PA 212 Ungkap FPI Ternyata Sudah Punya Devisi Penegakan Khilafah di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

PA 212 Ungkap FPI Ternyata Sudah Punya Devisi Penegakan Khilafah di Indonesia

Duta Islam #03
Jumat, 19 Juli 2019

Pelaksana Tugas PA 212 Asep Syarifudin (paling kiri) dalam diskusi yang digelar di Gedung Joeang 45, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/07/2019). Foto: Suara.com.
DutaIslam.Com - Kekecewaan kelompok PA 212 atas pertemuan Prabowo dan Jokowi di Stasiun MRT Lebak Bulus beberapa waktu lalu membuka kedok misi sesungguhnya Front Pembela Islam (FPI). Hampir se wajah dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), FPI diduga punya cita-cita penegakan khilafah di Indonesia.

Cita-cita makar organisasi Pimpinan Habib Rizieq Shihab ini diungkapkan Pelaksana Tugas PA 212 Asep Syarifudin dalam diskusi yang digelar di Gedung Joeang 45, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/07/2019).

Asep mengungkapan, FPI sendiri kekinian sudah mempunyai Divisi Penegakan Khilafah dan konsep khilafah telah diajarkan di FPI. "Saya pelajari konsepsi ikhwanul muslimin, Hizbut Tahrir. Kalau FPI itu ada Ketua Penegakan Khilafah. JAT, Jamaah Anshorus Syariah juga ada perjuangan penegakan Khilafah," kata Asep, dikutip dari Suara.com.

Bagi Asep yang juga setuju dengan penegakan khilafah, sistem khilafah adalah solusi. Sementara sistem demokrasi di Indonesia kekinian dianggap hanya bisa melindungi masyarakat, tapi tak aman bagi kedaulatan agama.

"Demokrasi, sistem itu kalau dalam melindungi masyarakat iya, tapi untuk konteks mengamankan kedaulatan agama, belum tentu," ujarnya.

Asep pun sangat berharap khilafah bisa tegak berdiri di Indonesia pada 2024. Selain banyak organisasi-organisasi berbasis Islam yang memiliki divisi penegakan khilafah, Asep juga menilai kalau khilafah bagian dari syariat Islam. Sedangkan yang menolak khilafah, dianggap telah menodai agama.

"Harapan saya 2024 khilafah tegak di Indonesia. Khilafah itu adalah syariat Islam. Kalau menolak khilafah itu artinya menolak syariat Islam, itu penodaan agama,” ujar Asep.

Pada kesempatan yang sama, Asep sempat memberikan pernyataan mengenai pertemuan dan ucapan selamat Prabowo ke Jokowi yang berlangsung di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/07/2019) lalu. Asep menilai, pertemuan tersebut bentuk pengkhianatan Prabowo. Dengan pertemuan itu, kata Asep, Prabowo berarti mengabaikan aspirasi umat, termasuk PA 212.

PA 212 dan sejumlah ulama pada Pilpres 2019 mendukung Prabowo pada Pilpres 2019 karena dinilai bisa membela dan mengakomodasi kepentingan mereka. Sementara Jokowi diidentifikasi oleh PA 212 dan kelompok semacamnya sebagai sosok yang anti-ulama.

"Jadi, kalau Prabowo berkomunikasi (dengan Jokowi), menurut saya ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap aspirasi umat dan rakyat," ungkap Asep  masih dikutip dari Suara.com.[dutaislam.com/pin]



close
Banner iklan disini