Dan dia berusaha terus menjaga posisi tangannya agar jangan sampai berubah.

Baca: Tangan Suami Harus Memegang Punya Istri

Sampailah dia di dalam Mall. Berjalan cepat hendak langsung ke toko penjual kutang. Maunya langsung mengambil kutang yang sesuai tangkupan dua tangannya itu. Namun kebetulan sebelum sampai toko Bra, ada seorang kawan lamanya menepuk pundaknya. "Hei, Her. Kenapa kau terburu-buru jalan begitu. Ayo kutemani," sapa teman lawasnya itu. Ditepuk pundak kanannya, lepaslah tangkupan tepalak tangannya. Apalagi dia langsung diajak salaman oleh si teman. Tangan kirinya juga buyar dari posisi mekrok tadi.

"Waduh, bubar ini acaraku membelikan kutang istimewa," gumam dia.
Setetah berbasa-basi sebentar dengan temannya dia meminta pamit untuk berbelanja dan tak mau ditemani. Sampai di toko penjual BH, dia jadi bingung. Diamat-amati semua kutang yg dipajang. Dia berusaha mengingat-ingat bentuk payudara istrinya dan membayangkan ukuran yang pas untuk dibelinya.

Dia coba memegang-megang BH yang model mekrok, yang ada kawat penyanggganya, diusahakan tangannya persis seperti tadi saat berangkat. Namun sekian banyak kutang dipegang, Heri tak mantap membeli yang mana. Dia ragu, apakah yang sudah dia pegang-pegang itu pas sesuai ukuran payudaya istrinya atau tidak.

(Melihat ada lelaki bingung, SPG salah satu merk BH menghampiri).
SPG : "Maaf, Pak. Apa bapak butuh bantuan? Barangkali saya bisa bantu," ucap si pramuniaga ramah.

Heri : "Eh.. iya. Saya mau membelikan BH yang terbaik, atau yang termahal untuk istri saya. Tapi saya lupa ukurannya,"

SPG : "Bapak tinggal sebutkan saja ukurannya berapa, itu ada nomor 32, 34, 36, 38. Masing-masing ada tingkatannya dengan label A atau B. Nanti saya ambilkan dan bapak tingggal pilih yang cocok,"

Heri : (dengan polosnya Heri menjawab pertanyaan SPG) "Wah. Saya tidak tahu ukuran dengan nomor seperti itu. Tadi saya mengukurnya langsung dengan cara mengecapkan telapak tangan saya ke payudaya istri saya. Tiba-tiba tadi ketemu teman, saya diajak salaman. Jadi ukuran saya hilang."

Fakta Suami Sayang Istri


SPG :  "DIkira-kira saja Pak. Barangkali ukuran BH untuk istri bapak sama dengan contoh yang kami punya," (Sambil menahan ketawa karena geli, dan berusaha bersikap tetap profesional).

Heri : "Terima kasih. Tadi saya sudah mengira-ngira. Sudah banyak yang saya pegangi, tapi saya belum mantab apakah pas untuk istri saya atau tidak,"

SPG : "Ehmm.....wah.. mohon maaf pak. Bagaimana kalau istri bapak ditelpon saja biar datang langsung ke sini. Pasti beliau lebih puas bisa memilihnya,"

Heri : "Lha wong saya ini sengaja mau membelikan hadiah untuk istri saya kok. Kalau saya ajak ke sini ya tidak ada unsur kejutannya lagi dong,"
"Begini saja, dengan segala hormat saya mohon ijin membuat ukuran baru. Mohon maaf, bukan maksud melecehkan, saya hanya memohon kerelaan untuk saya pegang buah dada Anda. Saya tidak akan melihatnya kok. Saya akan memejamkan mata saat memegang. Dengan merem, saya bisa kok membayangkan payudara istri saya, sehingga saya bisa menyesuaikan yang pas dengan cara memegang payudara Anda. Sekali lagi, dengan segala hormat saya mohon ijin Anda. Jika perlu membayar, saya bayar Anda nanti," (wajah memelas dan menundukkan kepala seraya mentakupkan kedua telapak tangan meberi hurmat tabik ala Pencak Silat).

SPG : (bingung. Tolah-toleh kepalanya hendak mencari orang lain untuk diminta pertimbangan. Tapi semua orang di sekitarnya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Teman-temannya sesama SPG tak ada yang tidak sibuk.

Lalu dia amati lekat-lekas wajah lelaki di depannya itu. Dia lihat rona muka Heri bukan seperti penjahat. Tak tampak olehnya wajah durjana yang suka melecehkan wanita. Tak ada aura mesum pada lelaki itu. Dia cukup percaya ketulusan permintaan Heri. Ia juga terkesan dengan cintanya lelaki itu pada istrinya, sampai mau membelikan kutang, itu jelas pria yang luar biasa. Sangat langka ada suami mau membelikan BH untuk istirnya.

Baca: Kisah Istri yang Curigai Suaminya Selingkuh

Di sisi lain dia juga jengah. Bagaimana mungkin payudaranya mau dipegang oleh lelaki yang bukan suaminya. Walau dia bisa minta ganti rugi dan Heri tadi sanggup membayarnya, tapi harga dirinya di mana? Berkecamuk pikirannya. Antara mengiyakan atau menolak, antara membantu customer atau mempertahankan kehormatan diri.
(Lama dia berpikir, sampai konsumennya itu bertanya).

Heri : "Bagaimana mbak. Sy mohon Anda berkenan membantu saya. Jika mbaknya sudah punya suami, ijinkan saya menelepon beliau untuk meminta persetujuannya. Saya yakin beliau bisa mengerti posisi saya, toh tidak ada niat melecehkan atau menikmati tubuh Anda".

SPG : "Waduh. Gimana ya pak,saya bingung ini. Saya tidak pernah diberi pelatihan melayani pelanggan sampai hal yang demikian," (wajah yang semakin panik).

Heri : "Begini saja mbak. Agar tidak malu, masuklah ke bilik pas itu. Masuk seolah sedang mencoba BH, lalu saya akan memasukkan tangan saya merogoh melalui kain di bilik itu. Jadi saya pastikan hanya telapak tangan saya yang menyentuk Anda. badan saya tetap tidak akan menempel sampeyan. Cukup 10 detik saja kok. Mau ya.. Saya ganti rugi nanti seharga dua kalinya harga BH yang nanti saya beli," (sambil membujuk dan terus mengiba-iba).

Pandangan matanya tampak sayu, tampak sedih hampir seperti mau menangis. Dia sangat ingin menyenangkan hati istrinya, dan satu-saunya harapan hanya kerelaan SPG untuk dipegang payudaranya sebagai ukuran.

SPG : Semakin mumet. Dia amat panik menghadapi situasi itu. Sama sekali ia tak tertarik iming-iming bayaran ganti rugi itu. Dibayar 10 kali harga BH pun dia tak mau. Tapi di hadapannya kini, Heri benar-benar seperti anak kecil yang mau purik. Ngambek alias mau mutung.
Dalam kegugupanya dia sampai membayangkan Heri akan duduk kosel-kosel merengek minta dituruti keinginnannya. Namun akal warasnya masih ngganduli, agar tidak akan pernah mengijinkan siapapun yang tiada hak untuk memegang-megang bagian dari tubuhnya. Apalagi bagian sangat vital yang bersifat sangat pribadi.

Menit-demi menit berlalu, Heri terus meminta kesediaannya, sementara SPG susah menuruti. Sampai akhirnya muncul ide di benaknya.

SPG : "Yess. Sip. Ini ide jitu kayaknya," matanya berbinar sambil menggumamkan kalimat itu.

Heri : Apakah idenya itu? Apakah menjadi jalan keluar dari kebuntuan situasi itu? Bagaimana solusinya?
Tidak diketahui bagaimana detailnya, yang jelas Heri pulang dengan perasaan puas membawa bungkusan berisi BH bermerk luar negeri.

"Wahai istriku sayang. Aku segera pulang. Kuharap engkau jangan pakai kutang, sebab aku yang akan memakaikan kutang baru ini di dadamu. Akan kupasang sendiri sambil memeluk mesra dirimu, dari depan dan belakang," ujar batin Heri saat menyuruh sopirnya menjalankan mobil. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini